Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Tegar


__ADS_3

Akhirnya aku dan Pay telah sampai di rumah, tampak Tiwi tak sadarkan diri dan berada dalam gendongan Ibu, kami pun dengan segera membawanya ke Rumah Sakit.


Setelah di Rumah Sakit Dokter mengatakan bahwa Tiwi kini tengah mengalami gagal ginjal kronis, dan mau tidak mau dia harus melakukan transplantasi ginjal, aku menanyakan berapa biaya untuk melakukan operasi itu, Dokter berkata biayanya adalah sekitar Rp 400.000.000, itu pun harus menunggu pendonor yang cocok untuk Tiwi.


Aku terdiam di hadapan Dokter itu, bagaimana tidak, darimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, akhirnya Dokter itu memberikan sedikit keringanan untuk kami, dia bilang dia memberi waktu 3 hari untuk membayar sekitar 30% dahulu sambil Tiwi mendapatkan perawatan, sedangkan sisanya ketika Tiwi tengah mendapat pendonor yang cocok dan akhirnya melakukan operasi, tapi tetap saja aku bingung darimana mendapat uang sebesar Rp 120.000.000 dalam waktu 3 hari.


Aku keluar dari ruangan Dokter itu dan menuju ke kamar tempat Tiwi mendapatkan perawatan, sesampainya di sana aku memberitahukan hal ini kepada Ibu dan yang lainnya, tentu saja mereka terkejut mendengarnya.


"Kalau begitu biarlah aku mencuri lagi malam ini, aku akan mencari uang itu." Kata Pay dengan air mata yang masih membasahi Pipinya.


"Jangan Pay, kita pasti bisa temukan solusi yang lebih baik." Jawabku.


"Tapi darimana Dit, biarlah itu jadi tanggung jawab gw sebagai Kakaknya Tiwi."


"Bang Pay sekarang kita ini kan keluarga, jangan mengambil keputusan sendiri seperti itu." Ucap Rai membuat Pay terdiam.


"Kalau gitu kita jual saja rumah kita." Kata Ibu.


"Ta..Tapi Bu, itu rumah peninggalan Ayah, jangan Bu, biar kita cari jalan lain." Kataku.


"Tidak apa-apa anakku, Tiwi sudah Ibu anggap seperti cucu Ibu sendiri, lagipula darimana kamu akan mendapat uang sebanyak itu." Kata Ibu.


Ibu benar, mana mungkin aku mendapat uang sebanyak itu dengan pekerjaanku yang sekarang, bahkan dengan mengamen beberapa tahun pun belum tentu aku dapat mengumpulkannya, akhirnya aku dan Rai menyetujui saran dari Ibu.


Melihat itu Pay menangis dan memeluk Ibu, dia mengucapkan sangat berterimakasih dengan pengorbanan yang kami lakukan, tak lama Tiwi tersadar dari pingsannya dan melihat kami yang sedang menangis.


"Aku dimana? Kenapa kalian semua menangis." Ucap Tiwi.


Kami pun menghampiri Tiwi yang saat itu masih terbaring.


"Tiwi sekarang di Rumah Sakit, tapi tenang saja sebentar lagi Tiwi akan sembuh kok." Jawabku.


Tiwi tersenyum pada kami, sedangkan kami merasa semakin sedih melihat senyumannya itu, tak lama tanpa kami sadari ternyata ada seorang anak laki-laki kecil yang berdiri di dekat kami.

__ADS_1


"Kak...Kak, dia sakit apa." Kata anak itu sambil menarik celanaku.


"Kamu siapa Dik?" Tanyaku yang terkejut melihatnya.


"Namaku Tegar Kak." Kata anak itu.


"Hihi lucu kepalanya botak, aku Tiwi." Kata Tiwi yang melihat anak itu.


Akhirnya Tiwi pun berkenalan dengan anak itu, lalu aku dan Ibu pamit untuk menyiapkan surat-surat tanah karena kami akan menjual rumah kami, sedangkan Pay dan Rai tetap di Rumah sakit untuk menemani Tiwi bersama anak kecil yang bernama Tegar itu.


"Surat sudah lengkap, tapi masalahnya kita akan menjual rumah ini kepada siapa." Kata Ibu.


