Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Sakit dan Patah hati


__ADS_3

Setelah menceritakan masalahku kepada Sinta aku justru semakin kepikiran dengan semua kata-kata yang diucapkannya.


"Apa mungkin Riri jenuh sama gw, atau mungkin memang ada lelaki lain yang membuat dia nyaman, ah gw nggak bisa bertanya-tanya gini, mumpung besok hari sabtu gw harus tanya langsung sama Riri."


Sabtu itu akhirnya aku memutuskan untuk pergi kerumah Riri, begitu sampai aku langsung menanyakannya kepada petugas keamanan yang berjaga dirumahnya.


"Pak Riri nya ada?"


"Wah mohon maaf mas Adit, non Riri nya baru saja pergi."


"Pergi kemana ya pak?"


"Kurang tahu saya mas."


"Oh ya sudah kalau begitu saya pamit ya pak."


Tapi sebelum pergi aku seperti melihat sosok Riri dari sela-sela gerbang rumahnya.


"Pak sepertinya saya lihat Riri tadi di dalam."


"Wah sepertinya mas Adit salah lihat mas."


Aku yakin sekali bahwa yang kulihat itu adalah benar-benar Riri, mengapa dia seperti menghindariku dan tidak mau bertemu denganku, ribuan pertanyaan timbul dalam kepalaku.


Lalu akupun menghubungi Sinta dan meminta bertemu dengannya.


"Sin kamu lagi dimana? Sibuk nggak?"


"Aku dirumah Dit, ada apa ya?"


"Aku boleh kerumah kamu?"


"Oh boleh Dit boleh sekali."


Lalu aku menuju rumah Sinta dan sesampainya disana.


"Masuk Dit, tumben kamu hari libur main kerumah aku."


"Iya Sin, aku lagi pusing nih."


"Pusing kenapa memangnya?"


Aku menceritakan semua tentang Riri kepada Sinta dan meminta tanggapan nya.


"Ya udah Dit nggak usah dipikirin aku yakin kok diluar sana masih ada seseorang yang lebih baik dari Riri dan mencintai kamu."


"Tapi Sin aku harus tau apa alasan Riri menjadi seperti ini."

__ADS_1


"Daripada kamu pusing terus lebih baik kita jalan-jalan yuk, sekalian bikin otak kamu fresh."


Akhirnya karena masalah yang sedang kualami akupun menerima ajakan Sinta, hitung-hitung untuk sejenak melupakan nya.


"Kita mau kemana Sin?"


"Sudah ikut aja biar aku yang nyetir karena kelihatannya kamu sedang banyak pikiran seperti itu."


Akhirnya Sinta membawaku ke tempat yang sering dia datangi untuk melupakan masalahnya, dan sesampainya kami disana.


"Lho kantor, mau apa kita ke kantor Sin?"


"Sudah kamu ikut aja."


Lalu Sinta mengajakku naik ke lantai paling tinggi di Gedung itu dan kemudian kami naik ke atap gedung melalui tangga.


"Ini adalah tempat aku untuk meluapkan dan melupakan semua masalah yang sedang aku alami Dit."


"Memangnya kamu sering datang kesini Sin?"


"Iya, itulah sebabnya kenapa aku sering pulang paling terakhir dari kantor, sekarang coba deh kamu lihat ke arah gedung-gedung itu lalu kamu teriak sekuat tenagamu."


"Nggak Sin, aku malu."


"Malu sama siapa Adit? Sama aku? udah santai aja ini akan jadi rahasia kita berdua kok."


Lalu akupun menerima saran dari Sinta dan bersiap untuk teriak dengan sekuat tenaga.


Aku meneriakan namanya di atap gedung itu.


"Gimana Dit, udah enakan?" Tanya Sinta.


"Wah kamu bener Sin hatiku sudah agak lega sekarang, makasih ya."


"Gak usah makasih segala kali Dit, aku seneng kok bisa bantu kamu."


Hari itu untuk pertama kalinya aku melewati malam Minggu ku bersama wanita selain Riri.


Keesokan harinya aku terus mencoba menghubungi Riri tapi tetap saja tidak membuahkan hasil.


