
"Ngapain sih A ngajak dia." Ucap Jessica ketika melihat Iman.
"Lho kan kamu bilang bahwa Mamahmu undang keluargaku makan siang, Iman ini kan keluargaku juga." Jawabku.
Ternyata jawabanku membuat Jessica tak bisa berkata lagi.
"Sudah...Sudah, kamu juga Jess, kamu nggak boleh jahat gitu sama orang." Ucap Mamah Jessica.
"Hai tante, aku Adit, ini temanku Pay dan adiknya Tiwi dan satunya lagi Iman, kalau Rai rasanya tidak usah aku kenalkan ya Tan." Kataku memperkenalkan diri.
"Oh jadi ini Adit anak sulungnya Yanti toh, ganteng ya, pantas Jessica maksa Tante untuk undang kalian, padahal sebelumnya dia nggak pernah lho ngundang cowok makan di rumah."
"Tante kenal Ibuku toh." Ucapku.
"Iya Nak, Tante dan Ibumu teman masa kuliah dulu, bahkan sepeninggal Ayahnya Jessica pun Ibumu yang selalu mendengarkan curhatan Tante, ngomong-ngomong Ibu kalian kemana?" Tanya Mamah Jessica.
"Ibu ada pekerjaan Tan, jadi nggak bisa ikut hari ini." Jawab Rai.
"Ya sudah nggak apa-apa, kalau begitu kalian ngobrol-ngobrol dulu di teras ya, Tante siapkan dulu makanannya sambil menunggu Mas Andre." Kata Mamah Jessica lalu meninggalkan kami masuk kedalam rumah.
"Mas Andre siapa Jess?" Tanyaku.
"Itu lho A, berondongnya Mamah, lagian aku kesel Mamah pake ngundang dia segala, terus ini lagi si Iman ngapain kamu liatin aku terus." Ucap Jessica.
"Habis kamu cantik." Jawab Iman.
"Dit...Dit." Kata Pay berbisik padaku.
"Napa Pay, udah laper lu." Jawabku.
"Bukan...Kayaknya gw pernah lihat deh Ibunya Jessica tapi dimana ya gw lupa." Kata Pay lagi.
"Ngarang lu, liat dimana?"
"Lupa gw, ya udah lupakan lah." Kata Pay.
Tak berapa lama ada mobil masuk dan parkir di rumah Jessica.
"Mobil siapa itu Jess?" Tanyaku.
"Itu mobil Mamah yang di bawa sama orang nggak tahu malu." Jawab Jessica tampak kesal.
"Oh itu Mas Andre?" Kataku lagi.
Orang itu keluar dari dalam mobil, tapi betapa terkejutnya kami ternyata orang yang di sebut Mamah Jessica dengan nama Mas Andre itu adalah Doni si penipu, Pay berdiri dari tempat duduknya, tangannya mengepal, tampak wajahnya sangat geram melihat Doni hingga akhirnya aku menahan dirinya.
__ADS_1
"Sabar Pay, jangan membuat keributan di sini." Kataku.
Aku ingat, benar kata Pay bila sebelumnya dia pernah melihat Mamah Jessica, ternyata dia adalah wanita paruh baya yang kami lihat tempo hari ketika sedang mengamen dan mencoba mengejar Doni tapi kehilangan jejaknya.
Doni berjalan ke arah kami dan tak lama ia menghentikan langkahnya karena melihat wajah kami dari dekat, tampak raut muka ketakutan di sana, pastilah kejadian di panti asuhan dahulu sangat membekas dalam ingatannya.
Suasana berubah sedikit mencekam, tatapan tajam dariku dan Pay membuatnya tertunduk, di tambah lagi tatapan benci dari Jessica, aku sempat berpikir kenapa Jessica sebenci itu pada Doni.
Doni mundur kebelakang dan mencoba pergi dari tempat itu, tapi langkahnya terhenti karena Mamah Jessica keluar dan memanggilnya.
"Mas Andre." Katanya.
"I...Iya sayang." Jawab Doni.
"Mau kemana kok balik lagi." Tanya Mamah Jessica.
"Anu sayang tadi rekan bisnisku menelpon ngajak ketemu secara mendadak." Jawabnya.
"Aku nggak mau tau Mas, pokoknya hari ini kita makan bersama." Kata Mamah Jessica memaksanya.
