
Akhirnya setiap hari aku dan Pay bergantian menjaga Tiwi, bila Pay masuk kerja pagi maka aku yang menjaga Tiwi pagi harinya dan Pay menjaganya malam hari ketika aku berangkat bekerja.
Sedangkan bila kami sama-sama masuk malam kami meminta kelima gadis itu untuk menjaga Tiwi, tentu semua itu adalah ide dari Pay, kelima gadis itu terlihat senang dan sukarela menjaga Tiwi, tak tega rasanya jika aku menyuruh Ibu untuk menjaga Tiwi malam-malam, sedangkan Rai, aku tak mau mengganggu kuliahnya, karena kini setiap malam dia harus belajar agar tak kehilangan beasiswanya.
Seminggu sudah berlalu sejak operasi Tiwi di lakukan, malam itu aku berangkat bekerja bersama Pay.
"Aku titip Tiwi ya." Ucapku kepada para gadis itu.
"Iya Kakak sayang." Kata seorang dari mereka.
"Huss..Sayang..Sayang palamu peyang, seenaknya saja panggil Kak Aditku dengan panggilan sayang." Kata yang lain.
"Eeeh malah pada berantem, tenang aja Kak Adit ini milik kalian bersama, nanti bagi lima aja ya." Kata Pay bergurau. "Ngomong-ngomong kalian kan fans berat Adit, emang nggak apa-apa kalo malem gini nggak nonton pertunjukannya dan malah menjaga Tiwi." Tanya Pay.
"Nggak apa-apa Bang Pay, kami senang bisa melayani idola kami, lagian nggak setiap malam kan, kalau nonton Kak Adit tampil sih kami sudah sering." Kata seorang dari mereka.
"Kapanlagi bisa deket Kak Adit dan membantu keluarganya, lagipula Tiwi anak yang sangat lucu, kami senang bersamanya." Sambung gadis yang lain.
"Baiklah terimakasihku untuk kalian, kalau begitu aku pamit ya, Ayo Pay." Kataku mengajak Pay bekerja.
Malam itu seperti biasa aku tampil di panggung kecil yang ada di cafe itu, sedangkan Pay bekerja sebagai pelayan.
Tak seperti biasanya, hari itu aku tak melihat Sinta ada di sana, padahal sebelumnya dia selalu datang setiap hari, setelah selesai tampil aku pun menanyakan pada seorang karyawan di cafe itu, dia bilang Sinta tak datang malam itu karena Ayahnya sakit.
Malam itu aku dan Pay pulang setelah cafe tutup.
"Kasian Sinta ya Pay, dulu juga dia berhenti bekerja karena Papanya sakit."
"Memangnya Sinta tak punya keluarga yang lain Dit." Tanya Pay.
"Sinta itu anak semata wayang sedangkan Ibunya sudah meninggal, kini dia hanya tinggal berdua dengan Ayahnya." Jawabku.
"Wah sama seperti Riri ya." Kata Pay.
"Paan sih Pay, pake nyebut nama Riri segala." Kataku.
__ADS_1
"Hehe iya maaf."
Setelah sampai di Rumah Sakit kelima gadis yang menjaga Tiwi pun pamit, malam itu aku dan Pay menghitung pendapatan kami, aku menghitung uang yang aku dapatkan dari penonton sedang Pay dari hasil uang tip yang ia dapatkan.
Setelah kami jumlahkan ternyata biaya perawatan Tiwi tinggal sedikit lagi bisa kami lunasi, cukuplah dengan sisa waktu perawatan Tiwi yang masih satu Minggu lagi.
Esok malamnya aku berangkat sendiri karena Pay masuk kerja pada pagi harinya, lagi-lagi malam itu tak kulihat Sinta datang, aku merasa kasihan padanya, karena dulu ia terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaan yang sangat di cintainya pun karena sakit yang di derita Papanya.
Ingin rasanya sesekali aku melihat keadaan Papanya, sementara esok paginya aku ikut bersama Pay pergi ke cafe, karena pagi itu ada Ibu yang menjaga Tiwi.
Ternyata pagi itu Sinta ada di cafe, dia bilang dia datang hanya untuk mengambil pembukuan cafe dan akan merekapnya di rumah karena sebentar lagi adalah hari gajian karyawan.
"Sin, aku boleh ikut ke rumahmu?" Tanyaku.
"Buat apa Dit?" Tanya Sinta.
