
Keesokan harinya saat makan pagi bersama, Riri terus saja menatap tajam ke arah Pay, membuat Pay menunduk dan takut kepada Riri, Pay takut jika Riri ingin menarik rambutnya lagi.
"Dit berangkat yuk." Kata Pay sambil menunduk.
"Tumben Pay, masih pagi banget ini, sarapan aja belum selesai." Jawabku.
"Ya udah kalau gitu gw tunggu di teras ya." Kata Pay sambil berjalan cepat menuju teras.
"Hahahhaa Bang Pay sepertinya ketakutan." Kata Riri tertawa.
"Lagian kamu natap rambutnya terus dari tadi." Kataku.
"Riri cuma mau ngerjain Bang Pay aja kok, sekarang aku sudah nggak ngidam mau jambak rambutnya lagi." Kata Riri.
"Jahat kamu sayang, Pay sampai ninggalin sarapannya gitu." Kataku tertawa.
Entah kenapa Kak Sinta pagi itu terus terdiam, dia tak seperti biasanya, karena khawatir aku lalu bertanya padanya.
"Kak...Kakak sakit? Kalau sakit istirahat saja nggak usah pergi ke kantor dulu." Kataku.
"Nggak kok Dit, Kakak nggak sakit." Jawabnya singkat.
Akhirnya kami pun berangkat menuju kantor seperti biasa, baru saja 1 jam aku bekerja kemudian Riri menelponku.
"Saaaaayaaaaang...." Katanya manja.
"Iya, ada apa?" Tanyaku.
"Aku lagi pingin sesuatu?" Jawabnya.
"Kamu ngidam lagi? Kamu mau apa biar aku belikan sekarang juga, bilang saja." Kataku bersemangat.
"Aku bukan mau makanan..." Jawab Riri.
"Lalu?"
"Aku mau ketemu Bams, entah kenapa aku sangat ingin mencuci rambutnya yang klimis itu." Ucap Riri.
"Waduh...Sayang, kamu ini kenapa ngidamnya jahil banget sih."
"Nggak tau sayang, ini maunya Dede bayi lho, kalau nggak di turutin nanti dia ngiler, kamu mau?" Katanya kemudian menutup telpon.
__ADS_1
Tentu saja aku tak mau itu terjadi, mana mungkin aku menolak permintaan Riri, lagipula ini keinginan calon anak yang selama ini kutunggu, aku beranjak ke ruangan HRD untuk menemui Bams.
"Lagi apa Bams?" Tanyaku ketika berada di ruangan Bams.
"Eh bos, ada apa bos, tumben kesini, nggak telpon aja biar aku yang ke ruanganmu." Katanya.
"Nggak usah, karena aku sangat membutuhkanmu saat ini, kamu sibuk?" Tanyaku.
"Nggak juga bos, ada apa memangnya?" Tanya Bams penasaran.
"Kamu mau bantu aku?" Tanyaku.
"Oh tentu, apapun akan kulakukan untukmu, tapi ngomong-ngomong apa ada pekerjaan penting untukku? Hingga membuat bos datang langsung ke sini?" Kata Bams.
"Iya, aku ada tugas khusus untuk kamu, sekarang kamu ikut aku ya." Kataku tanpa memberitahu tugas apa yang harus di lakukannya.
"Siap bos, apapun tugasnya pasti saya bereskan." Kata Bams tanpa bertanya lagi.
Kami pun beranjak keluar kantor dan menuju ke mobilku, tiba-tiba bsaja Pay memanggil kami.
"Mau kemana kalian, kok nggak ngajak aku?" Tanya Pay.
"Ya mau lah, kemana emangnya?"
"Ketemu Riri, dia saat ini sangat ingin bertemu Bams." Jawabku.
"Oh kalau begitu gw tetep di kantor aja Dit." Kata Pay menahan tawa melihat wajah Bams.
Karena melihat ekspresi Pay yang seperti itu dalam perjalanan Bams merasa penasaran dan bertanya mengapa Riri sangat ingin bertemu dengannya.
"Bos si jamur kenapa melihatku seperti itu ya, aneh." Tanya Bams penasaran.
"Sudah nggak usah di pikirkan, kamu kayak baru kenal Pay saja, dia kan terkadang memang aneh." Jawabku membuatnya terdiam.
