
Keesokkan pagi nya sebelum berangkat ke kantor Riri sudah ada di kontrakanku untuk mengantarku pindah ke rumah yang baru.
"Ri kok bawa mobil kecil? Mana muat barang-barang aku, lemariku besar lho."
"Adit sayang kamu tinggal bawa baju dan barang penting kamu aja kok, disana kan semuanya sudah ada."
"Lalu lemariku gimana?"
"Ya udah tinggal aja disini hitung-hitung bonus buat yang selanjutnya ngisi kontrakan ini."
"Ok deh kalau begitu."
Setelah itu kami menuju rumah baru untuk tempat aku tinggal.
"Wah besar banget rumah ini Ri, tapi sayang aku cuma tinggal sendiri, pasti cape banget berisihinnya."
"Kata siapa kamu tinggal sendiri, mbok...Mbok yem ini mas Adit sudah datang." Riri memanggil seseorang yang bernama Mbok Yem.
"Eh mas Adit, perkenalkan mas nama saya Iyem asisten rumah tangga disini."
"Lho mbok kan asisten rumah tangganya Sinta." Kataku kepada mbok Yem karena dulu sewaktu Sinta masih menempati tempat ini aku sering melihatnya.
"Adit, Mbok Yem sudah jadi asisten rumah tangga dirumah ini bahkan dari kepala HRD sebelum Kak Sinta." Kata Riri menjelaskan.
"Iya mas saya ini sudah sepaket sama rumah ini." Kata mbok Yem sambil tertawa.
"Mbok tolong bawakan barang-barang Adit ke kamarnya ya karena dia mau langsung pergi ke kantor." Kata Riri lagi.
"Eh sebentar Ri aku lagi nunggu orang." Ucapku.
"Nunggu siapa Dit?" Tanya Riri.
"Tuh orangnya udah datang." Kataku seraya menunjuk sebuah mobil pickup yang datang.
"Hai Yu gimana kabarmu, sehat?" Aku menyapanya.
Memang benar orang yang sedang kutunggu adalah Wahyu karena aku ada sedikit keperluan dengannya.
"Oh mas Wahyu toh yang ditunggu, apa kabar mas?" Ucap Riri kepada Wahyu.
"Hai Dit, Ri, kabarku baik kalian sendiri bagaimana?" Jawab Wahyu.
"Seperti yang kamu lihat sendiri Yu, kami juga baik, oh iya Ibu dan adik-adikmu sehat?" Tanyaku padanya.
__ADS_1
"Mereka juga sehat Dit, wah aku ndak nyangka Dit akhirnya temanku bisa sukses seperti ini,selamat ya Dit." Kata Wahyu lagi.
"Iya makasih Yu, kamu juga sudah sukses sekarang, udah jadi juragan sayur."
"Walah Dit itu kan berkat kalian berdua juga,oh iya Dit ada perlu apa ya kamu menyuruhku kesini."
"Ini lho Yu aku mau minta tolong kamu untuk mengundang anak-anak yatim piatu yang ada disekitar rumahmu malam ini."
"Ada acara apa toh Dit?"
"Pengajian untuk selamatan rumah dan kenaikan jabatanku Yu."
"Adit mau ngadain pengajian? Kok nggak bilang sama Riri sih, nggak mau Riri dateng emangnya?" Kata Riri cemberut.
"Iya sayang maaf aku lupa, nanti malam kamu datang ya sama Pak Iwan dan Bi Eha."
"Baik Dit kalau begitu aku pamit mau mengundang anak-anak yatim piatu untuk pengajian malam ini." Kemudian Wahyu pun pamit.
"Ya udah kalau gitu aku juga pamit ya sayang, sebentar lagi jam kuliah dimulai."Kemudian Riri pergi ke kampus.
Sebelum berangkat kerja aku meminta tolong kepada mbok Yem untuk memasak dan menyiapkan semua keperluan untuk pengajian nanti malam, akupun menelpon bi Eha untuk meminta bantuannya agar bisa membantu mbok Yem.
Sesampainya di kantor para pegawai HRD menyambutku dengan ucapan selamat karena tampaknya mereka sudah mengetahui bahwa kini aku menggantikan posisi Sinta untuk memimpin bagian HRD tersebut.
"Maaf pak Adit sekarang ruangan bapak disana."
