
"Sayang mau pecel lele." Kata Riri pada malam harinya.
"Ngidam lagi?" Jawabku.
"Nggak...Aku laper, tadi kan nggak ikut makan malam bersama karena mual."
"Oh kirain, nggak harus jalan kaki lagi kan?" Kataku lagi.
"Ngapain kesana jalan kaki, kayak nggak ada kerjaan aja, kan ada Pak Iwan."
"Iya...Iya, aku minta tolong Pak Iwan dulu ya."
Selang beberapa lama Pak Iwan telah kembali sambil membawakan pesanan kami, Isteriku makan dengan sangat lahap, tapi setelah makan ia memuntahkan makanan itu kembali, mual katanya.
Waktu terus berlalu, bulan ke bulan kami jalani, Riri masih saja merasakan mual pada kehamilan anak pertama kami, membuatnya menjadi lebih kurus dari sebelumnya, aku sudah meminta bantuan pada Pak Dokter yang kini telah pindah ke Jakarta, tapi itu tak banyak membantu.
Kini kehamilan Riri telah memasuki bulan terakhirnya, perutnya semakin membesar walau tubuhnya terlihat lebih kurus.
"Sayang sebentar lagi anak kita lahir, kamu makan yang banyak ya." Kataku hari itu.
"Bukannya nggak mau sayang, tapi aku terus saja merasa mual jika mencium aroma makanan." Jawabnya.
Ia memang selalu memaksakan untuk makan selama ini, mungkin hanya sedikit makanan yang di cerna oleh tubuhnya, sedangkan sisanya selalu di muntahkan.
"Nggak usah khawatir seperti itu sayang, toh aku baik-baik saja kan." Ujar Riri tersenyum.
"Bagaimana aku tak mengkhawatirkanmu, jika setiap hari kamu selalu seperti ini." Jawabku.
"Doakan saja aku dan anak kita selalu sehat sampai lahiran nanti." Katanya lagi.
Pagi itu seperti biasa aku mengajak Riri jalan-jalan di taman agar lancar ketika lahiran nanti, Riri selalu tersenyum walau dengan kondisinya yang sekarang, dia memang wanita kuat dan tegar, walau kutahu kehamilan ini menyiksa tubuhnya.
"Sayang, kalau anak kita lahir nanti mau di kasih nama siapa?" Tanya Riri.
"Wah aku belum siapin lagi sayang, waktu itu aku cari nama anak perempuan, eh ternyata kata Dokter kelamin anak kita laki-laki setelah USG kemarin." Jawabku.
"Kalau gitu cepat cari sayang, prediksi Dokter beberapa hari lagi aku melahirkan lho, masa nanti anak kita belum punya nama." Ucapnya.
Siang itu ketika berada di rumah tampak Bams dan Reni datang.
"Eh Bams, Ren, tumben hari libur ke sini?" Tanyaku ketika melihat mereka.
"Iya bos, kami mau menyampaikan kabar gembira." Ucap Bams.
"Apa itu?" Kataku.
"Bulan depan kami mau menikah bos, Kami mau meminta bos untuk menjadi pendampingku." Kata Bams.
"Wah serius? Aku senang mendengarnya, akhirnya kalian menikah juga menyusul kami, baiklah aku akan datang, mungkin saat itu Riri sudah bisa pergi setelah melahirkan." Kataku yakin.
"Eh ada Reni sama Bams, ada apa?" Ucap Riri sambil menuruni tangga.
"Ini lho sayang, mereka mau mengabari kita bahwa bulan depan akan menikah." Jawabku.
"Serius? Selamat ya." Kata Riri sambil memeluk Reni.
"Neng Reni nggak mau pikir-pikir lagi? Nanti nyesel lho." Sambung Pay yang baru saja keluar dari kamar.
"Huuu...Bilang saja kamu sirik, kasihan Neng Rai nggak di nikah-nikahin." Jawab Bams.
Pay menghampiri Bams, dia menjulurkan tangannya dan memberi selamat pada mereka, hingga akhirnya Bams memeluk sahabat sekaligus rivalnya itu.
"Lu nggak usah repot-repot ke sini ngundang gw, gw pasti dateng." Ucap Pay sambil berpelukan.
"Gw kesini mau ngundang bos Adit dan bos Riri kok, bukan lu." Jawab Bams membuat kami tertawa.
__ADS_1
Malam itu di kamar kami tak seperti biasanya Riri memintaku bernyanyi untuknya.
"Sayang, aku udah lama lho nggak dinyanyiin kamu, aku kan kangen." Ujar Riri.
"Wah tumben banget kamu, serius nih mau aku nyanyiin?" Kataku.
"Iya nih, Dede bayi yang mau denger suara Papanya." Kata Riri lagi.
