
"Langkahi dulu mayatku jika kalian mau menghancurkan Panti Asuhan ini." Ucap Bams.
Keadaan Bams saat itu sudah sangat memprihatinkan, sebagian bajunya telah robek, tubuhnya penuh luka dan tampak darah mengalir di wajahnya, terlihat Ibu panti dan anak-anak menangis dibelakang Bams.
Aku memperhatikan sekeliling, terlihat dari pihak penyerang beberapa orang telah tumbang, sepertinya sebelum kami datang telah terjadi perkelahian yang sangat sengit.
Aku mencari keberadaan Pay, dan ternyata dia telah tergeletak penuh luka tak jauh dari posisi Bams berdiri, melihat itu semua aku keluar dari mobilku.
"Ri kamu tunggu di dalam mobil aja, bahaya." Kataku pada Riri.
"Ta..Tapi Dit."
"Kalau kamu sayang sama aku kamu harus penuhi permintaanku." Kataku tegas.
"Baiklah kalau begitu." Kata Riri.
Aku pun menghampiri Bams dan yang lainnya, tapi sebelum aku sampai di dekat mereka ada tiga orang yang menyerangku memakai senjata, aku mengenali mereka, mereka adalah para pemuda yang sebelumnya membuat keributan dengan kami di pos ronda.
Sungguh sangat kebetulan di dekat situ ada tongkat besi panjang yang sepertinya milik salah satu dari mereka yang sudah tumbang sebelumnya.
Aku meraih besi itu, tampak ayunan senjata tajam mengarah ke wajahku, tapi aku dapat menangkisnya menggunakan besi tersebut.
Kupukulkan besi itu ke tangan orang yang menyerangku hingga membuat senjata yang ia pegang terjatuh, kemudian aku mengarahkan besi itu ke kepalanya dan dapat mengenainya dengan telak hingga membuatnya tak sadarkan diri.
"Maju kalian bangs**." Kataku pada dua orang yang lain.
Aku sudah tidak bisa lagi menahan emosiku karena melihat teman-temanku terluka karena mereka.
Kedua orang itu menyerangku secara bersamaan, perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Aku cukup kewalahan melawan kedua orang itu sekaligus, karena lengah tanganku tergores oleh senjata mereka.
Perkelahian berjalan sengit hingga akhirnya aku dapat membuat kedua orang itu tumbang, kemudian aku berlari ke arah Bams dan yang lainnya.
Tampak tak jauh dari situ aku melihat kedua orang yang sewaktu hari perlombaan bertemu dengan Ibu Panti, jika aku ingat perkataan Bams salah satu orang itu adalah Adik kandung dari Ibu.
"Hei siapa dan apa sebenarnya mau kalian? apa kalian sudah tidak takut dengan hukum karena melakukan penyerangan ini?" Aku berteriak kepada mereka.
__ADS_1
"Hukum? tau apa kamu tentang hukum? Saya ini seorang Pengacara." Kata pemuda yang menggunakan setelan jas itu dengan angkuh.
"Jika kamu benar seorang Pengacara yang mengerti hukum lalu kenapa kamu membiarkan ini terjadi." Kataku pada Pengacara itu.
"Asal kamu tahu ya, kami datang kesini dengan baik-baik tapi kedua teman kamu itu menyerang kami terlebih dahulu, kami ini hanya membela diri." Katanya lagi dengan senyuman sombong di wajahnya.
"Datang baik-baik katamu? Dengan membawa alat berat dan orang sebanyak ini kamu bilang baik-baik? Ucapku sambil menunjuk ke arah mereka semua.
"Hei anak muda, kamu ini sebenarnya siapa? Kamu tidak ada urusan di sini, ini adalah masalah keluarga." Kata pria paruh baya itu.
"Ya ini adalah masalah keluarga, kamu sebaiknya segera pergi dari sini. Pak Slamet klien saya adalah pemilik sah dari tanah ini." Kata Pengacara itu menambahkan.
"Bohong...Kamu tega Slamet, kamu mencuri sertifikat tanah itu dari kamar Kakak dan sekarang kamu mau menghancurkan Panti ini." Kata Ibu Panti sambil menangis.
"Mencuri? Apa Kakak punya bukti?" Kata Pria bernama Salmet itu.
"Sadar Slamet, almarhum orang tua kita mewariskan tanah ini untuk di jadikan Panti Asuhan sebagai amal mereka dan kita kelak, sekarang kamu mau menjual tanah ini untuk kepentingan pribadi, kamu jahat Slamet." Ucap Ibu Panti.
