Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Dia sahabat kecilku


__ADS_3

sesampainya di cafe tampak telah di padati oleh pengunjung, aku hafal beberapa dari mereka karena setiap hari selalu ke cafe ini, kebanyakan dari mereka adalah pasangan muda-mudi yang menjalin kasih dan sisanya adalah gadis-gadis muda yang selalu menonton pertunjukan musikku.


"Ayo cepat di mulai, para fans kamu sudah nunggu tuh." Kata Sinta ketika melihatku.


"Iya, iya, ini juga mau ke atas panggung." Jawabku.


Aku mulai menyanyikan sebuah lagu, tampak sekelompok gadis muda di meja paling depan meneriakan namaku, kelima gadis itu memang datang setiap hari ke cafe ini, bahkan mereka pernah bilang bahwa mereka adalah penggemarku.


Setelah selesai malam itu, kelima gadis tersebut menghampiriku lagi seperti malam-malam sebelumnya.


"Kak Adit aku kan taruh nomor ponselku di kotak itu setiap hari, tapi kok kamu nggak pernah hubungin aku sih." Kata seorang dari mereka.


"Bukan hanya dia Kak, bahkan kami berlima selalu menuliskan nomor ponsel kami di secarik kertas." Kata yang lainnya.


"Takut pacar Kakak marah ya." Sambung yang lain.


"Aku belum punya pacar adik-adik." Kataku kepada gadis-gadis yang sepertinya sebaya dengan Rai itu.


"Yang benar Kak, wah kalau begitu kami berlima punya kesempatan dong." Kata mereka.


Aku hanya tersenyum menanggapi mereka, kesempatan...? Maaf saja, tapi aku sedang menunggu seseorang datang kembali, kataku dalam hati.


Aku kembali pulang ke Rumah Sakit pada malam itu, tapi sebelum sempat pergi Sinta kemudian memanggilku.


"Dit." Panggil Sinta.


"Iya Sin."


"Penghasilanmu tiap malam kan lumayan, kamu nggak kepikiran untuk beli ponsel, agar mudah menghubungimu." Kata Sinta lagi.


"Belum kepikiran Sin, soalnya aku lagi ngumpulin uang." Kataku.


"Ngumpulin uang buat apa?" Tanya Sinta.


"Adik kecilku sedang sakit dan sekarang membutuhkan banyak biaya."


"Oh ya...? Kok kamu nggak pernah cerita sama aku."

__ADS_1


"Ya sudah ya Sin aku pulang dulu." Kataku kemudian meninggalkannya.


Sesampainya di Rumah Sakit aku melihat Pay yang baru saja keluar dari kamar Tegar.


"Heh gondrong, ngapain lu keluar dari kamar Tegar." Kataku.


Pay menunduk dan mengangkat jarinya ke arah kamar Tegar, firasatku pun tak enak melihat Pay yang seperti itu lalu berlari ke dalam.


Ketika di dalam aku melihat Tegar sedang di tangani oleh Pak Dokter bersama para perawat, Tegar memegangi kepalanya sambil berteriak, dia terlihat sangat kesakitan, aku mendekat kearahnya lalu menggenggam tangan kecilnya.


"Dok, Tegar kenapa Dok." Tanyaku kepada Dokter.


"Penyakitnya semakin parah Dit, tapi Bapak akan memberi suntikan penenang untuknya." Jawab Pak Dokter.


Setelah diberikan suntikan penenang Tegar pun tertidur, aku tetap berada di sampingnya, duduk di hadapannya dan terus menggenggam tangannya, sesekali ku usap kepalanya yang sudah tak ada sehelai rambut pun disana.


"Dit, Bapak akan kembali ke ruangan, kamu tolong jaga Tegar di sini, jika ada apa-apa kamu panggil Bapak, malam ini Bapak tak pulang kerumah karena khawatir kepadanya." Kata Pak Dokter.


"Baik Pak, Adit akan menjaga Tegar." Jawabku.


Malam itu aku tak merebahkan tubuhku walau sangat terasa lelah, aku terus duduk di hadapan anak malang itu, hingga tak tersadar aku tertidur, pada dini hari aku terbangun karena mendengar Tegar mengigau.


Aku menyeka air matanya, kugenggam tangan Tegar dengan erat malam itu, hingga pagi harinya terdengar Tegar memanggil namaku.


"Kak Adit.." Katanya pelan "Terimakasih untuk semuanya." Sambungnya.


"Tegar kamu nggak usah bilang terimakasih, kamu yang kuat ya." Kataku.


"Kak aku mau jeruk." Kata Tegar lagi.


