Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Semoga tenang Pay


__ADS_3

Aku terdiam, ya kami semua terdiam mendengar kata yang terucap dari Suster itu, Tuhan mengapa ini terjadi lagi, baru saja aku merasa Pay adalah pengganti sahabatku yang telah berpulang, kini engkau memanggilnya juga.


"Di...Dimana letak kamar mayatnya Sus?" Tanyaku.


"Lurus saja Pak, letaknya berada di ujung lorong." Jawab Suster itu.


Kami beranjak cepat menuju kamar yang di tunjukkan oleh Suster tersebut, hingga sampailah kami di depan ruangan yang bertuliskan "Kamar Jenazah".


Kami terdiam di depan ruangan itu, tak berani masuk. Tak berani menghadapi kenyataan pahit yang sedang terjadi, kualihkan pandanganku pada Tiwi, bagaimana jika anak sekecil itu bisa tahan melihat Kakaknya berpulang, saat ini dia masih belum menyadari apa yang tengah terjadi.


Riri memegang pundakku, kami saling bertatap mata dan saling menguatkan hati, tak lama kami saling mengangguk pertanda kami harus kuat dan menerima kenyataan ini.


Dengan perlahan kami semua masuk ke ruangan itu, di sana telah terbujur kaku seseorang yang di tutupi kain seluruh tubuhnya, kami terdiam hingga kubaca nama yang ada di papan kasur Rumah Sakit itu.


Tuan Paijo, itulah nama yang tertulis di sana, bibirku bergetar membaca tulisan tersebut, terlihat Riri dan Rai mencoba menahan tangisnya karena tak tega dengan Tiwi yang ada di sebelahnya.


"P...A...I...J...O, Kak Lili itu Kakakku?" Ucap Tiwi mengeja lalu menunjuk jenazah tersebut.


Riri meneteskan air mata mendengar pertanyaan Tiwi di susul oleh isak tangis Rai yang sudah tak bisa ia tahan.


"Kakak sedang apa? Kenapa mukanya di tutup, nanti kakak susah belnafas lho." Kata Tiwi lagi.


Mendengar itu tangis kami semua pecah dan kemudian Riri memeluk Tiwi dengan erat.


"Tiwi, Kak Pay sekarang sudah pergi, pergi amat jauh, sekarang Kakak sudah ada di tempat yang indah." Ucap Riri.


"Pelgi jauh? kemana Kak? kok Tiwi nggak di ajak, Tiwi sebel sama Kakak Pay." Ucap Tiwi.


Tangisan kami semakin menjadi mendengar perkataan polos Tiwi. Aku menghampiri jenazah temanku itu, aku menangis di hadapannya sambil berkata.


"Pay, lu yang tenang di sana, sekarang biar Tiwi menjadi tanggung jawab kami semua." Kataku sambil memandangi jenazah yang masih di tutupi kain tersebut.


Tak berapa lama terdengar nada dering dari ponselku, aku melihat layar ponsel itu dan sesuatu yang mengejutkan tertera di sana, di ponsel itu tertulis nama Pay yang menghubungiku, aku tak berani mengangkatnya lalu kutunjukan ponselku pada Riri dan Rai agar mereka membaca siapa yang melakukan panggilan telpon itu.


"Telpon dari surga." Ucapku sambil mengarahkan layar ponselku pada mereka semua.

__ADS_1


"Angkat Dit, ayo cepat angkat." Kata Riri dengan wajah serius.


Aku pun lalu mengangkat telpon itu dan memberanikan diriku berbicara pada si penelepon.


"Ha..Halo." Kataku perlahan.


"Dit, katanya mau jenguk kok belum sampai? Kalian jadi kesini nggak?" Terdengar suara yang mirip sekali dengan Pay di sebrang sana.


"Ma..Maaf Pay jika kami tak sempat melihatmu di saat terakhir, sekarang dunia kita sudah berbeda, kamu yang tenang disana dan ikhlaskan dirimu. Jika Tiwi yang membuatmu tak bisa pergi dengan tenang, kami berjanji akan menjaga dan menyayanginya."


"Ngomong apa sih nih orang, Bams coba lu yang ngomong nih, kayaknya si Adit ketularan aneh kayak lu deh." Ucap suara itu.


