
Sesampainya dirumah tak lama Riri kemudian menghubungiku.
"Udah pulang Dit?"
"Udah nih Ri, baru saja sampai."
"Mandi sana pasti bau keringet kamu, Riri juga lagi dirumah nih Dit."
"Eh aku punya kabar gembira lho buat kamu, pasti kamu seneng dengernya."
"Oh ya, apaan tuh sayang?"
"Coba kamu tebak siapa yang sekarang ada di rumah."
"Siapa..? Mbok Yem, Bambang, Bang Pay?"
"Bener semua sih, tapi ada 1 lagi coba tebak."
"Siapa sih? Nyerah deh aku."
"Hahahaha payah baru nebak segitu aja nyerah, sekarang ada Tiwi lho di rumah, soalnya aku ngajak Bang Pay sama Tiwi untuk tinggal disini dan nemenin aku."
Tuuut...Tuuut...Tuuut...!!!
Terdengar suara telpon tiba-tiba terputus, sepertinya Riri memang sengaja menutup telponnya.
"Kak Adit..Kak Adit lumahnya kayak istana." Kata Tiwi sambil menarik-narik bagian bawah celanaku.
"Tiwi seneng nggak kalau tinggal disini?" Kataku sambil mengusap kepala anak itu.
"Seneng kak, Tiwi jadi tuan putli ya di istananya." Ucap Tiwi yang terlihat senang.
Akupun tersenyum mendengar kata-kata Tiwi.
"Oh iya Pay barang-barang lu sama Tiwi langsung dibawa ke kamar aja ya."
"Ok Dit, yang mana kamarnya?"
"Ada dua kamar kosong, satu di lantai bawah dan satu dilantai atas terserah lu mau kamar yang mana...Tiwi berani tidur sendiri?"
"Nggak kak, Tiwi mau tidul sama kakak Pay aja." Ucap Tiwi.
"Kalo gitu gw dibawah aja deh Dit, ngeri kalo Tiwi harus naik turun tangga." Ucap Pay.
Kemudian Pay membuka bagasi mobil dan hendak membawa barang-barang mereka berdua ke dalam kamar.
"Heh Bambang diem aja lagi lu disitu bantuin kek." Ucap Pay pada Bams.
"Ogah." Sahut Bams.
"Bukan bawain barang gw, tolong nih bawain barang-barang Tiwi." Lanjut Pay.
__ADS_1
"Nah kalo itu gw mau, abisnya Tiwi imut-imut banget sih, nggak kayak kakaknya yaaaang...." Bams tak melanjutkan ucapannya.
"Coba terusin yang apa maksud lu." Kata Pay dengan nada agak tinggi.
"Amit-amiiiiiiit........!!!!" Ucap Bams sambil berlari dengan membawa barang Tiwi dan menuju ke kamar.
Beberapa menit kemudian tampak mobil Riri tiba di rumah.
"Tiwiiiiii." Kata Riri setelah keluar dari mobil dan berlari kearah Tiwi.
"Kak Liliiiii." Sambut Tiwi ketika Riri datang.
"Wah aku dilupain ya sekarang." Ucapku kepada Riri dan Tiwi.
"Hehe abis Tiwi lucu banget sih Dit, Riri gemeeeees." Katanya sambil menggendong Tiwi dan menciuminya.
"Pantes tadi telpon mati gitu aja, kamu langsung kesini rupanya." Ucapku lagi.
"Iya Dit maaf ya, eh karena sekarang Tiwi sama Bang Pay sudah tinggal disini gimana kalau kita rayain sambil makan-makan, kalian semua belum makan malem kan." Ucap Riri.
"Setuju." Kata Bams ketika mendengar ide dari Riri.
"Apaan sih Bambang Nyamber aja lu, lagian kok lu belum pulang sih, pulang sana." Sahut Pay.
"Nggak apa-apa kok Bang Pay, Bams kamu ikut makan malam disini aja ya." Ucap Riri sambil tersenyum.
"Siap bos Riri." Kata Bams penuh semangat.
Riri pun kemudian memesan makanan lewat aplikasi online, 30 menit kemudian makanan yang dipesan pun telah tiba di rumah.
"Mbok Yem sini mbok kita makan bareng." Kataku mengajak simbok ikut serta.
Malam itu kami semua makan malam bersama, mulai hari ini mereka adalah keluarga baruku yang akan selalu berbagi suka maupun duka bersama-sama.
Aku sangat senang karenanya, suasana rumah yang semula sepi menjadi meriah karena kehadiran mereka semua, terutama Pay dan Tiwi yang memang mulai hari ini ikut tinggal bersamaku, ditambah lagi Bams yang setiap hari akan datang kesini.
Andai saja sahabatku Udin masih ada pastinya diapun akan senang melihat kami seperti ini, Huuuuft gw kangen lu Din.