Sesampainya di rumah ternyata Riri sudah menunggu kedatangan kami di kolam renang, dengan gayung dan shampoo yang sudah dia siapkan sebelumnya.
"Bos Riri sedang apa bos? Mau mandi di kolam renang?" Tanya Bams sambil tertawa.
"Nggak tau, kamu tanya langsung saja padanya, soalnya tadi dia bilang ada hal penting yang ingin di bicarakan denganmu." Jawabku.
Bams menghampiri Riri tanpa rasa curiga sedikitpun, ketika mendekat, Riri lalu menyiramnya dengan air dari ember dengan menggunakan gayung yang telah dia siapkan.
__ADS_1
"Wadidaw, ada apa ini bos? Apa salahku?" Kata Bams yang telah basah dan mencoba kabur.
"Sudah Bams turuti saja, katanya kamu mau membantuku." Kataku sambil memeganginya.
"Ampun bos Riri, aku sudah mandi pagi tadi." Kata Bams berteriak meminta pengampunan ketika melihat Riri mendekatinya sambil memegang shampoo.
Aku yang memeganginya tertawa terbahak-bahak melihat ulah Isteriku itu, sementara Bams sedang di cuci rambutnya sambil terus meronta. Setelah selesai Bams tampak lemas dan terduduk dekat kolam renang itu, mungkin kekuatannya telah hilang karena rambut klimis andalannya telah di cuci bersih oleh Riri, pikirku. Seketika tawaku terhenti karena mendengar suara bel rumah berbunyi, aku melihat siapa yang bertamu, ternyata itu adalah Pak Dokter yang sepertinya datang langsung dari Bandung untuk bertemu Kak Sinta.
"Eh Dokter, dari Bandung Dok?" Tanyaku.
"Iya Dit, Sinta kerja ya?" Tanya Pak Dokter.
"Iya Dok, mari masuk kita mengobrol di dalam."
"Lho Dit, itu kenapa Bams basah kuyup?" Tanya Pak Dokter ketika di dalam dan melihat Bams sedang di kolam renang bersama Riri.
"Hehe anu Dok, biasa Riri lagi ngidam, entah kenapa dari kemarin ngidamnya nyiksa Bams dan Pay." Kataku membuatnya tertawa.
"Memang kadang orang ngidam itu aneh Dit, kami para Dokter pun tak bisa menjelaskan secara medis tentang fenomena itu."
"Oh iya Dok, sebelumnya sudah mengabari Kakak akan datang kesini? Kok dia tak memberi tahu aku sebelumnya ya bahwa Dokter akan datang." Kataku.
"Aku memang tak mengabarinya, karena semalam kami bertengkar hebat melalui telpon, aku berkata ingin bertemu, tapi dia bilang tidak bisa karena sibuk, maklum terakhir kami bertemu kan 3 bulan yang lalu Dit." Kata Dokter.
"Wah maaf kalau begitu Dok, itu pasti karena aku yang memintanya untuk bekerja lagi, hingga kalian pacaran jarak jauh."
"Sebenarnya tak apa buatku, kami bertengkar bukan karena itu, semalam aku berkata ingin melamarnya, tapi dia bilang belum siap, itu yang membuat kami bertengkar hebat."
"Sepertinya Kakak memang sama sekali belum memikirkan tentang itu Dok, dia itu memang pekerja keras yang sangat fokus bila bekerja, kalau begitu nanti aku bantu untuk membujuknya." Kataku.
"Makasih Dit, selain itu aku kesini hanya untuk mengabarinya bahwa Minggu depan aku sudah tak bekerja lagi, dan akan melamar pekerjaan di Rumah Sakit yang ada di Jakarta ini."
"Jadi Dokter akan pindah ke Jakarta?" Tanyaku.
"Iya Dit, agar bisa sering bertemu Sinta." Katanya tersenyum.
Aku melihat Pak Dokter sangat serius menjalin hubungan dengan Kak Sinta, membuatku ingin membantu mereka agar bisa bersama dalam hubungan pernikahan.
"Baiklah kalau begitu, sekarang Dokter Istirahat saja dulu di kamar, Dokter pasti lelah setelah perjalanan dari Bandung." Kataku sambil mengantarnya ke kamar tamu.
Sore itu terlihat Kak Sinta pulang bersama dengan Pay, dia belum mengetahui bahwa kekasihnya berada di rumah ini.
__ADS_1