Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Mimpi Indah


__ADS_3

"Terimakasih ya Jess atas bantuannya hari ini." Ucapku ketika sampai di rumah.


"Justru aku yang terimakasih karena Aa sedihku hari ini bisa hilang." Jawabnya.


Justru sebaliknya, karena dialah kesedihanku bisa sedikit hilang, kesedihan yang selama ini aku tutupi di depan mereka semua.


"A, kok malah bengong sih, aku pamit ya, takut Mamah nyariin." Ucap Jessica.


"Oh iya Jess, maaf aku ngelamun tadi, kamu hati-hati di jalan ya, salam buat Mamahmu." Kataku.


"A, aku boleh minta nomor ponsel kamu?" Tanya Jessica


"Wah kebetulan aku lagi nggak pegang ponsel, tapi kalau kamu butuh sama aku kamu bisa hubungi Rai atau Pay, nomor Pay ada di ponselmu kan setelah telpon tadi."


"Oh iya kalau gitu A, aku pamit ya."


Setelah Jessica pulang lalu Rai menghampiriku yang saat itu sedang duduk di teras rumah.


"Kamu hebat A." Kata Rai.


"Hebat? Hebat kenapa De?" Jawabku.


"Itu Jessica sampe bisa nempel sama kamu." Katanya lagi.


"Ah hebat apanya De, cuma ngobrol biasa aja kok."


"Asal A Adit tau ya, di sekolah dia itu dijuluki dengan Putri salju karena dingin pada setiap cowok yang mendekatinya, jangankan buat ngobrol, buat lihat senyumnya aja suatu hal yang jarang terjadi bagi cowok-cowok itu, padahal banyak banget lho yang suka sama dia, termasuk A Iman, padahal kurang apa A Iman coba, ganteng, dari keluarga berada juga." Kata Rai menjelaskan dengan panjang lebar.


"Kamu ngomong apa sih De, nyerocos gitu hahaha." Jawabku sambil menertawakan Rai.


Tiba-tiba Pay keluar dengan membawa ponselnya.


"Dit, ada yang mau ngomong nih." Ucap Pay memberikan ponselnya.


"Siapa?"


"Udah ngomong aja dulu." Kata Pay lagi.


"Halo, ini siapa ya." Aku menanyakan siapa yang berada di sebrang telpon sana.


"Bos? Wah ini suara Bos Adit ya? Bos gimana kabarnya? Aku kangen sama kalian semua." Terdengar suara Bams di sana.

__ADS_1


"Bams, ini kamu? Kami semua baik-baik saja di sini, kamu sendiri gimana?" Jawabku.


"Aku baik bos...Cuma..."


"Cuma apa Bams...???"


"Kondisi Papanya bos Riri semakin parah bos, sudah seminggu Beliau koma setelah kepergianmu."


Aku terdiam mendengar kata-kata Bams.


"Besok Beliau akan di bawa berobat ke Paris bos, dan kemungkinan bos Riri akan menetap di sana juga sampai keadaan Papanya membaik, aku dan Reni ikut menemaninya ke sana juga lho bos." Kata Bams.


Aku semakin terdiam mendengarnya.


"Bos... Bos Adit kok diam saja." Ucap Bams.


"Bams....!!!!"


"Iya bos?"


"Jaga Riri baik-baik, jangan bilang jika kamu menelpon ya."


"Iya bos, aku akan mengabari bos Adit tentangnya tanpa ketahuan, sekarang aku adalah agen ganda buat kalian." Katanya.


Malam itu aku tak bisa tidur memikirkan Riri, saat ini dia pasti sedang merasakan sakit yang amat sangat, dan itu semua pasti karena aku.


Aku sangat merasa bersalah kepadanya, karena membebankan dosa Papanya kepada Riri, tapi aku tak tahu harus bagaimana menanggapi semua ini, malam itu tak terasa pipiku dibasahi oleh air mata yang tanpa kusadari jatuh menetes.


"Ri....Aku Rindu...Maafkan aku buat semuanya."


