Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Anakku


__ADS_3

"Mati kau orangtua sialan." Kata Rezky sambil menendangi tubuh Papa yang berada di kakinya.


Melihat itu pun kemudian aku bangkit dan memukuli punggung Rezky.


"Lepaskan Papaku." Kataku berteriak padanya.


"Sabar sayang, tunggu giliranmu." Katanya sambil menyeringai dan menoleh kearahku.


Papa masih saja mengigit kaki Rezky, dia tak melepaskannya, membuat Rezky semakin menggila dan menyiksanya, alangkah sialnya malam itu tak ada satupun Dokter atau Suster yang melintas di depan ruangan kami.


"Mati kau...Mati...Mati." Katanya sambil terus menendangi Papa.


Aku menangis melihat kekejaman yang dilakukannya tepat di hadapanku, saat ini dia sedang menyiksa Papa dan aku tak bisa berbuat banyak, hingga akhirnya dia kesal karena Papa tak mau melepaskannya, dia pun menendang bagian kepala Papa hingga Beliau akhirnya terkulai lemas dan tak sadarkan diri.


"Kamu kejam Rez, kamu gila." Kataku sambil menangis.


"Dasar orangtua yang menyusahkan, akhirnya selesai juga, sekarang waktunya giliranmu tiba sayang." Kata Rezky berbalik ke arahku.


Dia terus mendekat hingga membuatku terpojok di sofa itu, dia menusukku tapi aku dapat menghindarinya dan mengakibatkan pisaunya menancap di sofa tersebut.


Rezky semakin kalap dan akhirnya dia mencekik leherku, membuatku tak bisa bernafas hingga tak lama lengan Rezky tertembak oleh seseorang.


Rezky berteriak kesakitan dan melepaskan tangannya dari leherku, aku berlari menjauhinya dan menuju arah suara tembakan, ternyata itu adalah Pak Detektif yang datang bersama Reni, ternyata Reni mengetahui kejadian itu karena sebelum Bams pingsan dia sedang menelpon Reni dan Reni telah mendengar semuanya lalu menghubungi Pak Detektif.


"Syukurlah masih sempat." Kata Reni.


"Menyerah atau kutembak Rezky Darmono." Ucap Detektif itu dalam bahasa Perancis.


Rezky mundur dan langkahnya terhenti di depan jendela ruangan itu, dia melirik ke arah luar jendela dan tak lama ia nekat melompat Dari lantai 2 Rumah Sakit dimana kamar Papa berada.


Detektif itu berlari ke arah jendela lalu menembaki Rezky yang ada di bawah, tapi dia berhasil melarikan diri untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Detektif menuju ke luar untuk mencari Rezky sambil menghubungi rekan-rekannya, sementara aku melihat keadaan Papa yang masih terbaring di lantai.


"Pa...Papa bangun Pa." Kataku sambil mengguncang-guncangkan tubuh Papa.


Bams yang sedari tadi tak sadarkan diri pun lalu terbangun, akhirnya dia dan Reni memanggil Dokter yang bertugas.


Papa membuka matanya lalu Beliau mengusap air mataku.


"Jangan menangis Nak, kamu harus kuat." Kata Papa.


"Papa pasti pulih Pa, kita pasti bisa sama-sama lagi." Kataku.


"Kalau Papa tiada kamu berikan halaman terakhir dari jurnal Papa yang Papa simpan di laci kamar untuk Adit ya Nak." Kata Papa.


Tak lama Papa tak sadarkan diri kembali, lalu Dokter datang untuk memeriksanya dan mengelengkan kepala pertanda Papa sudah tiada, Ya...Papaku meninggal pada hari itu di iringi dengan tangis kami bertiga yang pecah di depan jenazahnya.


Keesokan harinya Bams mengurusi semua berkas untuk kepulangan Papa dengan di bantu oleh orang kepercayaan Papa yang selama ini menggantikannya mengurusi bisnis hotel di Perancis.


"Ri...Sudah Ri, ikhlaskan kepergiannya." Ucap Reni.


"Ren Papa Ren...Papa pergi, sekarang aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi."


"Kamu masih punya aku Ri, aku akan selalu berada di sampingmu."


Setelah semua keperluan selesai di urus akhirnya kami kembali ke Indonesia, sesampainya di rumah telah berkumpul orang-orang terdekat kami untuk mengantarkan Papa ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Malam itu aku menyendiri di rumah karena tak mau di temani siapapun , tangisku belum berhenti sambil memegang foto Papa dan aku ketika masih kecil.


"Pa, sekarang Papa sudah menyusul Mama ke Surga, yang tenang ya Pa, Riri sayang sama Papa." Ucapku.


Seketika aku teringat pesan terakhir Papa yang berkata untuk memberikan halaman terakhir dari jurnalnya kepada Adit, aku menuju kamar Papa dan mengambil jurnal tersebut, kubuka dan kubaca halaman terakhir yang berisi tulisan tangan Papa.

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu aku bertemu seorang pemuda yang mengingatkanku pada Masa lalu.


