Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Agustus


__ADS_3

Sore harinya kami bertiga tiba dirumah setelah menyelesaikan pekerjaan kami, setibanya disana ternyata sudah ada Riri yang sedang bermain bersama Tiwi.


"Sore nona-nona cantik." Kataku menyapa mereka.


"Eh sudah pulang Dit?" Sambut Riri.


"Kak Adit Tiwi dibeliin boneka belbi dong sama kak Lili." Kata Tiwi sambil menunjukan bonekanya.


"Wah bagus ya bonekanya, Tiwi suka?" Kataku lagi.


"Suka banget kak, nama bonekanya Cintia." Kata Tiwi dengan raut wajah yang gembira.


"Wah terimakasih ya Ri, selama ini aku emang nggak pernah beliin Tiwi mainan." Sambung Pay.


"Iya bang, eh ngomong-ngomong itu kenapa Bams daritadi cemberut aja?" Tanya Riri ketika melihat Bams.


"Hahahahaha masih kesel dia sama Pay gara-gara baksonya dikasih sambel banyak banget." Aku menjawab pertanyaan Riri.


"Ih bang Pay jahat banget sih." Kata Riri sambil tertawa.


"Nggak apa-apa bos Riri, tunggu nanti pembalasan gw manusia jamur." Ucap Bams membuat kami semua tertawa.


Malam harinya saat hendak tidur ponselku berbunyi dan ternyata yang menelpon itu adalah adikku Rai.


"Iya de, ada apa tumben telpon Aa?"


"A minggu depan aku libur Agustusan satu minggu lho."


"Iya terus kenapa de?"


"Rencananya aku mau liburan ke tempat Aa di Jakarta."


"Wah serius kamu de. Sama ibu juga?"


"Nggak A, ibu lagi banyak pesenan jahit jadi nggak bisa ditinggal, nggak enak katanya sama pelanggan.


"Oh gitu. Terus kamu mau Aa jemput atau gimana?"


"Ih nggak usah A, nanti kamu jemput aku di terminal aja, biar aku naik bus."


"Ya udah kalau begitu de, nanti kamu hati-hati ya dijalannya."


Telpon itupun berakhir dan aku sangat senang karena satu minggu lagi adik kesayanganku akan menghabiskan liburannya bersamaku.


Keesokan paginya Riri datang untuk melihat Tiwi sebelum berangkat ke kampus.


"Hai Dit, itu kok Bang Pay tidur di kursi teras sih." Katanya ketika baru datang dan melihat Pay yang tertidur.

__ADS_1


"Iya Ri, tadi habis mandi dia langsung bersihin mobil abis itu malah ketiduran di teras."


"Tiwi mana Dit?"


"Gitu ya sekarang kalau kesini yang dicari bukan aku malah Tiwi, kayaknya cintaku terbagi ya sekarang." Kataku menggodanya.


"Nggak dong sayang, kamu tetap numero uno di hati aku, maklum aku kan anak semata wayang jadi seneng banget kalau lihat anak kecil."


"Haha aku bercanda kok Ri, masa sama anak kecil aja aku cemburu, lagian aku juga sayang sama Tiwi."


Kemudian Riri menghampiri Tiwi yang sedang bermain dengan bonekanya diruang tengah, bersamaan dengan itu Bams datang dan berlari kedalam rumah.


"Bos ada terigu sama kemoceng nggak?" Tanya Bams ketika melihatku.


"Buat apaan Bams? Ada tuh coba minta ke Mbok Yem di dapur."


"Nanti saya jelasin bos." Ucapnya sambil berlari menuju dapur.


Aku mengikuti Bams yang tengah membawa tepung terigu dan sehelai bulu dari kemoceng ke teras rumah.


Ternyata kedua benda itu dia pakai untuk menjahili Pay yang sedang tertidur di kursi teras, tepung terigu itu dia letakan di telapak tangan kanan Pay sedang bulu dari kemoceng dipakai untuk mengelitiki hidungnya.


Karena hidungnya gatal Pay dengan refleks menepuknya dengan tangan yang dipenuhi oleh tepung terigu itu, hingga kini wajahnya menjadi putih karena dipenuhi oleh tepung.