Akhirnya Doni mau menerima tawaran untuk makan bersama siang itu, dengan sangat terpaksa tentunya.
Kami semua duduk di meja yang sama, sungguh sangat kebetulan posisi dudukku dan Pay berhadapan dengan Doni, dia tertunduk terus hari itu.
"Ng..Nggak apa-apa sayang." Jawabnya dengan nada gemetar.
"Oh ya sudah ayo anak-anak mulai makan siangnya, jangan malu-malu ya, anggap saja rumah sendiri." Ucap Mamah Jessica.
Makan siang telah dimulai dan Doni makan dengan kepala tertunduk, tentu dia sangat tertekan dengan kehadiran kami.
Krauk....Bunyi kerupuk yang di remas oleh Pay membuat Doni refleks menoleh kearah Pay, Pay menatap tajam matanya hingga Doni terlihat sangat ketakutan, tampak keringat mengucur deras di keningnya.
"Kenapa sayang sampai keringetan gitu." Tanya Mamah Jessica.
"Ini lho sambalnya pedas sekali." Jawabnya.
Klontang....Bunyi garpu yang terjatuh.
"Maaf Tante nggak sengaja, biar aku ambil." Ucapku.
Aku memang sengaja menjatuhkan garpuku kebawah meja makan yang berbentuk bundar itu, dan tentu saja aku arahkan ke dekat kaki si penipu.
Aku mengambilnya, setelah kupegang garpu itu lalu aku menusukannya ke kaki Doni, sontak dia berteriak dengan keras karena kesakitan.
"Kamu kenapa Mas?" Tanya Mamah Jessica.
__ADS_1
"Wah maaf Tante kaki Mas Andre tidak sengaja terinjak olehku." Jawabku.
"Gila lu Dit." Bisik Pay.
"Gw udah kesel Pay liat mukanya." Jawabku.
Tampak Jessica memperhatikan tingkah kami berdua, dia tersenyum dan mengangkat ibu jarinya.
Makan siang telah usai, tanpa banyak bicara Doni ijin pamit kepada Mamah Jessica, dia berkata bahwa rekan bisnisnya menunggu dan janjinya tak bisa dibatalkan, sedangkan kami berbincang di teras sebelum pulang.
"A kenapa kamu melakukan itu semua?" Tanya Jessica.
"Melakukan apa?"
"Mengerjai Andre." Katanya lagi.
"Jess kayaknya kamu harus berhati-hati sama orang itu, aku mengenalnya sewaktu di Jakarta, orang itu adalah penipu." Jawabku.
Aku menceritakan semua kejadian di Panti Asuhan hingga kejadian yang menimpa Pak Slamet pada Jessica, tak lama Jessica pun menitikkan air mata.
"Lho kok kamu nangis?" Tanyaku.
"Nggak apa-apa kok A." Jawabnya.
Firasatku Jessica menyembunyikan sesuatu, aku tak tahu apa itu, tapi pasti itu berhubungan dengan Doni.
Setelah berbincang kami pun pamit untuk pulang, kami semua sudah berada di dalam mobil kecuali Iman yang masih terlihat berbincang dengan Jessica, dia mencoba memegang tangannya tapi Jessica menolak lalu meninggalkannya ke dalam rumah.
"Kenapa Man?" Tanyaku ketika Iman sudah berada di dalam mobil.
"Nggak A, tadi aku cuma bilang bahwa aku sangat mencintainya, tapi dia malah meninggalkan aku kedalam rumah." Katanya tampak sedih.
"Sabar Man, pelan-pelan aja, mudah-mudahan nanti Jessica sadar bahwa ada kamu yang selalu mencintainya."
"Iya A makasih."
Sesampainya di rumah Iman pamit untuk pulang, sedangkan aku masih berbincang dengan Pay di teras.
"Gemes banget gw tadi, kalau lu nggak nahanin gw pasti udah habis itu penipu." Ucap Pay.
"Sabar Pay, sekarang kita sudah mengetahui keberadaannya, cepat atau lambat kita pasti bisa menyerahkannya pada Polisi."
Malam harinya Pay ku perintahkan untuk menghubungi Ibu Panti guna mengumpulkan bukti kejahatan Doni kepada Pak Slamet, Ibu Panti pun menyanggupi dan mendoakan kami agar bisa cepat menangkapnya.
Hingga tak lama Rai mengabariku bahwa Jessica menelpon dan ingin berbicara denganku.
__ADS_1