Riri masih saja tidak mau mengangkat telpon ku tanpa aku tahu alasan dia sebenarnya, entah berapa puluh kali aku menelpon nya di hari itu.


Senin paginya aku berpikir aku tidak bisa terus seperti ini, rasanya hubungan kami menggantung tanpa kejelasan.


Akhirnya kuputuskan pagi itu untuk menunggu Riri di depan kampusnya sebelum aku berangkat kerja.


Jam 07:00 pagi aku sudah berdiri di depan kampus menunggunya, karena aku tahu biasanya dia datang ke kampus pada jam itu.

__ADS_1


15 menit kemudian kulihat mobil Riri datang dan berhenti tepat di depan kampus, Riri pun turun bersama Reni, sepertinya pagi itu mereka memang sudah janjian untuk datang ke kampus bersama.


Aku menyapa Riri tetapi dia mengacuhkanku dan malah terus mengobrol bersama Reni, mereka melewatiku begitu saja seakan aku tidak ada disitu.


"Ri tunggu." Kataku sambil menarik tangannya.


Tapi Riri kemudian melepaskan peganganku dan berlari masuk ke dalam kampus meninggalkan aku dan Reni di dekat gerbang itu.


"Sabar Dit aku percaya kok sama kamu, boleh aku minta nomormu."


"Emangnya ada apa sama aku Ren sampai Riri sebegitu bencinya kepadaku?"


"Kalau itu aku nggak berhak jawab Dit, nanti biar kalian selesaikan aja berdua, nanti aku yang mengatur pertemuan kalian tanpa sepengetahuan Riri."


"Kalau begitu terima kasih banyak Ren, sekarang aku pamit dulu untuk pergi kerja."


Setelah berpamitan dengan Reni akupun menjalani rutinitas ku di kantor seperti biasa, tapi hari ini aku benar-benar tak bersemangat menjalani hariku.


Selama ini aku lupa bahwa cinta bukan melulu soal tawa dan bahagia, ada sisi lain dari cinta yaitu sakit dan patah hati.


Siang hari pada saat jam Istirahat makan siang, seperti biasa Sinta menemaniku di kantin karyawan.


"Lesu banget kamu Dit hari ini, sudah nggak usah dipikirin nanti kamu bisa stress lho."


"Aku bingung Sin, bahkan aku nggak tau apa salahku sama dia sampai dia bener-bener nggak mau ketemu aku."


"Memang keterlaluan sih menurutku jika seseorang tiba-tiba menjauh tanpa memberi alasan, atau kamu mau aku yang temui Riri untuk menanyakan ada apa sebenarnya?"


"Nggak usah Sin, biar masalah ini kami selesaikan berdua, terima kasih ya kamu sudah mau peduli dan selalu mendengarkan permasalahanku."


"Iya Dit karena aku bahagia jika melihat kamu bahagia."


Malam harinya di kontrakan aku masih mencoba untuk menghubungi Riri, tapi masih sama seperti sebelumnya Riri tak mengangkat telponku.


Tak lama aku melihat ada chat masuk dan ternyata itu dari Reni.


Minggu pagi Taman kota pukul 08:00


Tertulis seperti itu dalam pesan Reni.


Hari-hariku kini kulalui tanpa dia yang selama ini menemaniku dan membuatku bahagia.


TUHAN AKU SANGAT MENCINTAINYA DAN AKU HARAP DIAPUN BEGITU.


Akhirnya satu Minggu pun telah berlalu dan hari ini aku mencoba menemuinya seperti apa yang Reni katakan melalui chat sebelumnya.


Pagi itu aku sudah berada di taman kota yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang hendak melakukan olahraga.

__ADS_1


Aku berlari-lari kecil menyusuri taman itu sembari mencari Riri dan Reni, setelah satu putaran aku melihat mereka sedang berada di pintu masuk taman kota itu, akupun hendak menghampiri mereka berdua, tetapi karena suasana taman pagi itu sangat ramai akupun kehilangan jejak mereka.


Aku kembali menyusuri taman itu dan dari kejauhan terlihat mereka berdua sedang berlari di depanku, kemudian akupun mempercepat langkahku mencoba menyusul mereka.


__ADS_2