Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Menentukan tanggal


__ADS_3

"Ibu, Riri kangen sama Ibu." Kata Riri dalam pelukan Ibuku.


"Iya sayang, Ibu juga kangen." Jawab Ibu sambil menciumi rambut Riri.


"Ini pasti Bapak ya." Kata Riri mencium tangan Bapak.


"Oooh ini toh yang namanya Riri, Adit pintar cari calon istri." Kata Bapak memandang ke wajahku sambil tersenyum.


"Ah Bapak bisa aja." Kata Riri malu.


Kami mempersilahkan Bapak dan Ibu untuk beristirahat karena pasti mereka kelelahan setelah perjalanan tadi, tapi sebelum itu aku dan Riri mengajak Ibu berbincang sebentar di teras rumah.


"Bu malam tadi aku sudah ngajak Riri nikah, Ibu setuju kan?" Tanyaku.


"Iya Nak, Ibu setuju, Riri kan satu-satunya gadis yang kamu cintai." Kata Ibu tersenyum.


"Iya Bu, satu-satunya yang mau sama A Adit hahaha." Teriak Rai yang sedang bermain di halaman bersama Tiwi.


"Husss anak kecil ikut-ikutan aja, ini urusan orang dewasa." Kataku pada Rai.


"Ibu sudah melupakan semua kesalahan Papa?" Tanya Riri.


"Sudah Nak, lagipula sekarang Suryo sudah tiada, tak pantas rasanya bila Ibu masih tak memaafkan semua kesalahannya." Jawab Ibu.


"Terimakasih Bu, Riri senang mendengarnya." Kata Riri memeluk Ibu.


"Kalian sudah menentukan tanggalnya?" Tanya Ibu lagi.


"Belum Bu, justru kami mau meminta saran Ibu untuk mencari hari baiknya." Kataku.


"Kalau menurut Ibu sih niat baik jangan di tunda, lebih cepat lebih baik." Kata Ibu.


"Jadi kapan yang baik menurut Ibu." Tanyaku.


"Bagaimana jika akhir bulan ini." Ucap Ibu.


"Wah berarti dua Minggu lagi ya Bu." Kata Riri.


"Ta..Tapi Bu kalau dua Minggu tabungan Adit belum cukup, karena kemarin kan di pakai untuk tambahan biaya berobat Tiwi." Kataku.


"Tenang saja Nak, sekarang kan kamu punya Bapak, Bapak yang akan menanggung semua biaya pernikahan anak lelaki Bapak." Kata Bapak yang keluar dari rumah dan mengusap kepalaku.


Waktu sudah di tentukan, hanya tersisa dua Minggu lagi aku dan Riri akan bersanding di pelaminan, malam harinya aku, Pay dan Bams berbincang di teras itu.


"Widih calon manten, selamat ya." Kata Pay.


"Ah lu Pay bisa aja, lu kapan nyusul, udah tua juga kan lu." Kataku.

__ADS_1


"Kalo gw sih nungguin Neng Rai lulus dulu, baru nyusul lu." Balas Pay.


"Bos, gimana kalau kita pesta bujang sebelum kamu nikah?" Kata Bams.


"Pesta bujang? Apaan tuh." Tanyaku.


"Pestanya para bujangan." Jawab Bams.


"Kalau singkatannya sih nenek-nenek breakdance juga tau, maksudku artinya apa, dan gimana maksud dari pesta bujang itu?" Kataku pada Bams.


"Bukannya yang nginep bareng pake baju tidur ya?" Kata Pay.


"Itu pajama's party bodoh." Sahut Bams.


"Terus gimana?"


"Gimana kalau kita bertiga pergi ke bar yang banyak ceweknya, itu bisa di bilang pesta bujang juga, menghabiskan waktu tanpa pasangan kita." Kata Bams.


"Ah nggak mau kalau mesti ke bar, dan minum-minum apalagi banyak ceweknya."


"Kapan lagi bos, nanti kalau sudah nikah boro-boro bisa seneng-seneng, iya nggak Pay." Kata Bams.


"Iya Dit, bener juga kata si klimis, sekali aja seumur hidup kayaknya nggak apa-apa, nanti kalo udah nikah baru lu serahin semuanya buat Riri." Tambah Pay.


Karena paksaan mereka akhirnya aku menurut saja, dan rencananya besok malam kami akan pergi ke bar.