"Ok...Bentar aku ambil gitar dulu." Kataku dan beranjak mengambil gitar yang sudah lama tak gunakan. " Mau lagu apa nona cantik?" Tanyaku.
"Kamu tau lagu jikustik nggak sayang? yang judulnya puteri/Pandangi langit malam ini."
"Ya tau lah, stok lagu aku banyak tau." Kataku menyombongkan diri.
"Ya udah kamu nyanyi sekarang."
...Putri, jangan menangis...
...Hapus air mata...
...Di wajah cantikmu...
...Putri, kepergianku...
...Tak akan lama...
...Tahan rindumu...
...Putri, seandainya saja...
...'Ku bisa menghentikan waktu...
...Kuhentikan waktu...
...Bila kau rindukan aku, Putri...
...Coba kau pandangi langit malam ini...
...Bila itu tak cukup mengganti...
...Cobalah kau hirup udara pagi...
...Mungkin dengan perpisahan...
...Kita 'kan mengerti arti pertemuan...
...Putri, percaya padaku...
...Ini hanya likuan hidup...
...Yang pasti berakhir...
...Bila kau rindukan aku, Putri...
...Coba kau pandangi langit malam ini...
...Bila itu tak cukup mengganti...
...Cobalah kau hirup udara pagi...
...Putri, seandainya saja...
...'Ku bisa menghentikan waktu...
...Kuhentikan waktu...
__ADS_1
...Bila kau rindukan aku, Putri...
...Coba kau pandangi langit malam ini...
...Bila itu tak cukup mengganti...
...Cobalah kau hirup udara pagi...
...Bila kau rindukan aku, Putri...
...Coba kau pandangi langit malam ini...
...Bila itu tak cukup mengganti...
...Cobalah kau hirup udara pagi...
...Putri, jangan menangis....
...(Jikustik-Pandangi langit malam ini)...
Entah mengapa air mataku menetes setelah menyanyikan lagu itu.
"Sayang, kamu nangis?" Tanya Riri.
"Nggak tau nih sayang, entah kenapa air mata ini keluar sendiri." Kataku.
"Ih kamu cengeng, kamu kan laki-laki apalagi mau jadi Papa, jangan nangis gitu ah malu sama Dede bayi." Kata Riri sambil mengusap perutnya.
"Iya maaf, aku janji apapun yang terjadi aku nggak akan nangis lagi untuk kamu dan anak kita." Jawabku.
Riri kemudian memelukku dengan hangat, dia memeluk erat tubuhku yang duduk di hadapannya, sesekali kucium rambutnya yang harum itu.
Malam itu aku bermimpi, mimpi yang sama seperti tempo hari, aku, Riri dan anak kami sedang bersama di sebuah ruangan putih, dalam mimpi itu anakku selalu saja menangis, semua telah kulakukan untuk menghentikan tangisannya, entah mengapa anak kami tak mau berhenti menangis, Riri terdiam, dia hanya melihatku menggendong bayi kecil itu, malah tak lama dia pergi meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun.
Aku tersentak dari tidurku dan terbangun ketika hari sudah pagi, Riri tak ada di tempatnya, aku mencarinya dan ternyata dia sedang memasak di dapur.
"Sayang, kamu ngapain? Ini masih pagi banget lho, yang lain aja belum pada bangun." Kataku.
"Masak sarapan buat kamu dong, hari ini kan kamu kerja." Jawab Riri.
"Tumben, biasanya juga Bibi yang masak."
"Nggak apa-apa, lagi pengen aja masak buat suamiku tercinta." Katanya tersenyum.
"Ya sudah kalau gitu aku mandi dulu ya, nanti aku ke meja makan ketika sudah selesai."
Ketika selesai aku menuju ke meja makan, tampak semua orang sudah berada di sana, mereka semua sedang menikmati masakan buatan Riri.
"Ayo sayang makan bersama." Ucap Riri.
"Iya sayang." Jawabku.
"Dit, masakan Riri enak banget lho, gw aja sampe nambah." Ucap Pay.
"Iya Dit enak banget." Sambung Kak Sinta.
Aku pun memakan masakan buatan Isteriku pagi itu.
"Wah sayang, ini enak, hebat kamu." Kataku memuji Riri.
"Iya dong, aku kan selama kamu kerja selalu belajar masak sama si Bibi." Jawab Riri.
"Wah kok aku nggak tau, kamu emang Isteri dambaan setiap lelaki sayang, aku beruntung dapetin kamu...I Love You." Kataku.
"Love u too." Balas Riri.
__ADS_1
"Hueeek...Boleh muntah nggak." Kata Pay membuat semua tertawa.
Selesai sarapan seperti biasa aku, Pay dan Kak Sinta berangkat kerja bersama.