
Aku pun menghampiri Tegar yang tengah berbincang bersama Pak Dokter.
"Gar Kakak pergi dulu ya." Kataku kepada anak itu.
"Kakak mau kemana, hari ini Kakak akan tidur bersamaku lagi?" Tanya Tegar.
"Iya nanti sepulang kerja Kakak akan menemanimu, sekarang Kakak sudah dapat pekerjaan." Kataku.
"Ya sudah Kak, aku tunggu ya." Kata anak itu tersenyum kepadaku.
Aku pamit pada Pak Dokter dan Tegar yang melanjutkan perbincangan mereka, sesampainya aku di cafe Sinta tampak di sana telah di padati oleh pengunjung, kulihat sekeliling kebanyakan pengunjung itu adalah para gadis muda, aku melewati mereka dan menuju ke belakang panggung kecil yang ada di sana.
"Kamu siap Dit?" Tanya Sinta yang menghampiriku.
"Mudah-mudahan Sin." Kataku tampak tak yakin.
Aku beranjak naik ke atas panggung itu, tampak dari para penonton memandang sinis ke arahku.
"Siapa itu? Kenapa dia yang naik bukan Rey." Kata seorang gadis.
"Kemana Rey, kami mau Rey...Kami mau Rey." Kata yang lain.
Mereka menyorakiku malam itu, sepertinya mereka semua adalah penonton setia orang yang bernama Rey itu dan pastinya mereka kecewa melihatku menggantikannya.
Keringatku menetes setelah mataku memandang ke arah penonton, apalagi setelah mendengar sorakan mereka semua yang sepertinya tak mengharapkan kehadiranku.
"Kacau, sepertinya gw demam panggung." Kataku bergumam.
Sinta tampak memperhatikanku dari samping panggung, aku menoleh ke arahnya dan dia mengangguk kepadaku dan memberi isyarat bahwa aku bisa menaklukan panggung itu.
Keringatku masih saja menetes, tak kusangka suasana di atas panggung ini sangat berbeda dengan suasana ketika aku bernyanyi menjajakan suaraku saat mengamen.
"Hai se..Semua, per..Perkenalkan na..Nama saya Adit." Kataku terbata-bata karena tegang.
Sontak mereka semakin menyorakiku karena tampak gugup.
"Turun...Bagaimana mau bernyanyi, ngomong aja gagap gitu." Kata salah satu penonton.
"Pokoknya kami mau Rey, kalau tidak ada Rey kami pulang saja." Kata yang lain.
__ADS_1
"Iya, lagipula siapa orang ini, tidak meyakinkan, ganteng sih, tapi itu saja tidak cukup untuk menggantikan Rey." Kata yang lain lagi.
"Huuuuuuuuu....!!!!" Kata mereka semua.
Melihat itu aku mencoba menenangkan diri, ku tarik nafasku dalam, sejenak aku memejamkan mata dan membayangkan wajah Riri.
"Temani aku malam ini sayang." Kataku dalam hati.
Kupetik gitarku, kumainkan sebuah lagu dengan membayangkan Riri berdiri di sampingku, mereka masih menyorakiku, hingga tiba saatnya bait pertama dari lagu itu, aku membuka mulutku dan bersiap untuk bernyanyi, sorakan mereka semakin memuncak melihat itu hingga akhirnya aku mulai bernyanyi, seketika keadaan cafe menjadi hening karena suaraku, mereka memandangiku dalam, mereka tak bersuara selama lagu itu kunyanyikan.
Hingga akhirnya aku menyelesaikan lagu itu, aku memandang ke arah penonton, mereka terpaku melihatku, hingga akhirnya terdengar tepukan tangan dari salah seorang mereka dan membuat semua yang ada di sana ikut memberikan tepuk tangannya untukku, aku tersenyum pada mereka hingga aku menoleh ke sebelahku, di sana kubayangkan Riri yang membalas senyumanku lalu bayangan itu pun menghilang.
"Keren...Keren." Kata salah satu penonton.
"Lagi...kami mau lagi." Kata yang lain.
Tak ada lagi sorakan tak yakin untukku, semua berganti menjadi tepuk tangan setiap satu lagu selesai kumainkan, mereka bergantian maju satu persatu setiap aku menyelesaikan lagu, menaruh lembaran uang kertas pada sebuah kotak yang telah disediakan di bawah kakiku.