"Tenang Bu, di jaman sekarang semua serba canggih, aku akan menaruh iklan secara online." Kataku.


Aku pun memfoto rumahku dengan menggunakan ponsel Rai yang kubawa dan menaruh iklan secara online.


Benar saja, baru 1 jam aku memasang iklan itu telah banyak pesan masuk yang menanyakan mengenai penjualan rumahku.


Akhirnya aku menemukan seorang calon pembeli yang kelihatannya sangat serius ingin membeli rumah kami dan meminta untuk bertemu besok, tak lama ponsel Rai kembali berbunyi dan itu ternyata dari Iman.


"Rai nya di Rumah Sakit Man, ada perlu apa sama Rai? biar nanti aku sampaikan."


"Aku mau menanyakan tentang kuliah A, ngomong-ngomong siapa yang sakit A?" Tanya Iman lagi.


Aku menceritakan keadaan yang kami alami pada Iman, dia pun berkata bahwa besok akan ke Rumah Sakit untuk menjenguk Tiwi, sekalian mengecek kehamilan Jessica, katanya.


Setelah menemukan calon pembeli aku dan Ibu kembali ke Rumah Sakit pada sore harinya, sesampainya di sana tampak Tiwi sedang tertawa riang dengan anak lelaki bernama Tegar itu, walau Tiwi masih terbaring di ranjang Rumah Sakit, syukurlah ada anak itu yang membuat Tiwi melupakan apa yang sedang dialaminya.


"Eh Tegar masih di sini, kamu nggak di cari Papa-Mamamu?" Tanyaku.


"Nggak Kak, aku memang tinggal di sini kok." Jawab Tegar sambil tersenyum.


"Tinggal di sini?" Tanyaku.

__ADS_1


Tak lama ada seorang Suster yang ternyata sedang mencari Tegar, dia memarahi anak itu dan menyuruhnya untuk kembali ke ruangannya.


"Suster, tunggu." Kataku memanggilnya.


"Iya Pak, ada apa?" Tanya Suster itu.


"Apa Tegar itu pasien di sini juga?"


"Betul Pak, anak itu sudah dua bulan berada di sini."


"Anak itu sakit apa Sus?"


Suster itu pun bercerita bahwa dua bulan yang lalu ada pasangan Suami-Istri yang membawa anaknya dalam keadaan tak sadarkan diri, mereka sangat terkejut ketika anaknya di vonis sakit Kanker otak stadium akhir, karena tak punya biaya dan mempunyai banyak anak mereka berkata akan pergi dulu untuk mencari uang, tapi sampai saat ini mereka tak kunjung kembali, karena merasa Iba pada nasib anak itu Dokter yang menanganinya pun bersedia untuk menanggung semua biaya perawatannya, ya anak itu adalah Tegar.


Aku pun merasa kasihan pada anak itu dan pergi ke kamarnya, tampak Tegar tengah duduk pada kursi yang berada tepat di depan kamarnya.


"Kamu Tegar kan?" Kataku duduk di sebelahnya.


"Iya Kak, Kakak ini Kakaknya Tiwi ya?" Ucap anak itu.


"Iya, namaku Kak Adit, umur Tegar sekarang berapa tahun?" Tanyaku.


"Aku 7 tahun Kak." Kata Tegar tersenyum padaku.


"Kamu sedang apa duduk di luar, kamu kan harus banyak beristirahat."


"Aku sedang menunggu Ayah dan Ibuku Kak, setiap hari aku selalu menunggu di kursi ini." Kata Tegar lagi.


Aku merasa sangat kasihan pada anak itu, mungkin dia tidak mengetahui bahwa Ayah dan Ibunya telah meninggalkannya sendiri.


"Kak, aku boleh kalau setiap hari berkunjung ke kamar Tiwi?" Tanya Tegar.


"Boleh, boleh sekali." Kataku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Wah makasih Kak Adit, aku sangat bosan bila harus di kamar terus, selama ini setiap ada anak yang di rawat di sini aku selalu mengajaknya berkenalan, tapi aku selalu di usir oleh orangtua mereka." Kata Tegar.


__ADS_2