
Ini hari keduaku bekerja di perusahaan Om Suryo, aku masih sangat bersemangat bekerja di sana walau pada hari pertama aku di kerjai oleh para seniorku.
Seperti kemarin aku datang pertama di bagian HRD itu dan kemudian di susul oleh Bu Sinta, aku menyapanya tapi seperti kemarin dia masih acuh tak acuh kepadaku.
Waktu sudah menunjukan jam 08.00 pagi dan rutinitasku sebagai seorang karyawan pun di mulai.
"Woy anak baru Foto copy nih kerjaan gw." Ucap pria di sebrang mejaku.
"Punya gw juga nih." Kata yang lain.
Mereka semua sepertinya hendak mengerjaiku lagi kali ini, tapi cuma foto copy kan tidak sulit, akhirnya aku mengumpulkan semua berkas yang hendak di foto copy itu, ternyata setelah ku kumpulkan ternyata banyak sekali berkasnya, aku membawanya dengan kedua tanganku hingga menutupi kepalaku dan menghalangi pandanganku.
Setelah mendekati mesin fotocopy seseorang mendorongku hingga aku terjatuh dan berkas itu pun berserakan di lantai.
"Woy anak baru kalo jalan yang bener dong, lihat tuh kertasnya jadi berserakan semua kan!!!"
"Pokoknya gw nggak mau tau, lu harus beresin, foto copy terus serahin ke kita semua."
"Oh iya ma..maaf." Kataku.
Aku tak melawan mereka bukan karena takut tapi aku tidak mau mengecewakan papa Riri yang sudah memberikanku pekerjaan ini dengan berkelahi.
Bagaimana caranya Aku bisa merapikan berkas dan tau ini punya siapa, karena berkasnya benar-benar sudah berantakan.
Tak lama Bu Sinta keluar dari ruangannya dan tak kusangka.
"Kalian ini masih saja suka mempermainkan karyawan baru ya, kalian sudah bosan bekerja disini? Lihat saja jika saya masih melihat kalian mengerjainya, kalian akan saya pecat tanpa surat peringatan...Asal kalian tau ya, masih banyak yang mau bekerja di sini, sekarang kalian bereskan sendiri berkas-berkas itu... Dan kamu Adit, balik ke meja kamu dan lanjutkan pekerjaanmu."
"Ba...Baik Bu Sinta."
Apa aku tidak salah dengar? Baru saja Wanita jutek dan galak itu membelaku..Aku pun kembali ke mejaku dengan masih amat sangat keheranan.
Akhirnya mereka semua yang mengerjaiku membereskan berkasnya masing-masing sembari saling berbisik.
"Sial, tumben banget sih Mak lampir itu peduli sama anak baru."
"Iya, biasanya walaupun tau kita sering mengerjai anak baru dia diam saja di ruangannya."
__ADS_1
"Bagaimana ini, apa kita berhenti saja mengerjai anak baru itu, aku tidak mau kalau sampai di pecat dari perusahaan sebesar ini."
"Tenang..Tenang kudengar besok wanita siluman itu tugas luar kota selama 3 hari, waktu yang sangat tepat untuk kita mengerjai anak baru itu habis-habisan."
"Jadi hari ini kita lepaskan saja anak baru itu dan besok kita habisi?"
"Ya, betul."
Sungguh rencana yang amat luar biasa jahat, tapi apapun yang kalian lakukan padaku, aku pasti bisa melewatinya.
Jam makan siang pun tiba, seperti kemarin aku makan siang bersama Wahyu.
"Yu apa dari dulu Bu Sinta segalak itu?"
"Ada apa Dit tiba-tiba nanya tentang Bu Sinta...Suka ya hehe."
"Ah nggak kok, cuma kaget aja tadi dia membelaku waktu aku di kerjai."
"Membelamu Dit? Serius kamu."
"Iya Yu serius, buat apa aku mengarang cerita."