Aku terus memikirkannya hingga akhirnya aku terlelap, dalam tidurku malam itu aku memimpikannya, mimpi yang sangat indah.


Aku bermimpi pada senja hari di sebuah ruangan yang berwarna putih aku dan Riri berpegangan tangan, Riri tampak cantik dengan gaun pengantin yang dikenakannya.


Kami berjalan bersama menyusuri lorong panjang berwarna putih, tak lama kami di sambut oleh orang-orang terdekat kami, bahkan mendiang sahabatku Udin ada di sana.


Aku dan Riri bertatapan, kami saling melemparkan senyum, tak lama aku memakaikan cincin yang selama ini kusimpan di jari manisnya, kami masih terus bertatapan hingga akhirnya wajah Riri semakin mendekat, bibir halusnya mengarah ke bibirku, semakin lama kami semakin dekat, hingga akhirnya aku dikejutkan oleh alarm dari jam yang ada di kamarku pagi itu.


Ternyata aku salah...Sekuat apapun aku mencoba untuk melupakanmu tetapi ternyata aku tak bisa, cinta ini masih sangat besar untukmu.


Siang itu seperti biasa aku dan Pay menjalani rutinitas kami, saat jam makan siang Jessica datang lagi ke tempat itu.

__ADS_1


"Lho Jess, kamu ada di sini, mau ke toko baju lagi?" Tanyaku.


"Ah nggak A, aku sengaja kesini membawakan makan siang untuk kalian berdua."


"Waduh....Nggak usah Jess, aku jadi nggak enak hati." Kataku lagi.


"Dit kalau begitu gw pulang duluan ya." Kata Pay berdiri dari tempat duduknya.


"Diem....Duduk....ngelangkah sedikit lagi gw tarik rambut lu." Kataku mengancam Pay membuatnya duduk kembali.


Siang itu kami makan bersama, hingga satu minggu berlalu Jessica masih melakukannya, aku sama sekali tak mengerti mengapa dia melakukan itu semua untukku.


Hari itu di hari minggu aku tak pergi mengamen karena hendak beristirahat, pagi hari terlihat mobil Jessica datang ke rumah karena memang di tahu bahwa hari ini aku dan Pay memutuskan untuk libur.


"Jess, ada apa pagi-pagi ke sini?" Tanyaku.


"Aku lagi sebel sama Mamah A, aku udah bilang bahwa pacarnya itu bukan cowok yang baik setelah tadi dia minta uang sama Mamah, tapi sepertinya Mamah sudah di butakan oleh cinta hingga tak mau mendengarku." Ucap Jessica.


"Ya udah kamu yang sabar ya, memang terkadang cinta itu buta Jess, kamu ngomong pelan-pelan sama Beliau, siapa tau nanti Mamahmu sadar."


"Iya A, eh A mau temenin aku jalan?" Tanya Jessica.


"Jalan? Kemana?" Tanyaku.


"Terserah A Adit aja."


"Aku sih mau aja, tapi ajak Rai sama Pay juga ya." Ucapku.


"De mau ikut jalan nggak?" Tanyaku pada Rai.


"Wah maaf A, aku nggak bisa karena sudah janji mau ketemu wali kelasku di rumahnya membahas mengenai beasiswa aku." Ucap Rai.


"Lho kok nggak minta anter sama aku." Kataku.


"Nggak usah A, aku di antar Bang Pay kok, Tiwi juga ikut." Jawab Rai.


Aku merasa tak enak pada Jessica karena sudah menyetujui untuk menemaninya, lagipula aku tak tega melihatnya bersedih, akhirnya kami pergi berdua saja hari itu.


"Kita mau jalan kemana A?" Tanya Jessica di dalam mobil.


"Bukit Bintang." Jawabku.

__ADS_1


"Wah Bukit Bintang, itu kan tempat romantis buat orang pacaran A, kamu serius ajak aku kesana."


Aku hanya menjawab pertanyaan Jessica dengan senyuman, tujuanku ke sana sebenarnya karena aku sedang sangat rindu pada Riri, dan di sanalah tempat penuh kenangan bagi kami berdua di kota Bandung.


__ADS_2