Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Aku menunggu Ayah dan Ibu


__ADS_3

Malam itu Aku, Ibu da Rai bersiap untuk pulang karena memang Tiwi hanya boleh di tunggu oleh satu orang, Pay meminta malam itu dia yang akan menjaganya, ketika berjalan di lorong Rumah Sakit aku melihat Tegar yang Lagi-lagi duduk di kursi itu.


"Ibu dan Rai tunggu di depan ya sebentar, aku ada perlu." Kataku pada mereka.


Aku menghampiri Tegar, anak itu diam tertegun di sana, matanya menatap langit sambil sesekali air matanya menetes.


"Masih nunggu Ayah dan Ibu Gar?" Tanyaku ketika sudah berada di dekatnya.


"Eh Kak Adit, iya Kak." Katanya sambil menyeka air matanya.


"Kamu istirahat Gar, jaga kesehatanmu." Kataku sambil duduk di sebelahnya.


Tegar yang sedari tadi terduduk pun tiba-tiba memelukku sambil menangis.


"Aku kangen Ayah, Ibu, Kakak dan Adik-adikku." Katanya.


Aku mengusap punggungnya, mencoba menenangkan anak malang itu, hingga tak terasa air mataku ikut menetes karena aku tak pernah menyangka ada Ayah dan Ibu yang begitu tega meninggalkan anaknya yang masih kecil seperti ini ketika mengetahui ia menderita sakit parah.


"Kamu yang sabar ya Gar, mungkin suatu saat mereka akan datang kepadamu." Kataku menenangkannya.


"Iya Kak, selama ini hanya Pak Dokter dan para Perawat yang baik kepadaku, sekarang aku senang ada Kakak dan keluarga yang baik juga." Katanya lagi.


"Tegar suka buah?" Tanyaku.


"Suka Kak, tegar sangat suka buah jeruk." Jawabnya.


"Baiklah besok Kakak bawakan buah jeruk ya, sekarang kamu istirahat, Kak Adit pulang dulu ya."


Aku mengantar Tegar ke ranjangnya, ketika akan keluar ruangan itu tiba-tiba saja dia memanggilku.


"Kak Adit...!!!" Kata tegar membuatku menoleh.


"Terimakasih...!!!" Katanya lagi.


Aku tersenyum kepadanya, lalu pergi meninggalkannya, Keesokan harinya Ibu dan Rai tengah bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit, sedangkan aku tetap tinggal di rumah karena sebelumnya telah membuat janji dengan calon pembeli rumahku.


Pada siang harinya tampak seorang Bapak paruh baya dan seorang anak kecil datang kepadaku, dia bilang bahwa ia adalah calon pembeli yang kemarin membuat janji denganku, aku mempersilahkannya duduk, pria itu melihat semua surat tanah dan akhirnya setuju untuk membeli rumah kami, hari itu rumah kami terjual Rp 350.000.000 berarti hanya kurang 50 juta hingga kami bisa melunasi biaya perawatan Tiwi.


Aku meminta waktu satu hari untuk mengemasi semua barang kami, akhirnya Bapak itu pergi bersama anaknya, tak lama Bibi dan Paman datang bersama Iman juga Jessica, mereka memang sengaja datang untuk pergi bersamaku ke Rumah Sakit.


"Gimana Dit keadaan Tiwi?" Tanya Paman.

__ADS_1


Aku menceritakan semuanya, juga mengenai penjualan rumah kami.


"Jadi rumah ini sudah laku? Lalu kalian akan tinggal di mana?" Kata Paman lagi.


"Belum tau Paman, mungkin kami akan mengontrak dulu." Jawabku.


"Ya sudah kalau begitu, bagaimana jika sementara kamu tinggal di kontrakan milik paman yang tak jauh dari rumah, kalian tempati saja tak usah memikirkan bayarannya, kebetulan ada satu kontrakan yang kosong." Ucap Paman


"Serius Paman? Wah aku beruntung punya saudara seperti kalian."


"Kamu sama seperti Ayah dan Ibumu Dit, baik hati dan peduli terhadap sesama." Kata Bibi.


"Kalau begitu ayo A, kita ke Rumah Sakit." Ajak Iman.


Kami semua pergi ke Rumah Sakit bersama siang itu tapi sebelumnya dalam perjalanan aku meminta berhenti untuk membeli buah dahulu karena malam tadi sudah berjanji pada Tegar untuk membawakannya jeruk, sesampainya di sana Bibi dan Paman ikut denganku untuk menjenguk Tiwi, sedangkan Iman dan Jessica menemui Dokter kandungan terlebih dahulu.


"Siapa anak yang sedang bercanda dengan Tiwi itu Dit." Tanya Bibi ketika melihat Tegar ada di sana.