"Oh iya maaf saya lupa, sudah terbiasa disini."
Kemudian aku masuk keruangan itu, sungguh rasanya sangat berbeda sekali saat ini, aku punya ruangan kerja sendiri, aku tak pernah menyangka aku akan ada diposisi seperti sekarang ini.
Memang niat awalku merantau ke Ibukota untuk mencari pekerjaan, tapi aku tak pernah sekalipun memimpikan aku bisa seperti ini,karena memang Ijazahku hanyalah tamatan SMA.
Walau begitu karena didikan Sinta selama lebih dari satu tahun ini membuat aku sudah paham betul cara kerja di bagian ini, rasanya ucapan terimakasih saja tak cukup untuk aku sampaikan kepadanya.
Sepulang kerja Riri dan Pak Iwan menjemputku untuk pulang bersama kerumah, karena memang malam ini ada pengajian di tempat tinggal baruku itu.
Sesampainya dirumah kami pun menyiapkan semua keperluan untuk pengajian, makanan dan kue-kue pun telah siap untuk dihidangkan.
Malam harinya para anak yatim-piatu juga anak jalanan yang sudah kuundang sebelumnya pun datang beserta keluarga Wahyu, Ibunda Udin dan seorang pemuka agama untuk memimpin pengajian malam ini.
Pengajian berjalan khusyuk dan semuanya terlaksana dengan baik, setelah makan malam para anak-anak yatim-piatu dan anak jalanan itu pun pamit pulang, sebelum pulang aku memberikan santunan kepada anak-anak itu dan mereka amat senang, tampak kebahagiaan dari wajah mereka semua.
Melihat itu semua membuat hatiku sangat tenang karena aku bisa membagikan rezeki yang aku dapat untuk sesama.
__ADS_1
Selesai acara tinggalah aku, Riri, Mbok Yem, Bi Eha dan Pak Iwan yang membereskan semuanya.
"Pak Iwan dan bi Eha makasih ya, maaf lho udah merepotkan."
"Adit nggak usah makasih segala, bibi seneng kok bisa bantu kamu apalagi lihat kamu sekarang sudah seperti ini, kamu kan dari dulu sudah bibi anggap sebagai anak bibi sendiri." Ujar bi Eha.
Memang bi Eha adalah salah satu orang yang sangat berjasa buatku karena dia tahu awal perjalananku di Jakarta ini.
"Pesen bibi walau kamu sekarang sudah sukses tetap rendah diri ya nak." Ujarnya lagi.
"Iya bi, makasih ya buat semuanya, Adit pasti selalu ingat pesan bibi."
Lalu Bi Eha dan Pak Iwan pun pamit untuk pulang.
"Eh Dit dapet salam dari Reni, maaf katanya malam ini nggak bisa datang karena ada urusan keluarga." Ucap Riri.
"Iya Ri, salam balik ya buat Reni."
"Kalau gitu aku pulang dulu ya sayang."
"Mau aku antar gak kamu."
"Nggak usah kan aku bawa mobil."
"Oh iya Ri, besok kan sabtu, kamu bisa antar aku ke toko musik nggak? Aku udah lama nggak main gitar rasanya kangen juga."
"Ok kalau gitu sampai bertemu besok ya sayang." Riri pun pamit untuk pulang.
Malam yang melelahkan sekaligus menyenangkan, sekarang saatnya aku untuk tidur.
Akupun menuju ke salah satu kamar yang ada di rumah itu lalu kemudian merebahkan tubuh dan mencoba memejamkan mataku, tapi tiba-tiba Mbok Yem membangunkanku.
"Mas Adit bangun mas." Katanya sambil menepuk pundakku.
"Ada apa ya mbok? Sudah mbok istirahat saja sana,pasti mbok cape kan seharian bekerja."
"Maaf mas bukan seperti itu, tapi ini kamar saya, kamar mas Adit kan diatas."
"Oalah maaf mbok aku nggak tau." Kataku seraya keluar dari kamar itu.
Lalu aku menuju kamarku yang terletak di lantai dua, setelah masuk kamar aku tak menyangka bisa tidur dirumah mewah semacam ini, kamarnya besar dengan televisi dan pendingin ruangan di dalamnya.
Malam itu setelah mengucapkan syukur kepada Tuhan kemudian akupun tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1