Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Kerja


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu sejak kepergian sahabatku itu, keadaanku pun sudah membaik dan aku sudah bisa menerima kepergiannya dengan ikhlas.


Aku mendapatkan kabar bahwa Roy di vonis 10 tahun penjara atas peristiwa itu, sungguh hukuman yang sangat Ringan menurutku, mengingat kejahatan apa yang sudah dilakukannya, namun aku tak bisa berbuat apa-apa, karena mungkin itulah ketentuannya.


Pagi itu Riri memberi kabar bahwa Papanya ingin bertemu denganku.


"Dit siang nanti papa nyuruh kamu kerumah, ada yang mau diobrolin katanya."


"Ada apa ya Ri?"


"nggak tau papa nggak bilang apa-apa sama aku."


"Oh ya udah nanti Adit kesana."


"Maaf ya Dit, Riri ngga bisa nemenin karena harus kuliah."


"Iya nggak apa-apa kok, lagian Adit kan udah seminggu ini nggak ngamen karena gitarnya rusak jadi punya banyak waktu deh."


Siang itu pun aku pergi kerumah Riri.


"Siang Om." Sapaku pada papa Riri


"Sudah sampai Nak, sini masuk kita makan siang bareng."


"Eh iya Om."


Lalu kami pun makan siang bersama.


"Adit, Om turut berduka cita ya atas kepergian teman kamu, maaf kemarin Om tidak bisa datang karena banyak pekerjaan yang tidak bisa om tinggalkan."


"Iya Om Riri sudah cerita dan menyampaikan salam Om waktu itu."


"Nak Adit seminggu ini sudah tidak bekerja ya?"


"Lho kok Om tau? Pasti Riri ya yang cerita."


"Iya Nak, dia sudah cerita semuanya."


"Betul Om, karena gitar yang selama ini Adit pakai mencari nafkah rusak dan ternyata tidak bisa dibetulkan."


"Kalau tidak salah waktu itu kamu bilang di Jakarta ini sedang mencari pekerjaan kan?"


"Betul Om tapi belum dapat juga sampai sekarang, sudah setahun lebih aku di Jakarta ini."


"Kamu mau kalau bekerja di salah satu perusahaan Om?"


"Maaf sebelumnya Om bukannya Adit menolak akan tetapi aku mau dapat pekerjaan karena usahaku sendiri bukan dari rasa belas kasihan orang lain."


"Nak Adit, janganlah kamu menganggap Om ini orang lain, anggap saja Om sebagai pengganti almarhum ayahmu, lagipula ini semua adalah hasil kerja kerasmu sendiri dan tanda terimakasih Om karena kamu selalu menjaga Riri, terlebih pada kejadian waktu itu, jika tidak ada kamu mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada putri semata wayang Om itu."


Aku pun terdiam sejenak memikirkan kata-kata Om Suryo itu.

__ADS_1


"Baik Om Adit terima, tapi ijazah Adit cuma SMA Om."


"Kalau cuma karyawan biasa kan tidak perlu ijazah tinggi nak, lagipula jika Om langsung memberimu tempat yang enak di perusahaan itu kamu pasti menolak, kalau begitu hari ini Om akan langsung menemui kepala HRD di perusahaan om untuk memasukan kamu di sana."


"Baik Om, kalau begitu Adit akan menyiapkan semua berkas-berkas nya."


"Tidak usah Nak, mulai hari Senin kamu bisa langsung bekerja."


"Terimakasih banyak Om Adit berhutang Budi sama Om."


Malamnya aku langsung mengabari kabar kepada Ibuku bahwa aku sudah mendapatkan pekerjaan dan sudah berhenti mengamen, Ibuku pun terdengar sangat bahagia mendapat kabar tersebut.


Setelah selesai menelpon Ibu tak lama ponselku berbunyi dan itu adalah telpon dari Riri.


"Hayo abis telponan sama siapa? Di hubungin gak nyambung-nyambung."


"Sama cewek dong." Jawabku menggodanya


"Tuh kan pantes daritadi perasaan aku nggak enak, ternyata bener kan, kamu kok tega sih sama aku."