"Woy Dit bengong aje lu, ayo makan, nanti keburu abis sama si klimis, lihat tuh makannya rakus banget kayak orang baru ketemu makanan." Ucap Pay yang menyadarkanku dari lamunan.
"Gak apa-apa bang, Riri pesen banyak kok." Ucap Riri.
Makan malampun selesai, tidak ada lagi satu orangpun yang sanggup untuk makan, karena memang Riri memesan makanan terlalu banyak.
"Aduuuh Ri, kamu pesen makanan udah kayak buat orang nikahan aja deh, kan mubadzir masih banyak yang gak kemakan." Ucapku.
"Hehe abisnya Riri seneng banget sih lihat Tiwi ada disini, jadinya nggak sadar deh pesen makanan sebanyak ini." Kata Riri.
"Mmmm...Anu bos, makanan nya boleh saya bawa pulang nggak ya?" Kata Bams kepadaku.
"Wadidaw si klimis udah makan paling banyak masih mau bungkus juga, sungguh luaaar biasa." Ucap Pay.
__ADS_1
"Bukan buat gw jamur, buat adik-adik panti asuhan gw." Timpal Bams.
"Lho memangnya kamu tinggal di panti asuhan Bams?" Tanya Riri.
"Iya Bos Riri, sejak masih bayi saya sudah tinggal disana." Kata Bams.
"Kalau begitu Riri pesenin lagi ya makanannya, nanti kurang lho." Kata Riri lagi.
"Nggak Usah bos, ini juga udah lebih dari cukup kok."
Setelah itu Bams pun pamit untuk pulang, tak lama Riri pun ikut pamit karena hari sudah malam dan berjanji pada Tiwi untuk datang lagi pada esok hari setelah selesai kuliah.
Keesokan paginya ketika baru bangun tidur Bams sudah ada di rumah dan duduk di meja makan.
"Pagi bos." Katanya menyapaku yang baru turun dari tangga.
"Eh Bams sudah disini aja kamu." Ucapku ketika melihatnya.
"Paling mau numpang sarapan Dit." Sahut Pay yang baru keluar dari kamarnya.
"Apaan sih jamur sinis mulu sama gw." Jawab Bams.
"Tiwi mana Pay, nggak sarapan bareng?" Ucapku.
"Masih tidur Dit, tadi sih udah gw titipin sama Mbok Yem, takut kalau dia bangun dan kita udah berangkat ke kantor." Kata Pay.
Setelah selesai sarapan kami bertiga lalu berangkat ke kantor, pada siang harinya ketika jam makan tiba, kami makan bersama di kantin karyawan.
"Wah asik menu hari ini bakso, ditambah es jeruk jadi maknyuuuuuus." Ucap Bams.
"Norak lu klimis." Sahut Pay.
"Wah lupa minta sedotan." Kata Bams yang kemudian meninggalkan bakso dan es jeruknya si meja."
"Wah kesempatan nih ngerjain si klimis." Kata Pay lagi yang melihat Bams pergi.
"Eh jangan Pay, kasian si Bams." Kataku mencoba mencegahnya.
"Gak apa-apa Dit, sekali-sekali." Ucap Pay sambil tertawa.
Kemudian Pay meraih botol cuka dan tempat sambal yang ada di dekatnya, lalu dia menaruh sambal yang sangat banyak dan dicampurkan kedalam bakso milik Bams, sedangkan minumannya dicampur dengan cuka.
Tak lama Bams datang dan bersiap untuk menyantap makanannya, kami yang melihatnya hanya bisa menahan tawa kami dan tak sabar melihat Bams memakan bakso itu.
Baru saja suapan pertama dari bakso masuk ke mulutnya Bams langsung memuntahkannya kembali karena merasa bakso yang dimakannya sangat pedas.
"Hah..Hah..Hah gila pedes banget nih bakso air mana air." Ucap Bams sambil meraih es jeruk miliknya.
Tapi setelah tegukan pertama Bams sepertinya tersadar ada yang salah dengan rasa minumannya, matanya terbelalak dan pipinya menggelembung karena airnya memang belum sempat dia telan.
Melihat ekspresi Bams yang seperti itu kemudian aku dan Pay tertawa terbahak-bahak, tapi tanpa diduga Bams menyemburkan minumannya ke arah Pay yang memang dari awal duduk dihadapannya.
__ADS_1
Karena sedang tertawa air yang disemburkan Bams tanpa sengaja masuk kemulut Pay hingga tertelan olehnya dan kemudian membuat Pay muntah karena rasa asam dari cuka itu.
Hingga kini berganti aku dan Bams yang menertawainya, begitulah hari-hariku yang akan selalu dipenuhi dengan tingkah konyol kedua orang ini.