
Kini hari kelulusan Riri hanya tinggal menghitung hari saja, terlihat di wajahnya rona kebahagiaan terpancar di setiap harinya. Riri sangat bahagia bukan hanya karena menyambut gelar yang sebentar lagi akan di raihnya melainkan juga menyambut janji yang telah aku buat untuk melamarnya.
"Kenapa itu senyum-senyum sendiri." Tanyaku.
"Ah nggak, nggak apa-apa." Jawab Riri.
"Gokil berarti, nggak apa-apa tapi senyum sendiri."
"Aw gokil...Gondrong dekil dong hihihi."
"Tuh yang gondrong dekil lagi nyuci mobil." Kataku sambil menunjuk Pay yang beberapa hari lalu meluruskan rambutnya karena saran dari Rai.
"Ngapain lu tunjuk-tunjuk gw, ganteng ya gw rambut lurus gini." Jawab Pay.
"Luar biasa brother, tinggal bawa monkey di pundak mirip banget sama Tarzan." Kataku.
"Ini kan permintaan ayank mbep, jangankan cuma lurusin rambut, lurusin permasalahan orang juga gw lakonin kalo doi yang suruh." Balasnya.
"Dasar jamur bucin." Terdengar suara Bams yang baru masuk pintu gerbang rumah bersama Reni.
"Widih pasangan baru, darimana?" Ucap Riri.
Setelah kejadian patah hati Bams di Jogja dia menjadi semakin dekat dengan Reni, dan sudah seminggu ini mereka resmi berpacaran.
"Kami dari Panti Ri, habis ketemu Ibu dan adik-adik." Sahut Reni.
"Neng Reni, kok mau sih pacaran sama pabrik minyak rambut, nggak lengket emang rambutnya kalo dia senderan." Kata Pay.
"Nggak lah Bang, namanya juga cinta." Jawab Reni.
"Ah sirik aja lu Tarzan." Balas Bams.
"Kalo gw Tarzan berarti lu temennya ya." Ucap Pay.
"Mulai deh kalian berdua." Kata Riri.
"Eh bos nanti aku ikut ya di hari kelulusan kalian." Ucap Bams.
"Iya...Iya, kamu mau hadir di hari kelulusan Reni kan." Ucap Riri.
Setelah obrolan itu aku dan Riri pamit kepada mereka, karena memang sebelumnya kami telah berjanji pergi ke toko emas untuk membuat cincin yang di pergunakan untuk prosesi lamaran kami.
"Mau buat cincin yang model bagaimana?" Tanya pemilik toko emas itu ketika kami sampai di sana.
"Yang gimana Dit, Riri bingung." Ucap Riri.
"Gimana kalau yang simple aja sayang, tapi ada ukiran nama kita di cincin itu." Jawabku.
"Wah ide bagus tuh Dit, bisa kan Mbak?" Kata Riri kepada pemilik toko.
__ADS_1
"Bisa Mbak, sekarang ukur jarinya dulu ya." Ucap pemilik toko itu.
"Oh iya Mbak, ini." Ucapku sambil mengukur jari manisku.
"Ok sudah selesai, sekarang Mbaknya ya." Kata pemilik toko.
"Sini jari kamu." Kataku sambil menarik tangan Riri.
"Wah gede banget ya jari manismu Ri." Kataku lagi.
"Adit jangan bercanda deh, itu kan jempol." Ucap Riri sambil mencubit pinggangku.
Setelah selesai memesan cincin kami berdua memutuskan untuk berjalan-jalan di area pusat perbelanjaan karena memang toko emas yang kami datangi ada di sana juga.
"Iiih aku udah nggak sabar deh Dit nunggu hari itu." Ucap Riri tampak bahagia.
"Sabar dong, tiga hari lagi kan kelulusan kamu, lamaran kita kan dua hari setelah kamu lulus." Jawabku.
"Oh iya Dit, Ibu dan Rai kapan datang?" Tanya Riri.
"Satu hari sebelum hari H mereka sudah di sini kok, bersama dengan saudaraku yang lain." Jawabku.
Hari kelulusan pun tiba, Aku, Bams, Pay dan juga Tiwi mengantar Riri dan Reni ke kampus mereka.
"Papa nggak dateng Ri?" Tanyaku kepada Riri.
"Papa memang orang yang sangat sibuk ya Ri, dalam satu tahun mungkin terhitung dengan jari tangan aku bertemu dengannya." Kataku.
"Maklum lah Dit, bisnis Papa kan ada di mana-mana." Ucap Riri.