Hingga akhirnya tiba jam cafe itu akan tutup dan aku menyelesaikan lagu terakhirku, tampak beberapa gadis menghampiriku.
"Hai Kak Adit, kamu keren, mulai sekarang kami adalah fansmu yang akan datang setiap hari untuk menonton pertunjukanmu." Kata seorang gadis.
"Keren...Baru hari pertama udah dapet fans." Kata Sinta yang menghampiriku.
"Hehe...Aku sendiri awalnya nggak yakin lho Sin." Jawabku.
"Kalau begitu tiap malam kamu tampil di sini ya, gajinya memang nggak besar tapi masih mending jika di bandingkan kamu harus panas-panasan setiap hari untuk mengamen." Kata Sinta lagi.
"Hmmm...Iya deh aku mau, kalau begitu aku pulang ya." Kataku beranjak pergi dari sana.
"Adit...Tunggu, kamu nggak bawa uang saweranmu." Kata Sinta.
"Uang apa?"
"Itu lho uang yang penonton berikan di kotak tadi, itu semua 100% adalah hak penampil tanpa di potong sedikitpun oleh cafe, itu bonusmu di luar gaji." Kata Sinta menjelaskan.
"Wah serius kamu Sin?" Kataku tampak senang.
Sinta mengambil uang dari kotak itu dan memberikannya padaku.
__ADS_1
"Wah banyak juga penghasilanmu di hari pertama ini, gimana kalau setiap hari." Kata Sinta memberikan uang itu kepadaku.
Benar saja kata Sinta, setelah kuhitung ada 1 juta yang terkumpul, sungguh uang yang tak pernah kudapat selama ini dengan mengamen selama satu hari, bukan hanya uang bahkan ada beberapa orang yang menyelipkan nomor ponselnya di sana.
"Masa depanmu cerah di sini Dit." Kata Sinta tertawa.
"Bisa aja kamu Sin, mungkin kebetulan saja tadi ramai karena mereka menunggu orang yang bernama Rey, kalau besok sih belum tentu, setelah mereka tau bahwa Rey sudah digantikan olehku."
"Oh iya Dit, aku boleh minta nomor ponselmu? karena setelah aku berhenti kerja dari perusahaan Pak Suryo tak lama aku kecopetan dan ponselku hilang."
"Pantas dulu aku coba menghubungimu tak bisa, maaf Sin, sekarang aku nggak pegang ponsel karena ponselku ku kembalikan pada Riri."
"Oh begitu, ya sudah, jika seperti itu setiap malam kamu kesini jam 7 ya, ingat jangan telat." Ucap Sinta.
"Ok, kalau gitu aku pamit ya." Aku pun meninggalkan cafe itu.
Setelah sampai di Rumah Sakit tampak Tegar berbaring di ranjangnya dengan mata yang belum terpejam.
"Kamu belum tidur Gar?" Kataku.
"Belum Kak, aku nunggu Kakak pulang." Jawabnya.
"Ya sudah sekarang kan Kakak sudah pulang kamu tidur ya." Kataku sambil mengusap kepalanya.
Aku menemani Tegar hingga dia akhirnya tertidur, hari ke hari pun berlalu sangat cepat hingga tak terasa sudah seminggu aku di Rumah Sakit itu, tapi Dokter mengatakan belum juga mendapatkan pendonor untuk Tiwi.
Hari itu aku terbangun pagi hari, setiap malam aku masih menjadi penampil di cafe Sinta, ternyata semakin hari cafe itu bertambah ramai karena ada salah seorang pengunjung yang merekam penampilanku dan menaruhnya di sosial media.
Malamnya ketika aku bersiap berangkat bekerja Tegar tiba-tiba saja memanggilku dari atas ranjangnya.
"Kak." Kata Tegar memandangi wajahku.
"Iya Gar." Jawabku.
"Kakak bisa peluk aku sebelum Kakak berangkat." Katanya lagi.
"Wah tumben kamu minta peluk."
Aku memeluknya, Tegar mengucapkan terimakasih karena selama ini aku selalu menemaninya, setelah itu aku pergi menuju tempat kerjaku.
__ADS_1