"Hola bosku, di mandosdos? kita nunggu nih, cepet ke sini aku udah empet liat muka si Jamur terus." Kali ini suara Bams yang ada di sana.


"Bams? ini kamu? kamu meninggal juga?" Tanyaku penasaran.


"Meninggal? Inalillahi, siapa yang meninggal bos?" Dia balik bertanya kepadaku.


Aku pun menceritakan apa yang terjadi pada suara mirip Bams itu.


"Huahahahahaa, heh mur..Jamur lu di sangka meninggal sama bos Adit, nih lu ngomong." Kata Bams.


Aku langsung menutup telpon tersebut, kemudian kuberanikan diri membuka penutup wajah jenazah yang ada di hadapanku, kubuka perlahan hingga kudapati orang lain yang terbujur kaku di ranjang itu.


Riri dan Rai pun melihat wajah jenazah itu kemudian kami menghela nafas kami bersamaan, tak lama ada beberapa orang masuk dan menangisi jenazah tersebut.


"Paijo anakku, kenapa kamu meninggalkan Ibumu ini nak." Kata seorang Ibu yang memeluk jenazah dan menangis histeris.


Melihat itu kami dengan perlahan keluar dari ruangan tersebut dan kemudian berjalan cepat ketika telah sampai di luar.


Sesampainya di depan meja tempat Suster yang berjaga kami semua dengan serentak menatap matanya dalam-dalam, membuat dia kebingungan melihat tingkah kami.


Hingga akhirnya kami sampai di kamar nomor 204 dan memasuki ruangan itu, benar saja Pay dan Bams sedang berbaring di atas Ranjang kamar itu, Tiwi langsung berlari ke arah Kakaknya sedangkan kami masih terdiam di depan pintu.


"Hahahahahaha makanya Ri jangan main nangis aja, buka dulu penutup wajahnya." Ucapku menggoda Riri.

__ADS_1


"Iiih kok aku sih, kan kamu yang nangis paling kenceng." Balas Riri.


"Aku nangis karena ini nih si Rai nangis duluan."


"Apaan sih A kok aku." Ucap Rai.


"Woy..Woy jangan debat di situ tolongin gw biji gw keinjek." Ucap Pay. Setelah kami menoleh ternyata Tiwi sudah duduk di atas perut Kakaknya itu.


"Aduuuh Tiwi sayang jangan naik-naik begitu kasihan Kakaknya lagi sakit." Ucap Riri seraya menghampiri Pay dan menurunkan Tiwi.


"Makasih Neng Riri." Ucap Pay.


"Pay, huh lega gw ngeliat lu nggak apa-apa." Ucapku.


"Nggak apa-apa matamu, lu nggak liat badan gw remuk gini." Katanya sambil menunjukan badannya yang penuh perban.


"Aduh Bang Pay Rai udah khawatir banget tadi." Ucap Rai.


"Wah neng Rai khawatir sama Abang? Terhura Abang dengernya." Sahut Pay.


Tak lama terdengar suara seseorang dari balik gorden ranjang tempat Pay terbaring.


"Woy..Woy tolongin dong ini Tiwi duduk di perut aku." Setelah kami membuka gorden tersebut ternyata Tiwi sudah berada di ranjang Bams.


"Ya ampun Tiwi, kan sudah Kakak bilang jangan naik-naik." Ucap Riri.


"Tiwi mau main kuda-kudaan Kak." Jawab Tiwi.


"Gimana Bams sudah baikan?" Tanyaku.


"Wah kalau luka segini sih nggak ada apa-apanya buat seorang Bams." Katanya menyombongkan diri.


Kemudian tanpa di sangka Tiwi yang masih duduk di atas Bams menepuk bagian dada Bams yang di penuhi perban hingga tak lama terlihat warna merah di perban yang semula berwarna putih itu.


Melihat itu Riri langsung menggendong Tiwi yang duduk diatas perut Bams.

__ADS_1


"ngggmmmmhhhh...Bos darah bos." Kata Bams sambil menunjuk ke arah perban dan mengigit bibir bagian bawahnya.


Begitulah hari itu berakhir, pada malam harinya kami pamit pada mereka untuk pulang.


__ADS_2