Kemudian tawaku pun pecah mendengar perkataan Riri.


"Tuh kan malah ketawa, jahat banget, emang ada yang lucu ya?"


"Ada....Ada yang lucu, kamu yang lucu."


"Lucu kenapa orang marah di bilang lucu."


"Serius telpon Ibu?"


"Serius lah masa aku bohong sama kamu, mana bisa aku untuk nggak jujur sama kamu."


"Ah Adit jahat, Riri sebel."


"Lho kok jahat, jahat kenapa?"


"Jahat karena Adit ngerjain aku, sebel."


"Iya..Iya maaf aku kan cuma bercanda."


"Udah gitu ini kan malam Minggu kenapa nggak main ke rumahku coba, atau ngajak jalan kek, aku sengaja tau untuk nggak dateng ke kontrakan kamu malam ini, biar kamu yang ke rumah aku, eh ternyata nggak peka juga..Nyebelin..Telpon pun harus aku yang nelpon duluan."


"Males."


"Tuh kan emang nyebelin."


Tak lama terdengar suara seorang wanita memanggil Riri di sebrang telepon sana.


"Siapa yang manggil?" Tanyaku pada Riri.


"Gak tau nih si bibi, katanya ada paket buat aku."

__ADS_1


"Paket apa? coba di buka."


Riri pun lalu membuka paket tersebut dan kemudian teriak kegirangan.


"Kamu kenapa?" Ucapku.


"Aaaaah Adit so sweet banget sih ini kamu kan yang ngirim."


"Ngirim apa? Nggak tuh."


"Ini boneka beruang ada tulisan love you nya, suka banget, kamu jangan bohong deh lagian alamat pengirimnya alamat kamu kok."


"Hahahaha iya, tadi sore setelah pulang dari rumah kamu aku berencana langsung ke makam Udin, di perjalanan aku lihat ada toko boneka lalu aku mampir dan kulihat ada boneka beruang itu, gimana kamu suka?"


"Banget, makasih ya pacarnya aku."


"Tapi boneka itu gak semahal semua boneka yang kamu punya lho."


"Ngga penting berapa harga sebuah pemberian tapi yang terpenting dari siapa yang memberikan."


"Diiiih tumben pacarku ngomongnya bener."


"Tuh kan mulai lagi."


"Iya maaf, aku hari ini nggak ke rumahmu karena tadi kemalaman sepulang dari makam Udin."


"Iya nggak apa-apa kok lagian sekarang kan ada boneka ini pengganti kalau aku lagi kangen sama kamu."


"Wah cinta aku terbagi dua dong sekarang."


"Iya, kamu nggak cemburu kan Dit."


"Nggak lah, kamu tau nggak boneka itu sebenarnya sepasang lho, yang laki-laki aku kirim ke kamu dan yang perempuan sekarang ada dikontrakan aku."


"Oh ya? So sweet banget, kamu pasti juga sama, boneka itu pasti kamu simpan takut suatu saat kamu kangen sama aku kan."


"Nggak kok, boneka ini besok mau aku kirim buat Rai hahahahahhaa."


"Yaaaah aku kira emang buat pengingat kalau kamu kangen sama aku."


"Hahahahaha Aku bercanda kok, iya lah boneka ini aku simpen kalau-kalau aku kangen sama kamu, sebentar lagi aku kan kerja jadi kemungkinan kita akan jarang ketemu, aku pasti bakal sering kangen sama kamu."


"Iya dit nggak apa-apa jarang ketemu, yang penting kan kamu sekarang udah kerja nggak usah keliling-keliling lagi buat cari uang dan pastinya sekarang kamu akan punya penghasilan tetap untuk kamu kirim ke Ibu, kalau sempat aku juga pasti mampir kok ke kantor."


"Iya, makasih ya Ri aku banyak berhutang Budi sama kamu dan papamu."


"Apa sih Adit hutang Budi segala, ngomong-ngomong Boneka yang Ada di kamu tulisannya apa."


"I MISS YOU."


"MISS YOU TOO."

__ADS_1


Lalu kami pun mengakhiri malam itu dengan begitu indah.


__ADS_2