Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Malam pertama


__ADS_3

Terimakasih karena masih setia membaca novelku ini.


Jangan lupa like, komen dan share ya...Yang mau vote juga boleh kok 😁


Kalo sempat mampir juga ya ke novel author yang lain, judulnya Finding my husBAND, menceritakan perjuangan seorang gadis demi membentuk sebuah band idola hingga akhirnya terjebak di antara cinta kelima personelnya, udah masuk Bab 17 lho ✌️


Terimakasih...Happy reading 😘



 


Pagi itu aku dan Riri telah selesai memesan undangan dan membuat baju pernikahan kami, setelah itu kami menuju rumah Paman dan Bibi untuk memberitahukan mereka tentang kabar gembira ini.


"Wah, jadi kalian mau nikah? akhirnya keponakan Bibi kesampaian juga ya menikahi Riri, kemarin dia banyak bengong lho setelah pisah sama kamu Ri." Kata Bibi.


"Selamat ya Dit, Ri, Paman ikut senang, maaf juga ya kejadian waktu lamaran dahulu Paman nggak bisa nahan emosi, kini Paman sudah tahu semua kebenarannya dari Yanti." Ucap Paman.


"Iya Paman, lupakan saja cerita yang lalu." Kata Riri tersenyum.


"Iman dan Jessica kuliah ya Paman?" Tanyaku.


"Iya Dit."


"Kalau begitu sampaikan salam kami pada mereka ya." Sambungku.


Persiapan hari itu telah selesai, yang tersisa hanya tinggal membeli bahan batik untuk seragam keluargaku dan Riri, karena catering dan pelaminan sudah di urus oleh Bapak dan Ibu dengan bantuan keluarga Reni yang ada di Jakarta.


Tak terasa satu Minggu telah berlalu, Semua persiapan sudah selesai, undangan pun telah selesai di cetak, hari itu Riri, Bams dan Pak Iwan pamit untuk kembali ke Jakarta dan membawa undangannya untuk di sebarkan di sana, Barulah seminggu kemudian aku dan keluarga akan menyusulnya untuk melangsungkan pernikahan yang akan di gelar di rumah mempelai perempuan.


"Hati-hati di jalan ya sayang, Pak Iwan jangan ngebut-ngebut ya, aku titip calon Isteriku." Kataku pada Pak Iwan.


"Iya Nak, Bapak akan sangat berhati-hati menjaga calon pengantin." Kata Pak Iwan.


"Kamu juga jaga kesehatan sayang, jangan sampai sakit, kalau begitu kami pamit ya." Ucap Riri dan kemudian mereka pun kembali ke Jakarta.


Hari pernikahan semakin dekat, membuat jantungku berdegup kencang, tak pernah kusangka aku akan menikah dengan Riri, aku sangat senang bisa berjodoh dengannya, dengan semua rintangan yang kami lalui selama ini.


Malam itu aku kembali bekerja di cafe, semua pengunjung tampak senang melihatku lagi, terutama keempat gadis yang biasa menyebut diri mereka dengan fans Adit. Selesai bekerja keempat gadis itu pun menghampiriku.


"Kak Adit kemana aja? Kami kangen tau?" Kata salah satu dari mereka.


"Eh kalian, sekarang tinggal berempat ya, Sarah bagaimana kabarnya?" Tanyaku.


"Sarah baik Kak, setiap hari kami selalu menghubunginya, dia menitipkan salam untuk Kakak."


"Baguslah kalau begitu, Kakak sebentar lagi tak akan bekerja di sini, karena akan menikah dan menetap di Jakarta, Malam ini dan beberapa hari kedepan Kakak sengaja datang bekerja untuk berpamitan pada para pengunjung yang selama ini menantikan pertunjukan Kakak, termasuk kalian."


"Wah, Kakak mau nikah? Nikahnya di Jakarta?" Tanya mereka.


"Iya..."


"Boleh kami ikut mendampingi Kakak?"


"Boleh saja jika kalian mau, tapi mobilnya mungkin tak akan cukup." Jawabku.

__ADS_1


"Tenang saja Kak, kami ada mobil sendiri kok."


"Baiklah jika begitu, lima hari lagi kalian datang ke rumah ya, besok Kakak akan membawa bahan seragam untuk kalian." Kataku.