Karena merasa wajahnya ada sesuatu kemudian Pay pun terbangun dan melihat Bams yang berdiri tepat di depannya.


Melihat Pay telah menyadari keisengan yang diperbuatnya Bams pun berlari kedalam rumah disusul oleh Pay yang mengejarnya.


"Heh Bambang awas lu ya pagi-pagi berani iseng sama gw." Teriak Pay sambil mengejar Bams.


"Ampun Pay, impas Pay." Sahut Bams.


Aku hanya tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkah kedua orang itu yang tidak pernah akur.


"Itu Bang Pay kenapa mukanya putih semua Dit?" Tanya Riri yang sedang menggendong Tiwi.


"Biasa, siapa lagi kalau bukan ulah si Bams." Kataku seraya diikuti tawa dari kami bertiga.


"Oh iya Ri, seminggu lagi Rai mau liburan disini lho."


"Wah serius kamu Dit? Aku kangen banget, kan terakhir ketemu pas kita sama-sama ke Bandung waktu itu."


"Tapi sayang ibu nggak bisa ikut karena jahitannya lagi ramai."


"Yah sayang ya ibu nggak bisa ikut, tapi nggak apa-apa deh aku bakal ajak adik iparku itu untuk keliling kota Jakarta, kebetulan kan kuliahku juga libur."


"Eh kayaknya aku punya ide bagus deh Ri."

__ADS_1


Kemudian aku memanggil Bams yang masih dikejar oleh Pay.


"Siap bos, ada apa?" Tanya Bams.


"Bams bisa nggak kalau tanggal 17 nanti kita adakan lomba di panti asuhan tempatmu."


"Wah bisa banget bos, kebetulan tahun ini kami memang belum menyiapkan acara apa-apa karena belum ada dana."


"Wah ide bagus tuh Dit, kita adakan lomba untuk anak-anak panti ya, nanti biar aku yang beli hadiahnya." Ucap Riri antusias.


"Ya sudah kalau begitu sepulang kerja nanti kamu langsung beritahukan rencana ini sama ibu panti ya Bams."


"Siap 86 bos."


Setelah itu kamipun berangkat ke kantor sedang Riri pamit untuk pergi kuliah.


Tak terasa satu minggu telah berlalu, hari ini sabtu tanggal 15 November aku bersiap menjemput adikku di terminal dengan ditemani Riri dan Tiwi, sedangkan Pay dan Bams menunggu dirumah.


"Mana bus nya Dit, belum dateng?" Kata Riri ketika baru tiba di terminal.


"Belum, kayaknya sebentar lagi deh, tadi Rai ngabarin aku katanya bus nya sudah masuk tol dalam kota."


15 menit kemudian bus yang ditumpangi Rai akhirnya tiba di terminal itu, kamipun mendekati bus itu, tak lama Rai turun dari bus.


"Gimana perjalanannya de?" Tanyaku ketika bertemu Rai.


"Parah pisan macetnya A." Ucap Rai.


"Maklum de kan musim liburan." Kata Riri sambil menggendong Tiwi.


"Lho Kak Ri ini teh anak siapa? Wah baru nggak ketemu setahun udah punya anak sebesar ini." Ucap Rai sambil tertawa.


"Ini adiknya temen kami, dia tinggal sama kakakmu dirumah, ayo Tiwi kenalan sama Kak Rai." Ucap Riri.


"Halo kak Lai aku Tiwi umulku 5 tahun." Kata Tiwi sambil tersenyum.


"Ih lucu banget, Aku Kak Rai adiknya Kak Adit." Ucap Rai memperkenalkan diri.


"Kak Lai cantik deh sama sepelti Kak Lili." Ucap Tiwi lagi.


"Gemes banget aku sama kamu." Kata Rai sambil mencubit pipi Tiwi.


Kamipun pergi dari terminal itu dan ditengah diperjalanan Rai berkata dia ingin ke makam sahabatku Udin.


"A bisa nggak kita ke makam Bang Udin dulu?" Tanya Rai.


"Wah ide bagus de, kebetulan aku juga udah agak lama nggak kesana."

__ADS_1


Kemudian kami menuju ke makam sahabatku itu.


__ADS_2