Nama pemuda itu Aditya Pratama, kemarin aku telah menyelidiki latar belakangnya, ternyata benar dia adalah putra dari Yanti.


Sepertinya dia menjalin kasih dengan Riri Puteriku, aku sangat senang, tapi aku juga merasa takut, takut kalau akhirnya dia tahu siapa aku sebenarnya.


Dia pasti akan membenciku jika tau aku adalah penyebab kematian Sigit, aku memang sangat merasa berdosa selama ini, tapi sesungguhnya aku tak pernah menginginkan sahabatku itu meninggal.


Awalnya aku hanya ingin memberinya pelajaran karena aku sempat membencinya karena telah merebut Yanti dariku, tapi setelah melakukan itu aku kemudian tersadar bahwa perbuatanku salah.


Waktu itu aku mencari ke tempat tinggalnya tapi ternyata dia sudah pindah ke sebuah rumah kecil bersama keluarganya, aku sungguh merasa bersalah, aku bermaksud memperbaiki semuanya, hari itu aku ingin memberikan salah satu perusahaanku sebagai ganti perusahaannya yang telah kuhancurkan, tapi ternyata aku terlambat, karena aku mendapat kabar bahwa sahabatku itu tengah terbaring di Rumah Sakit.


Aku pun menyusulnya ke Rumah Sakit, aku ingin menemuinya untuk meminta maaf tapi sesampainya di sana aku melihat Yanti terus mendampinginya, aku merasa malu bertemu dengan Yanti setelah apa yang kulakukan.


Kutunggu berhari-hari di Rumah Sakit itu hingga akhirnya aku melihat Yanti pergi bersama anak-anaknya, aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu lalu menemui Sigit sahabatku.


Hari itu aku melihat sahabatku terbaring di ranjang Rumah Sakit, tubuhnya kurus tapi dia masih bisa tersadar, dia melihatku masuk ke ruangan itu lalu memanggil namaku.


Aku menangis lalu memeluknya, aku meminta maaf padanya, dia berkata bahwa dia tak pernah membenciku, dia bilang dia sangat rindu hingga membuat tangisku semakin pecah.


Oh Tuhan setan apa yang selama ini merasukiku, hingga aku membuat sahabat sejatiku menjadi seperti ini, tak lama dia berkata bahwa Puteraku telah tumbuh menjadi seorang anak yang tampan dan selama ini dia selalu menyayanginya dan merawatnya dengan baik.


Bahkan dia berkata wajahnya malah terlihat mirip dengannya dan sama sekali tak mirip denganku, dia juga berkata telah mengubah sedikit cerita kepada semua orang awal hubungannya dengan Yanti yang saat itu tengah hamil muda, agar orang lain mengira bahwa Adit adalah anak kandungnya karena tak mau seumur hidup Adit di cap orang sebagai anak haram, dia tertawa dan tak lama menghembuskan nafas terakhirnya.


Ya Adit adalah puteraku, karena dahulu aku meninggalkan Yanti dalam keadaan hamil, aku meninggalkannya, saat tersadar dan ingin bertanggung jawab ternyata Yanti telah bertunangan dengan Sigit, Sigit rela bertanggung jawab karena aku melarikan diri saat itu, tapi aku malah membencinya karena menganggap dia telah merebut Yanti dan juga Puteraku yang tengah di kandungnya.


Hingga kemudian aku menikahi seorang gadis kaya, aku tak mencintainya bahkan sejak menikah pun aku tak pernah menyentuhnya, karena aku masih sangat mencintai Yanti, tapi wanita itu terus mencintaiku dengan tulus dan ternyata setelah tiga bulan pernikahan isteriku di vonis terkena kanker otak dan umurnya tak akan lama, aku merawatnya selama sisa hidupnya, aku pun mulai mencintainya, tapi semua terlambat hingga akhirnya ia meninggal.


Tak lama setelah kepergian Isteriku, aku mendengar kabar dari salah satu pegawaiku bahwa di Panti Asuhan dekat rumahnya ada seorang Bayi yang di buang oleh keluarganya, dia berkata bahwa bayi itu sudah tak mempunyai orangtua karena meninggal dalam sebuah kecelakaan, sedangkan tak ada keluarga yang mau mengurusnya dan membawanya ke Panti itu, karena aku merasa Iba dan juga kesepian, aku lalu mengangkatnya sebagai anak dan kuberi nama Riri, sama seperti nama mendiang Isteriku.


Selama ini aku berbohong kepada Riri dengan mengatakan Ibunya meninggal sewaktu melahirkannya, aku sangat menyayangi anak itu seperti Putri kandungku sendiri, aku harap dia tahu kebenarannya melalui tulisan ini suatu saat nanti, karena aku tak sanggup untuk memberitahunya sendiri.

__ADS_1


Karena itulah mengapa aku sangat senang Riri berpacaran dengan Adit, aku berharap mereka berjodoh dan Adit dapat memaafkan semua dosa-dosaku.


__ADS_2