Hari keberangkatan kami ke Jakarta pun tiba, kami sengaja berangkat sehari lebih cepat karena tak mungkin jika berangkat pada tanggal pernikahan, sesampainya di Jakarta kami menuju rumah tempat tinggalku dahulu, di sana tampak Mbok Yem, Bams dan Ibu Panti menyambut kami.


"Wah Mbok Yem apa kabar Mbok?" Kataku ketika melihatnya.


"Baik Nak, Mbok kangen sekali padamu, Pay dan Tiwi, sepeninggal kalian rumah ini menjadi sangat sepi." Ucap Mbok.


"Tambah tua aja Mbok." Sahut Pay menggodanya.


"Dit terimakasih ya, karena kalian Doni akhirnya bisa tertangkap, mendiang Slamet pasti senang mendengarnya di sana." Sambung Ibu Panti.


"Iya Bu, anak-anak kemana Bu, tidak ikut kesini?" Tanyaku.


"Anak-anak ada di Panti." Jawab Ibu.


Aku dan rombongan pun beristirahat karena lelah dalam perjalanan tadi, malam harinya Aku, Pay dan Bams berbincang di teras.


"Bos berangkat yuk." Kata Bams.


"Ke mana Bams?" Tanyaku.


"Pesta bujang, besok kan bos sudah nikah." Katanya.


"Wah nggak Bams makasih, kamu saja sana sama si Pay."


"Ogah gw, kapok." Sahut Pay.


Tak lama terdengar ponselku berbunyi, ternyata itu panggilan dari Riri.


"Kenapa? Kamu tegang ya menghadapi hari esok." Tanyaku.


"Iya sayang, tadinya Riri mau kesana ketemu Adit, tapi di larang, katanya calon pengantin harus di pingit nggak boleh ketemu dulu." Kata Riri tampak kesal.


"Sudah kamu sabar saja, besok juga kan kita ketemu, lagian setelahnya kamu bisa ketemu setiap hari sama aku."


"Iya sayang, wah seneng deh ngebayanginnya, kamu sendiri belum tidur?"


"Aku juga nggak bisa tidur, untung saja ada Bams dan Pay yang menemani."


"Aku juga lagi di temani Reni kok."


"Oh ada Reni toh, tolong bilang sama Reni tadi Bams ngajak aku pesta bujang lagi lho."


Aku menoleh ke arah Bams, dia tampak ketakutan, tak lama Reni menghubunginya melalui ponsel, aku dan Pay hanya tertawa melihatnya terus menerus meminta maaf melalui telpon.


"Bos tega banget." Ucap Bams ketika selesai menelpon.


"Maaf Bams, aku cuma bercanda, tapi kalian udah baikan kan?" Tanyaku.


"Udah bos, hampir saja aku di putusin Reni, untunglah aku bisa meyakinkannya." Kata Bams lagi.


"Payah, kalau gw jadi Reni sih gw putusin tanpa pikir panjang." Sambung Pay.

__ADS_1


Malam itupun berakhir, hingga tibalah hari yang di nantikan, kami semua sudah bersiap menuju rumah Riri pagi itu, sesampainya di sana tampak suasana begitu ramai menyambut rombongan kami, aku menunggu di tempat yang sudah di siapkan untuk melangsungkan akad pernikahan, Pak Penghulu pun telah duduk di hadapanku.


Kami tinggal menunggu Riri yang belum selesai di dandani, dadaku berdegup kencang sebelum Akad itu terlaksana, suasana bahagia begitu terasa hari itu, bukan hanya aku, tapi keluarga dari kedua belah pihak pun kelihatan sangat berbahagia.


Tiba saatnya Riri keluar dari dalam rumah dengan di temani Reni, Riri sangat cantik dengan kebaya putih yang dikenakannya, dia tersenyum padaku, akhirnya hari yang aku nantikan selama ini sedang berlangsung. Akad nikah pun di langsungkan, tampak Pak Penghulu memimpin do'a hari itu dan diikuti oleh para tamu yang hadir.


"Sah...!!!" Tanya pak penghulu kepada para saksi dan tamu undangan.


"Saaaaaaah." Jawab mereka serentak, terdengar suara Bams dan Pay yang berteriak paling keras pagi itu.