"Aku mau lihat keadaan Papamu, bagaimana keadaan Beliau sekarang?" Tanyaku.
"Sudah mendingan kok Dit, kemarin jantung Papa kumat, syukurlah tak terlalu parah, hanya perlu istirahat." Jawab Sinta.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih sebelumnya ya Dit." Kata Sinta tersenyum.
Pagi itu aku ikut kerumah Sinta untuk menjenguk Papanya, sesampainya di sana aku di persilahkan masuk ke kamar Papanya, sedang Sinta izin sebentar untuk merekap pembukuan cafe bulan ini.
Tampak seorang pria paruh baya tertidur di sana, aku memperhatikan wajahnya, sepertinya wajah Papa Sinta tak asing untukku, aku mengingat kembali di mana aku pernah bertemu dengannya.
Aku ingat, ternyata Beliau adalah penyelamatku dahulu, penyelamat yang memberiku kesempatan ketika aku tertangkap mencuri di rumahnya, penyelamat yang mengajarkanku bermain gitar dan bernyanyi, ya dia adalah orang itu.
Dahulu aku belum sempat mengucapkan rasa terimakasihku pada Beliau, Beliau adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupku, kalau bukan karenanya mungkin saat ini aku menjadi seorang kriminal, aku mendekati tubuh penyelamatku yang terbaring di atas ranjang itu dan kemudian duduk di sebelahnya.
"Terimakasih." Ucapku ketika di dekatnya.
Karena mendengar suaraku tak lama Beliau membuka matanya, dia mengarahkan pandangannya padaku, dia menatap wajahku dalam, seperti mengenaliku.
"Ka..Kamu, kamu anak itu kan." Kata Beliau pelan.
__ADS_1
"Iya Pak, aku Adit, anak yang pernah Bapak tolong dahulu." Kataku.
Bapak bangkit dari tempat tidurnya dan memeluk tubuhku.
"Wah kamu sudah besar Nak, maaf jika dulu Bapak tak sempat mengucapkan salam perpisahan kepadamu." Kata Bapak.
"Iya Pak, waktu itu aku datang ke rumah tapi kata tetangga Bapak sudah pindah." Jawabku.
Tak lama Sinta masuk membawa minuman untukku dan Bapak.
"Lho kalian sudah saling mengenal, Papa kenal Adit di mana?" Kata Sinta yang melihat kami mengobrol dengan akrab.
"Sin, kamu ingat nggak dulu Papah pernah cerita tentang anak yang Papa tolong dengan mengangkatnya sebagai murid Papa."
"Iya aku ingat, sewaktu aku kecil Papa selalu menceritakannya." Jawab Sinta.
"Sekarang anak itu sudah besar, ini orangnya." Kata Bapak sambil menepuk pundakku.
"Ja..Jadi kamu anak itu Dit? Wah aku nggak pernah sangka, sungguh kebetulan yang tak bisa di percaya." Kata Sinta.
"Iya Sin, aku juga kaget setelah lihat wajah Bapak tadi, ternyata kamu adalah anak penyelamatku Sin, tapi kok dulu aku tak pernah bertemu denganmu ya." Tanyaku.
"Jelas tak pernah bertemu Dit, waktu itu Sinta sedang bersekolah di luar kota dan hanya setiap libur sekolah dia pulang."
"Oh pantas saja."
Tanpa di sengaja takdir kembali mempertemukan kami, ternyata Sinta yang selama ini kukenal adalah anak dari Bapak penyelamatku, sore harinya aku pamit kepada Sinta dan Bapak karena malam harinya harus kembali bekerja.
Malam harinya setelah selesai bekerja tiba-tiba saja Sinta menghampiriku.
"Adit makasih lho, setelah ketemu kamu tadi Papa langsung segar lho, dan sekarang sudah membaik, kamu itu bener-bener obat mujarab."
"Aku yang mestinya berterimakasih padamu Sin, karena kamu mengijinkan aku ikut ke rumahmu akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan penyelamatku."
"Oh iya, Papa menyuruhmu untuk datang lagi ke rumah, katanya masih banyak yang ingin di bicarakan denganmu." Kata Sinta.
__ADS_1
"Aku pasti akan datang lagi Sin, tapi beberapa hari ini mungkin aku tidak bisa, karena harus menjaga adik kecilku di Rumah Sakit, tapi aku janji setelah dia keluar aku akan langsung menemui Bapak." Kataku tersenyum kepada Sinta.