Aku mengambil jeruk yang berada di atas ranjang rumah sakit itu, aku mengupas jeruk itu untuknya, ketika hendak memberikannya pada Tegar tampak dia menutup matanya, aku panik karena kulihat Tegar tak lagi bernafas, aku memeriksa nadi dan denyut jantungnya, jantung Tegar terhenti, aku terdiam sambil menahan tangisku.


"Gar...Tegar...Bangun." Kataku.


Ya, pagi itu tegar telah pergi, pergi untuk selamanya, perjuangan tegar melawan penyakit yang selama ini di deritanya telah berakhir, aku berlari menuju ruangan Pak Dokter dan memberitahunya tentang keadaan Tegar.


Dokter bersama beberapa perawat berlari ke ruangan Tegar, begitu sampai di sana Pak Dokter langsung mengecek keadaannya, dia melakukan apa yang dia bisa, sampai alat kejut jantung pun dia keluarkan, wajah Pak Dokter tampak serius saat itu, tak lama ia pun menundukan wajahanya.

__ADS_1


"Tegar sudah tiada." Katanya.


Tampak semua Suster dan Perawat yang berada di sana menahan tangisnya, mereka tentu sangat sedih dengan kepergiannya, karena dua bulan lebih ini tengah berjuang bersamanya, berjuang melawan rasa sakitnya, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, Tuhan lebih sayang kepada Tegar hingga hari ini memanggilnya kembali.


"Semoga tenang di sana sobat kecil." Kataku di depan tubuh Tegar yang telah terbujur kaku.


Tampak ruangan itu di selimuti kesedihan, semuanya terdiam, Pay yang tadi melihatku berlari ke arah kamar Tegar bersama Pak Dokter pun menghampiri kami, dia menepuk pundakku sebagai tanda bahwa aku harus kuat menerima kenyataan Tegar telah tiada.


Dokter pun kembali ke ruangannya setelah memerintahkan para Perawat membawa tubuh kecil tegar ke kamar jenazah, Dokter berjalan sambil tertunduk, langkahnya pelan, aku sangat mengerti betapa dia sangat merasa kehilangan.


Aku sendiri saja yang selalu menemani Tegar satu Minggu ini begitu sedih, bagaimana dengan Beliau yang lebih lama bersama dengan Tegar, aku ikut mengantar Tegar hingga ke kamar jenazah itu, ketika para perawat tengah pergi, tinggalah aku di sana seorang diri.


"Sekarang kamu nggak perlu nunggu Ayah dan Ibumu kembali lagi Gar, kamu anak terhebat yang pernah Kakak temui....!!!" Kataku di depan Jenazahnya.


Tak lama ada seorang Perawat yang menghampiriku, dia berkata bahwa Pak Dokter menungguku dan Pay di ruangannya, kami berdua pun menuju kesana.


"Ada apa Dok." Kataku ketika sampai di sana.


"Kalian tau apa keinginan terakhir Tegar selain bertemu dengan orantuanya?" Tanya Pak Dokter.


Kami berdua menggeleng karena tak tahu apa keinginan terakhir dari Tegar.


"Dia pernah menanyakan padaku tentang sakit yang di derita Tiwi, aku pun memberitahunya cara bagaimana agar Tiwi bisa sembuh." Kata Dokter.


"Anak itu berkata jika dia telah tiada maka pakailah apa yang bisa membuat Tiwi sembuh itu." Lanjut Dokter.


"Maksudnya Dok?" Tanya kami berdua.


"Tegar bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Tiwi, malam itu dia tersenyum sambil mengatakannya, seakan dia sudah mengetahui bahwa umurnya tak akan lama lagi." Jawab Pak Dokter.


"Ja...Jadi sekarang Adikku sudah dapat pendonor Dok?" Tanya Pay.


"Ya, tapi terlebih dahulu kita harus memeriksa apakah ginjal itu cocok untuk Tiwi." Kata Dokter.


"Tapi kenapa Tegar mau melakukannya Dok?" Tanyaku.


"Itu semua karena kalian...Kalian telah begitu peduli kepadanya, bahkan dia telah menganggap kalian sebagai pengganti keluarganya, terutama kamu Adit, dia sangat senang waktu bercerita bahwa kamu yang seminggu ini selalu menemaninya setiap malam, dia bilang dia melakukan ini untuk membalas kebaikanmu."

__ADS_1


Aku tak menyangka bahwa anak sekecil Tegar akan melakukan hal sehebat ini, Tegar memang spesial, umurnya mungkin baru 7 tahun, tapi dia memiliki hati mulia yang bahkan melebihi orang dewasa, semua itu pasti karena kenyataan pahit yang selama ini ia rasakan hingga membentuknya menjadi seorang anak yang kuat dan tegar, seperti namanya.


__ADS_2