"Ya sudah sana kalian masuk, biar kami lihat dari layar monitor di sini saja." Kataku pada Riri dan Reni.
"Ok sayang, aku masuk ya, ayo Ren." Ucap Riri.
"Sayang aku masuk ya." Kata Reni sambil memeluk Bams.
"Jangan tinggalkan aku sendiri sayang, aku tak sanggup bila sedetik saja jauh darimu." Jawab Bams.
"Dit bawa plastik nggak? gw pengen muntah liatnya." Kata Pay melihat kemesraan Reni dan Bams.
"Wow Tarzan sirik karena nggak ada pacarnya." Jawab Bams.
Kami pun menyaksikan dengan khidmat prosesi wisuda dari awal hingga akhirnya tibalah giliran untuk Riri dan Reni naik ke atas panggung kelulusan, kami semua bersorak gembira karenanya, tak lama mereka keluar karena acara sudah selesai.
"Adiiiiiit...." Kata Riri sambil berlari dan memelukku.
"Wih pacarku akhirnya lulus juga, nggak kerasa ya, dulu pertama kita kenal kamu mahasiswi baru lho di kampus ini."
"Ya, karena waktu menjadi cepat berlalu jika kita menjalani hari-hari yang menyenangkan."
__ADS_1
"Itu kan kata-kataku dulu."
"Hehehe ya udah sekarang kita makan yuk buat merayakannya." Ucap Riri.
"Setuju." Jawab kami serempak.
Kami pun menuju warung nasi uduk Bi Eha di sebrang kampus.
"Wah anak-anak gadis Bibi akhirnya lulus juga, selamat ya Ri, Ren." Ucap Bi Eha.
"Iya Bi, makasih ya." Jawab Riri dan Reni.
"Eh Bi, ngomong-ngomong jangan lupa ya dua hari lagi datang ke acara lamaran aku." Ucapku mengingatkan Bi Eha.
"Iya Dit, nggak kerasa ya kalian udah mau lamaran aja, padahal seperti baru kemarin kamu berdiri di sini menyaksikan Riri dan teman-temannya masuk ke kampus." Ucap Bibi mengenang perkenalan pertamaku dengan Riri.
"Udah dulu ya mengenang masa lalunya, aku laper nih Bi hehehe." Ucap Bams.
"Kalau begitu Bibi buatkan nasi uduk spesial untuk merayakan kelulusan kalian." Kata Bi Eha lagi.
Bi Eha memang adalah saksi perjalanan cintaku dari awal aku mengenal Riri, hingga tak terasa beberapa hari lagi tibalah saatnya untuk kami menapaki satu tingkat lebih tinggi perjalanan itu...Pernikahan.
Malamnya setiba di rumah aku teringat dengan Sinta, Sinta pernah memintaku untuk mengundangnya di acara spesial kami, sudah berbulan-bulan ini aku tak menghubunginya, padahal dahulu sesaat setelah kepindahannya aku sering menelponnya untuk meminta nasihat mengenai pekerjaanku sebagai kepala HRD.
Aneh, kali ini ponsel Sinta tak bisa di hubungi, aku sudah mencobanya beberapa kali tapi nomornya sudah tak aktif lagi, kenapa dia tak mengabariku jika ganti nomor? Dalam lamunan tak lama kudengar bel rumahku berbunyi.
"Wah calon pengantin bengong aja, kenapa toh Dit?" Ucap Wahyu ketika memasuki rumah.
"Eh kamu Yu, tumben main ke sini."
"Iya Dit, sebentar lagi kan lamaran kamu, aku kesini mau ucapin selamat sama kamu."
"Kamu dateng ya di hari lamaranku nanti."
"Tentu, aku pasti datang bersama Ibu dan adik-adik aku."
"Wah bagus kalau begitu Yu, nanti kita berangkat bersama dari sini menuju rumah Riri ya."
"Oh iya Dit, aku datang ke sini bukan hanya untuk mengucapkan selamat, maksudku ke sini mau memberitahu kamu jika nanti di hari pernikahanmu aku akan menyumbang sayuran untuk keperluan resepsi kamu." Ucap Wahyu.
"Menyumbang Yu? secara gratis maksud kamu?"
"Iya Dit."
"Wah nggak usah Yu, nanti kamu rugi, memang rencananya nanti aku mau menghubungimu untuk memesan bahan makanan di pesta pernikahanku."
"Walah ndak rugi toh Dit, ini caraku membalas kebaikan hati kalian, dulu kan berkat kalian juga hingga aku bisa seperti sekarang ini."
Setelah itu Wahyu pamit dan malam itu pun berakhir.
__ADS_1