
Jadi selama ini aku hanyalah Anak angkat dan ternyata Adit lah Anak Papa yang sebenarnya.
Pantas semasa hidupnya Papa sangat baik kepada Adit, bahkan dia menyetujuiku berpacaran dengannya, padahal sebelumnya Papa selalu melarangku untuk dekat dengan pria yang mencoba mendekatiku.
Setelah mengetahui Papa adalah orang yang menyebabkan Ayah Adit meninggal kukira selama ini Papa baik kepada Adit karena merasa bersalah karena hal itu, ternyata ada rahasia lebih besar yang disimpannya, rahasia tentang anak kandung yang sebenarnya.
Aku pun menyimpan jurnal itu untuk kutunjukan pada Adit besok.
Pagi harinya ada seseorang yang datang bertamu ke rumahku, dia berkata bahwa dirinya adalah pengacara pribadi Papa dan datang untuk membacakan surat wasiat yang telah Papa buat sebelumnya.
Pengacara itu bilang bahwa Papa telah membagi setengah harta kekayaannya untukku sedang setengah lagi untuk anaknya yang bernama Aditya Pratama.
Setelah Pengacara itu pergi aku terdiam dan memikirkan tentang wasiat Papa itu, aku merasa tak pantas menerima setengah harta Beliau, Adit lah Pewaris yang sebenarnya yang lebih berhak menerima semua harta peninggalan Papa, karena dia adalah anak kandung beliau.
Siang harinya aku menelpon Bams untuk menemaniku ke Bandung hari itu juga, aku berkata kepadanya bahwa aku ingin menemui Adit, tapi aku tak bilang bahwa aku kesana bukan hanya untuk memperbaiki hubungan kami, tapi juga untuk menyerahkan semua harta warisan Papa untuknya.
__ADS_1
Bams datang kerumahku, dia bertanya mengapa Reni tak ikut serta, aku memang sengaja tak mengajaknya, karena aku tak tega, Reni pasti rindu pada Ayah dan Ibunya setelah 3 bulan menemaniku di Perancis, Bams mengerti alasanku lalu kami pun berangkat menuju Bandung bersama Pak Iwan yang membawa mobilku.
Kami tiba di rumah Adit, aku berdiri di depan pintu rumahnya, hatiku berdegup kencang, karena akan bertemu kembali dengan pria yang sangat aku cintai.
Ku ketuk pintu rumah itu hingga tak lama seorang pria paruh baya membukanya, aku sama sekali tak mengenal siapa lelaki itu, aku pun berkata padanya bahwa aku ingin menemui Adit dan keluarganya, tapi dia bilang dia tak mengenal mereka karena baru 3 bulan yang lalu dia membeli rumah ini.
Aku terkejut karena ternyata Adit dan keluarga telah menjual rumahnya, aku mencoba menghubungi ponsel Rai kembali, tapi masih saja tak bisa dihubungi, Bams pun mencoba menghubungi ponsel milik Pay, dan ternyata sama saja, ponsel Pay tak bisa di hubungi juga.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga Adit? Aku dan Bams merasa kebingungan lalu pamit dari rumah itu.
"Iya Bams, aku juga bingung, gimana cara kita menemukan mereka semua." Jawabku.
Aku berpikir sejenak dan mengingat 3 bulan lalu Rai pernah berkata padaku bahwa kini Adit dan Pay kembali mengamen untuk mencari nafkah, aku pun memutuskan untuk mencari mereka di pusat-pusat pertokoan yang ada di kota ini.
Hari itu kami mencari di sebagian kota Bandung yang ternyata begitu luas, kami mencarinya hingga malam tiba tapi tak juga menemukannya, hingga akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di salah satu hotel di kota itu.
__ADS_1
Keesokan harinya pada pagi hari kami mencoba mencarinya kembali, kami datangi semua pusat keramaian dan pusat-pusat pertokoan berharap bisa menemukan mereka, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Aku hampir saja menyerah jika tak mengingat tentang surat wasiat Papa untuk Adit, kami mencarinya sekali lagi, dan dalam perjalanan aku melihat pasangan muda yang tengah bergandengan tangan di sebrang jalan, aku merasa si pria mirip sekali dengan Adit, saat itu tak terlalu jelas karena aku hanya melihat bagian belakang mereka.
Tapi punggung pria itu mengingatkanku pada saat Adit pergi di hari lamaran kami, aku meminta Pak Iwan menghentikan laju mobilnya, lalu aku turun mengikuti kemana pasangan itu pergi.
Ku ikuti mereka hingga akhirnya kulihat mereka masuk ke sebuah cafe, aku pun masuk ke cafe itu, kulihat sekeliling mencari pasangan itu tapi tak dapat kutemui.
Hingga pandanganku terhenti pada sebuah panggung kecil yang berada di dalam cafe itu, tampak seorang pria yang sedang memeriksa sound yang ada di sana, benar, pria itu adalah pria yang sama yang kulihat bersama wanita tadi, aku pun menghampirinya dan menepuk pundaknya.
"Mas...Mas, maaf." Kataku sambil menepuk pundaknya.
Pria itu menoleh ke arahku dan membuatku seketika membeku, ya itu adalah pria yang selama ini kucintai, pria itu adalah Adit.
"Riri." Katanya tampak terkejut.
__ADS_1
...SUDUT PANDANG RIRI SELESAI...