"Ayo suamiku kita berangkat." Kata Riri yang baru saja keluar dari rumah.


"Suamiku? Siapa suami kamu?" Jawabku.


"Iiih Adit, aku kan lagi latihan, dua Minggu lagi lho kita nikah." Ucap Riri.


"Oh begitu, baiklah istriku, ayo kita berangkat."


Pagi itu aku dan Riri lari pagi mengitari komplek perumahan.


"Sayang, nanti perayaannya mau di gedung atau di rumah?" Tanya Riri.


"Di mana ya yang enak, kalau menurutku sih mending di rumah, kalau di gedung kurang seru, waktu dan tamu terbatas, kalau di rumah kan enak lega." Jawabku.


"Okelah kalau mau kamu begitu, kalau gitu besok kita bikin undangan ya, abis itu kita ngukur baju." Kata Riri penuh semangat.


"Siap bos." Kataku penuh semangat juga.


Malam harinya kami trio bujangan berusaha pergi tanpa ketahuan oleh penghuni rumah yang lain setelah makan malam, kami mengendap-endap pergi menggunakan mobil Riri, alangkah sialnya kami ketika membuka pintu melalui kunci otomatis, bukan mobil Riri yang terbuka melainkan mobil Kak Sinta, padahal hampir saja kami bisa pergi tanpa ketahuan penghuni rumah.


"Siapa yang tadi ambil kunci." Kataku berbisik.

__ADS_1


"Ini nih, si klimis." Kata Pay.


"Tapi kan lu yang kasih tau kunci ada di atas meja." Jawab Bams.


"Tapi kan di atas meja kuncinya ada dua, kenapa lu bisa salah ambil, lagian kan merk mobilnya beda, emang lu nggak liat logonya." Kata Pay lagi.


"Mana sempet gw liat logonya, kan tadi langsung gw kantongin biar nggak ketahuan." Kata Bams membela diri.


"Udah..Udah, sekarang kamu balik lagi tuker kuncinya Bams." Kataku.


"Temenin bos, aku takut ketahuan." Sahut Bams.


Akhirnya kami bertiga kembali lagi ke meja yang berada di ruang tengah itu, untunglah para penghuni masih berada di meja makan pada saat itu.


Tinggal sedikit lagi kami dapat meraih kunci itu, kami sampai menahan nafas agar tak ketahuan, Bams dengan perlahan mengulurkan tangannya hingga tiba-tiba.


"Pakeeeeet." Suara pengantar barang di depan pintu.


Aku dan Pay berjalan pelan menghampiri pengantar barang itu, sementara Bams tetap di dalam, Pay menutup mulut si pengantar paket sementara aku menerima barangnya, untunglah para penghuni rumah tak mendengar suara pengantar barang tadi.


Aman, dalam hati kami, kami perlahan kembali masuk lagi kedalam, sesampainya di tempat Bams kami terkejut ternyata Bams sedang di tanyai oleh Kak Sinta, Rai dan juga Riri.


"Ngapain kamu Bams, mindik-mindik, kaya maling aja." Kata Kak Sinta.


"Kamu mau ngambil kunci? mau kemana emangnya?" Tanya Riri.


Bams tak menjawab, dahinya kini di penuhi oleh keringat dan malah melirik kearah kami.


"Kamu mau kemana sayang? pasti suruh kamu deh?" Kata Riri.


"Bang Pay juga nih, emang mau pada kemana?" Tanya Rai.


"Mmmh...Ngggg...Mmmmm." Kata Pay yang bingung mencari alasan.


"Kalian lihat, si Pay sakit, kami tadi mengobrol dan dia tiba-tiba seperti itu, kami tadinya mau membawanya menemui Pak Dokter, karena panik nggak sempat kasih tau kalian, ya sudah ya kami pergi, ayo Bams." Kataku sambil berlagak merangkul Pay.


"A aku ikut, aku khawatir." Kata Rai.


"Nggak usah De, kamu kan harus belajar." Kataku.


Akhirnya kami bertiga berhasil keluar dari rumah walau dengan sedikit berbohong.


"Fiuuh hampir saja, sekarang kita kemana Bams." Tanyaku pada Bams.


"Tadi aku sudah cari di internet bos, ada sebuah bar tak jauh dari sini, namanya men's club." Katanya yakin.


Dan kami bertiga pun melaju menuju men's club.

__ADS_1


__ADS_2