
Sesampainya dirumah mempelai kamipun lalu mencari tempat duduk karena acara akad nikah akan segera dimulai.
"Pas banget sampe nya kamu sih cari kado kelamaan untung nggak ketinggalan." Ujarku.
"Iya maaf."
Tak lama kemudian acara akad nikah itu dimulai, aku dan Riri dengan khusyuk mengikuti jalan nya acara tersebut.
"Sah?" Tanya penghulu kepada para tamu undangan.
"Sah." Jawab kami dengan serentak.
Setelah mengucapkan syukur lalu kami semua yang hadir bergantian memberi selamat kepada kedua mempelai.
"Selamat ya Bi Eha dan Pak Iwan akhirnya resmi juga nih mudah-mudahan langgeng ya." Ucap Aku dan Riri memberikan selamat.
"Iya Dit, kamu kapan nyusul? Jangan kelamaan pacarannya." Balas Bi Eha.
"Waaah masih lama kali bi, Riri aja masih kuliah, doain aja ya bi."
Setelah selesai memberi selamat dan kado kepada kedua mempelai kamipun pamit untuk undur diri, dalam perjalanan kami masih saja membicarakan acara tadi.
"Bi Eha sama Pak Iwan keliatan bahagia banget ya Dit." Ucap Riri.
"Bahagia lah namanya juga nikah, gimana sih kamu."
"Aku juga mau dong kayak mereka." Sambung Riri.
"Mau kayak mereka...? Tua maksud kamu." Jawabku sambil tertawa.
"Iiiih Adit jahat banget sih, langgeng sampe ke jenjang pernikahan maksud aku."
"Iya Sayang kan aku pernah bilang selepas kamu kuliah aku akan Dateng kerumah buat ngelamar kamu."
Perkataanku membuat Riri tersenyum dan memegang tanganku.
"Oh iya Ri aku lupa bilang sama kamu, senin nanti aku mau ke Bali lho sama Sinta."
"Acara apa Dit?"
"Seminar akbar perusahaan papa kamu se Indonesia."
"Pergi sama kak Sinta aja berdua?"
"Iya kan 1 Kantor perwakilan nya cuma 2 orang."
"Berapa hari emang nya?"
"Kayaknya 3 hari deh, mungkin besok malam berangkat, karena acara seminarnya kan Senin."
"Yaaaah bakal kangen dong aku, ya udah deh aku anter ya pokok nya ke Bandara, gak boleh nolak pokoknya, titik."
"Iya iya tuan puteri."
Sesampainya kami di kontrakan ponselku berbunyi dan ternyata itu dari Sinta.
__ADS_1
"Halo Sin kenapa?"
"Aku cuma mau ngabarin besok malem kita berangkat bareng ya Dit."
"Wah aku besok berangkat ke bandara di anter Riri tuh Sin, tapi kalau kamu mau nanti aku sama Riri jemput kamu dirumah, gimana Sin?"
"Oooh sama Riri ya, ya udah ngga usah repot-repot biar aku naik taxi aja."
Sinta lalu menutup telpon itu.
Keesokan malamnya tibalah hari keberangkatanku ke Bali dan Riri sudah menjemputku ke kontrakan dengan mobilnya.
"Sayang ayo cepet nanti kamu telat lho."
"Iya iya ini juga udah siap kok."
Akhirnya kamipun berangkat menuju Bandara.
"Kalo ke bandara ini aku inget pertama kita jadian lho Dit." Kata Riri.
"Iya aku juga Inget kok, kamu kan bohongin aku, bilang mau pindah ke Jepang segala lagi."
"Hihi kalo nggak gitu kan kamu nggak mungkin mau ketemu aku waktu itu."
"Pacarku ini emang paling bisa ya."
Setelah memarkir mobil kami berdua menuju ke terminal tempat Sinta menunggu.
"Hai Sin." Sapaku.
"Oh hai Dit, Ri."
"Riri setia banget ya nemenin Adit malem-malem gini, takut Adit nya diambil orang ya?" Tanya Sinta.
"Kak Sinta bisa aja, nggak kok Kak, kalo aku sih percaya bahwa Adit nggak akan macem-macem dibelakang ku."
"Iya aku tau kok Ri Bahwa Adit laki-laki yang baik, kamu beruntung bisa dapet pacar sebaik Adit."
"Bisa aja kamu Sin, jadi malu aku, aku kok yang beruntung dapet pacar sebaik Riri, iya nggak sayang." Ucapku sambil mengusap kepala Riri.