"Jangan banyak bicara Kak, orang tua kita sudah meninggal, sekarang tanah ini menjadi milik yang masih hidup. Daripada di jadikan Panti Asuhan nggak berguna seperti ini lebih baik tanahnya kita jual." Kata Pak Salmet sembari tertawa.
Ibu Panti pun tak bisa menahan kesedihannya, tampak ia terduduk di tanah sambil menangis, melihat itu Riri keluar dari mobil dan memeluk Ibu Panti untuk menenangkannya.
"Wah siapa gadis ini, cantik juga. Mau jadi pacar aku?" Kata Pengacara itu mendekat menghampiri Riri dan mencoba menyentuhnya.
Riri pun meludahi muka Pengacara itu hingga membuatnya emosi dan ingin menampar Riri, melihat itu aku bergerak dari posisiku berdiri dan memukuli wajahnya berkali-kali hingga membuat hidungnya berdarah dan kacamata yang ia kenakan pecah.
"Lihat saja kamu, kamu akan membusuk di dalam penjara karena melakukan ini." Ancam pengacara itu padaku.
Lalu Pengacara itu memerintahkan kepada anak buahnya yang tersisa untuk menyerangku, hingga tiba-tiba terdengar suara letusan senapan dari arah belakang mereka.
"Berhenti atau kepala kalian semua meledak." Terdengar suara seorang pria dari arah belakang Pak Slamet dan Pengacara itu.
Tampak 4 orang berbadan tegap memakai jas dan kacamata hitam menodongkan senjata api ke kepala Pak Slamet dan Pengacara itu.
Melihat ke empat orang itu membawa senjata api sontak membuat anak buah yang di bawa Pak Slamet lari tunggang langgang.
__ADS_1
Salah satu dari empat pria itu menelpon seseorang dan menceritakan kronologi yang terjadi.
"Si...Siapa kalian." Kata Pengacara itu ketakutan dan terlihat celananya basah karena mengompol.
Aku ingat, aku pernah melihat salah satu dari mereka memperhatikan kami dari balik pohon di Panti Asuhan ini. Tapi siapa mereka sebenarnya? Aku bertanya dalam hati.
30 menit berlalu hingga tibalah sebuah mobil mewah ke tempat itu, Riri tampak mengenali mobil tersebut.
Tak lama ada orang keluar dari mobil itu, dan ternyata itu adalah Om Suryo Papanya Riri. Wajah Om Suryo tampak berbeda dari biasanya.
Wajah Ramahnya tak terlihat malam ini, membuat aku dan juga Riri tak berani menyapanya. Beliau berjalan menghampiri Pak Slamet dan Pengacara itu.
Setelah berdiri di hadapan mereka tampak Pengacara itu mengenali wajah Om Suryo.
"A..Anda kan Pak Suryo Sasmito Dirut dari Suryo group." Kata Pengacara itu.
"Siapa kamu berani mengganggu Anak dan Calon Menantu saya." Kata Om Suryo sambil menunjuk ke arahku dan Riri.
Wajah Pengacara itu tampak terkejut dan ketakutan ketika tahu bahwa Riri adalah anak dari salah satu Pengusaha paling berpengaruh di negeri ini.
Tak lama Om Suryo menampar pipi Pengacara itu dengan sangat keras hingga terlihat keluar darah segar dari bibirnya.
"Itu untuk Anak dan Calon Menantuku karena kamu berani menyakiti mereka, tuntut saya jika memang kamu bernyali." Kata Om Suryo.
Pengacara itu hanya tertunduk sambil memegangi pipinya, seketika semua kesombongannya tadi hilang menghadapi Papa Riri.
Om Suryo beranjak menghampiri Pak Slamet, terlihat dia begitu ketakutan karena melihat apa yang terjadi pada Pengacara itu. Dia pun bersujud memohon ampun pada Papa Riri.
"Berapa kamu jual tanah ini." Tanya Om Suryo.
Mungkin karena dia ketakutan membuat Pak Slamet tidak menjawab pertanyaan itu.
"Kamu tuli? Berapa kamu jual tanah ini!!!" Om Suryo membentak dan mengulangi pertanyaannya.
"350 juta Pak." Katanya bergetar karena ketakutan.
__ADS_1
"Dasar orang bodoh, hanya karena uang segitu kamu membuat keributan sampai seperti ini." Katanya mengintimidasi Pak Slamet dan membuatnya tertunduk.
"Baiklah saya akan membeli tanah ini." Lanjut Om Suryo membuat kami semua terkejut.