"Serius kamu Yu? Terus kenapa ya dia sampe ngebela aku? Yang aku lihat semua orang di kantor ini tidak ada yang berani ya mendekatinya, padahal dia cantik lho, apa dari dulu seperti itu?"
"Nggak Dit, dulu itu Bu Sinta adalah cewek paling populer dan paling cantik di kantor ini, banyak lelaki yang coba mendekatinya, dulu dia baik dan ramah, pria mana yang tidak suka sama wanita sempurna seperti itu."
"Lho kok sekarang sifat nya bisa jadi kebalik gitu Yu?"
"Itu berawal dari 6 bulan yang lalu, waktu itu Bu Sinta punya seorang tunangan Dit, dan berencana tahun depan menikah. Tapi karena terlalu sibuk bekerja tunangannya itu akhirnya malah nikah sama sahabatnya sendiri, awalnya mungkin karena Bu Sinta terlalu baik dan percaya sama sahabatnya itu. Dia sampai tidak curiga lho mereka sering pergi berdua, itu cerita yg beredar di kantor ini."
"Oh jadi karena itu sifat nya berubah Yu, terutama sama laki-laki ya."
"Iya Dit." Kata Wahyu sambil menenggak jus jeruk di depannya.
"Yu itu kan jus jeruk gw."
"Walah maaf toh Dit aku salah minum."
__ADS_1
Hari itu pun sudah menunjukan pukul 19.00 dan aku baru menyelesaikan pekerjaanku.
"Huuuuft nasib anak baru, baru masuk udah disuruh lembur aja, tapi nggak apa-apa harus tetap semangat buat masa depan, untung aja gw udah ngabarin Riri, kalo nggak pasti bawel tuh anak telpon terus nanyain kenapa gw blm pulang hahaha. Kangen banget aku sama kamu." aku berkata dalam hatiku.
"Eh ruangan Bu Sinta masih terang, sebenernya tiap hari dia pulang jam berapa ya."
Aku pun menghampiri ruangan Bu Sinta karena hendak izin pulang.
Tapi belum juga aku mengucapkan sepatah kata kulihat Bu Sinta sedang menangis di mejanya.
Jadi selama ini dia galak hanya agar terlihat kuat di hadapan semua orang dan menutupi rasa sedih nya, yah memang wanita, sekuat apapun kalian hati kalian tetaplah lembut.
Karena tidak tega melihatnya menangis dan sebagai rasa terimakasihku karena hari ini dia sudah membelaku lalu aku pergi ke pantry untuk membuatkannya secangkir teh hangat.
Setelah aku membuatnya lalu aku kembali keruangannya untuk memberikan minuman itu dan sekalian hendak izin untuk pulang.
Ku ketuk ruangannya hingga membuatnya terkejut dan menyeka air matanya.
"Kamu...Kamu belum pulang." Ucapnya.
"Ini aku baru mau izin untuk pulang Bu."
Kemudian kami sama-sama terdiam lalu aku memberikan minuman yang sudah kubuat untuknya tadi.
"Ini Bu silahkan diminum, tidak baik Bu jika bekerja terlalu keras, tetap jaga kesehatan."
Aku lalu menaruh minuman itu di mejanya dan kemudian Bu Sinta memandangi wajahku.
"Bu Sinta aku izin pulang ya karena semua pekerjaanku sudah beres, oh iya terimakasih karena hari ini ibu sudah membantuku." Aku pun tersenyum padanya.
Dia hanya terdiam tak membalas kata-kataku lalu aku meninggalkan ruangannya dan bersiap untuk pulang.
Setibanya di kontrakan aku langsung mengabari Riri bahwa aku sudah pulang lalu Riri pun menelponku.
"Adit aku kangen tau." Ujar Riri.
"Iya aku tau kok, aku kan cowok paling ngangenin di muka bumi ini."
__ADS_1
"Mulai deh songong."
Lalu kami pun mengobrol hingga larut malam untuk melepas rasa rindu kami berdua.