"Oh iya Ri, Adit udah cerita belum waktu dia nyelamatin aku pas mantanku dateng kerumah maksa aku ngajak balikan? Mana Adit ngaku-ngaku jadi tunangan ku lagi terus ngerangkul sama ngecup keningku biar laki-laki brengsek itu pergi dari rumahku hahahaha."
Riri hanya terdiam mendengar perkataan Sinta dan memandangi wajahku.
"Ya udah ya Ri sepertinya pesawat nya udah mau berangkat tuh, ayo Dit." Sambung Sinta.
Kemudian Riri memelukku sebelum aku berangkat menuju pesawat.
"Aku selalu percaya kok sama kamu." Bisik Riri.
Lalu pesawat itu pun berangkat menuju Bali.
"Sin kenapa kamu bilang begitu sama Riri."
"Bilang apa? Masalah kamu ngaku jadi tunanganku?"
__ADS_1
"Iya, aku ngelakuin itu karena waktu itu aku cuma nggak mau lihat kamu diganggu sama mantan kamu, nggak lebih."
"Emang nya kenapa kalau Riri tau? Kamu takut dia marah? Toh kalau dia emang sayang dan percaya sama kamu dia juga bakal ngerti kamu ngelakuin itu semua cuma buat nyelamatin aku."
Perlahan Sinta pun berusaha memegang tanganku tapi aku terus menghindar dengan menjauhkan tanganku darinya.
Beberapa jam kemudian akhirnya kami tiba di Bandara Ngurah Rai Bali.
"Wah akhirnya sampai Sin, ini pertama kalinya aku menginjakan kaki di Bali."
"Ya Dit sekarang kita tinggal nunggu di jemput sama sopir hotel ya."
Tak lama Sopir hotel pun tiba untuk menjemput kami, sesampainya kami di hotel kami pun menunggu pihak hotel untuk memberikan kami kunci kamar.
"Memangnya kamu sudah pesen kamar sebelumnya Sin?"
"Lho emangnya kamu nggak tau Dit? Hotel bintang lima ini juga kan punya papanya Riri jadi kita tinggal nunggu pihak hotel sediain kamar buat kita."
"Oh jadi nanti seminar nya juga di hotel ini ya Sin?"
"Iya, kamu beruntung bisa dapetin Riri karena Usaha papa nya ada dimana-mana dan si berbagai bidang Dit."
"Aku kenal Riri dan sudah suka sama dia bahkan sebelum aku tau siapa dan apa latar belakang dia, jika ternyata dia bukan orang kaya sekalipun bahkan aku tidak peduli dan akan tetap bersamanya."
"Wah ternyata Riri yang beruntung dapet pacar seperti kamu Dit, andaikan saja aku punya pacar seperti kamu, pasti aku bisa bahagia banget."
Tak berapa lama pihak hotel memberikan 2 kunci kamar kepada kami.
"Ayo Dit kita ke kamar, tapi sebelum istirahat nanti kamu siapin ya bahan untuk seminar besok."
"Iya Sin."
Akupun kemudian menaruh semua barang bawaanku di kamar, tak lama telpon yang ada di kamarku berbunyi.
"Dit bisa ke kamarku sebentar nggak?" Ujar Sinta.
"Lho ada apa emang nya Sin?"
"Ini ada bahan tambahan untuk seminar besok, jangan lupa bawa laptop kamu."
"Oh oke Sin aku segera kesana."
Sesampainya di kamar Sinta aku langsung menyalakan laptop ku dan kemudian Sinta pun duduk di sebelahku.
"Mana bahan nya Sin?"
"Sebentar aku bongkar koperku dulu Dit soalnya flashdisk nya aku taruh di dalam koper."
Sambil menunggu Sinta mencari flashdisk nya akupun melanjutkan mengetik bahan rapat untuk besok.
"Ini Dit Flashdisk nya." Ucap Sinta sambil duduk di sebelahku.
Tanpa sengaja aku menjatuhkan flashdisk yang Sinta berikan kepadaku, lalu secara bersamaan kami berdua mengambil flashdisk itu, dan tanpa sengaja wajah kami bertemu begitu dekat.
__ADS_1
Sinta memandang wajahku dan kemudian menutup kedua matanya, wajahnya semakin mendekat ke wajahku.
"Oh tuhan Situasi apa ini, dadaku berdegup kencang sekali, apa yang harus kulakukan?" Kataku di dalam hati.