Rasa syukur kami panjatkan hingga akhirnya kami naik ke pelaminan, Aku di dampingi Bapak dan Ibu yang duduk di sebelahku, sedangkan Riri di dampingi oleh Ayah dan Ibu Reni sebagai walinya.


Kami menerima semua tamu yang hadir hari itu, begitu banyak orang yang datang, bukan hanya dari kalangan teman dan saudara kami, tapi juga dari rekan bisnis Papa dan para karyawan perusahaan tempatku bekerja dulu.


Banyak karangan bunga yang di kirim hari itu, tercantum nama-nama perusahaan besar di sana, karena mereka sadar betul, bahwa setelah ini aku akan melanjutkan kepemimpinan Papa sebagai pengusaha paling berpengaruh di Negeri ini.


"Bos, bos, mantap bos, malam pertama bos." Ucap Bams dari bawah pelaminan hari itu.


"Apaan sih kamu, bikin malu aja." Kata Reni yang menarik kuping Bams dan membawanya kembali duduk.


Kami tertawa melihat tingkah mereka, aku melihat sekeliling, tampak Rai sedang berbincang dengan Pay, Kak Sinta juga ada di sana bersama Pak Dokter, aku harap mereka semua bisa menyusulku kelak, merasakan indahnya hari pernikahan, duduk bersama orang yang kita cintai dan di saksikan oleh banyak orang.


Riri menggenggam tanganku sepanjang hari itu, sesekali dia tersenyum ketika aku menoleh ke arahnya, tak terasa lelah selama pernikahan berlangsung, hanya rasa bahagia yang kami rasakan saat itu.


Malam hari pun tiba, acara pernikahan pun telah selesai, aku masih berbincang dengan keluargaku di luar rumah, sedang Riri beristirahat di dalam kamar.


"Wah mantap A, pasti cape ya, tamunya banyak banget tadi." Kata Iman.


"Iya Man, baru berasa nih pas acara selesai, kalau tadi sih nggak kerasa karena terlalu senang dengan acara pernikahan."


"Memang seperti itu Dit, tapi kamu harus kuat, kan malam ini malam pertama kamu." Sambung Paman sambil tertawa.


"Kalau begitu ayo kita kembali ke rumah, kasihan pengantin, pasti mereka sudah tak sabar untuk malam pertama mereka." Kata Ibu menggodaku.


"Kalian semua berangkat ke Bandung besok pagi?" Tanyaku.


"Iya Nak." Kata Ibu lagi.


"Kalau begitu besok pagi aku ke rumah sana ya bersama Riri, aku akan menelpon Mbok Yem agar menyiapkan sarapan untuk kalian besok pagi sebelum kembali ke Bandung." Kataku.


Tak lama rombongan keluargaku pun pamit untuk pulang, malam ini mereka menginap di rumahku dahulu dan akan kembali ke Bandung esok paginya.


Aku pun berjalan masuk ke kamar pengantin, tampak di sana Riri sudah menungguku, dia duduk di atas ranjang itu, kemudian aku duduk di sebelahnya. Kami sama-sama terdiam karena malu, aku tak tahu harus berbuat apa di malam pertama kami.


"Sayang, kalau malam pertama itu biasanya ngapain sih?" Tanya Riri membuka pembicaraan.


"Salto di atas kasur." Jawabku.


"Salto? Iiih Adit, aku kan serius." Ucap Riri.


"Aku juga nggak tau, mungkin seperti ini..."


Aku merebahkan Riri di atas kasur, dan kemudian membelai tubuhnya, aku menciuminya malam itu, baru saja aku akan membuka pakaian yang di kenakannya tiba-tiba.


"Sayang kamu mandi dulu gih, bau keringet tau, aku sudah mandi tadi." Kata Riri.

__ADS_1


"Bau ya, maklum sayang seharian kita jadi pajangan di pelaminan tadi, kalau gitu tunggu ya, aku mandi dulu." Kataku sambil mencium keningnya.


Aku pun membersihkan diri di kamar mandi yang berada dalam kamar itu, setelah selesai aku kembali pada Riri, tampak Riri sudah tertidur pulas di atas kasur, aku hanya tersenyum sambil memakai kembali pakaianku, aku sama sekali tak marah melihatnya tertidur lebih dahulu, karena pasti dia sangat kelelahan oleh acara tadi, hingga akhirnya aku ikut tertidur di sebelahnya.


__ADS_2