"Itu Tegar Bi, dia pasien di sini juga." Jawabku.


Aku pun menghampiri Tiwi yang saat itu sedang berbicara dengan Tegar sedang Bibi dan Paman mengobrol dengan keluargaku.


"Hai anak-anak, seneng banget kelihatannya." Kataku menyapa mereka.


"Kakak bawa buah lho, kalian mau?"


"Mau....!!!" Kata mereka serempak.


"Ya sudah Kakak kupasin ya, kamu mau jeruk kan Gar, kalau Tiwi mau buah apa sayang?"


"Tiwi juga mau jeluk Kak." Jawab Tiwi.


Terlihat kedua anak itu sangat senang, bahkan kulihat Tegar memakan jeruknya sambil menangis.


"Kamu kenapa Gar, asam ya jeruknya." Kataku yang melihatnya menangis.


"Nggak Kak, aku senang karena Kakak begitu baik kepadaku." Jawab anak itu.


"Tegal jangan nangis, kan sekarang ada Tiwi." Kata Tiwi yang tak lama ikut menangis.


"Sudah...Sudah jangan pada nangis, kan sekarang ada Kakak." Kataku sambil memeluk kedua anak itu.

__ADS_1


"Hayo di apain tuh anak-anak sampe pada nangis." Ucap Jessica yang telah berdiri di belakangku bersama Iman.


"Eh kalian, sudah selesai periksa kandungannya, gimana hasilnya?" Tanyaku.


"Bagus A, Dede bayinya sehat kata Dokter." Kata Iman sambil mengelus perut Jessica.


"Syukurlah kalau begitu." Aku tersenyum pada mereka.


"Dit sebaiknya kamu dan Pay ikut kita setelah ini untuk memindahkan barang kalian dari rumah." Kata Paman menghampiri kami.


Kami pun ikut bersama Paman dan Bibi, tapi sebelumnya aku meminta izin untuk membayar biaya perawatan Tiwi dahulu, kini biaya perawatan Tiwi hanya tersisa Rp 50.000.000 dan aku berjanji akan membayarnya ketika Tiwi selesai melakukan operasi, Dokter berkata sampai saat ini mereka belum juga mendapatkan pendonor ginjal yang cocok untuk Tiwi.


Aku menuju rumahku bersama Iman dan Pay, sedangkan Paman, Bibi dan Jessica kami antar untuk pulang, kami memindahkan barang-barang kami menuju kontrakan milik Paman dan Bibi, setelah selesai kami pun kembali ke Rumah Sakit, setelah itu Ibu dan Rai ikut bersama Iman untuk pulang sedangkan aku dan Pay tetap di sana untuk menjaga Tiwi.


"Lu nggak ikut pulang Dit? kan yang boleh nemenin cuma 1 orang." Ucap Pay.


"Nggak apa-apa Pay, gw bisa tidur di luar." Jawabku.


"Wah nggak enak gw, biar gw aja yang di luar." Kata Pay.


"Kalo nggak enak kasih kucing, oh iya Pay mulai besok gw bakal ngamen lagi buat cari kekurangan biaya perawatan Tiwi." Kataku.


"Ok, kalau gitu gw ikut." Ucap Pay.


"Nggak usah, lu jaga aja adik lu, biar gw sendiri aja." Kataku sambil meninggalkan Pay bersama Tiwi.


Ketika berada di luar ruangan lagi-lagi aku melihat Tegar sedang duduk di kursi yang sama kulihat sebelumnya, aku pun menghampirinya.


"Masih nunggu Gar?" Sapaku ketika duduk di sampingnya.


"Eh Kakak, Kak Adit menginap." Tanya anak itu.


"Iya Gar, Kakak tidur di luar sedangkan Tiwi di temani oleh Kak Pay." Jawabku.


"Kalau begitu tidur denganku saja Kak, setiap malam aku hanya tidur sendiri tanpa ada yang menjaga." Katanya.


"Kamu belum tidur Gar?" Tanya seorang Dokter yang kebetulan melintas di depan kami.


Melihatnya Tegar yang terduduk lalu bangkit dan memeluk Dokter itu, sepertinya Dokter itulah yang selama ini menanggung biaya pengobatan Tegar, Dokter itu adalah Dokter yang merawat Tiwi selama ini, sungguh seorang Dokter yang baik.


"Pak Dokter pulang dulu ya, kamu jangan lupa minum obat biar cepat sembuh." Kata Dokter itu dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Dokter." Aku memanggilnya "Terimakasih." Kataku, Dokter itu tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan kami.


Akhirnya malam itu aku tidur di ruangan Tegar dan menemaninya.


__ADS_2