
"Aku kebetulan sedang jalan-jalan di daerah sini Ri, dan tadi tanpa sengaja aku melihatmu makanya aku ikuti." Ucap Rezky.
"Lalu sekarang kamu mau kemana?" Tanyaku.
"Nggak tau Ri, karena temanku itu sangat sedikit jadi aku bingung tiap liburan mau jalan kemana." Kata Rezky dengan muka sedih.
Karena tak tega aku pun mengajaknya jalan-jalan di taman yang berada tak jauh dari apartemenku, kami berdua duduk di kursi taman itu.
"Ri, kamu tau nggak apa yang paling aku ingat dari kamu ketika kita kecil dulu."
"Apa itu Rez?"
"Aku ingat ketika aku bermain ke rumahmu dulu kamu selalu mengajakku bermain rumah-rumahan, kamu menjadi ibu dan aku ayahnya dengan boneka-bonekamu sebagai anak-anak kita." Kata Rezky sambil tertawa.
"Wah iya, kamu ingat aja Rez, aku sendiri justru lupa lho."
"Dan sekarang tanpa sengaja kita dipertemukan kembali oleh Tuhan, apa mungkin itu namanya jodoh ya." Ucap Rezky sambil menatap langit.
Aku terdiam, tak mendengar perkataannya karena mendengar petikan gitar tak jauh dari tempat kami duduk, di sana tengah duduk pria memakai kaos putih dengan jaket dan celana jeans, oh Tuhan itu Adit, dia menyusulku ke sini, aku sangat senang dan menghampirinya, kutinggalkan Rezky yang tengah duduk di kursi taman itu.
Aku berlari menuju Adit yang sedang duduk sambil memainkan gitarnya.
"Adiiiiiit.....!!!!" Aku berteriak padanya.
Seketika pria itu menoleh, dan aku merasa kecewa ternyata itu hanyalah bayanganku, pria itu bukanlah Adit melainkan musisi jalanan yang sedang memainkan gitarnya si tempat itu.
"Kamu kenapa Ri?" Tanya Rezky yang sudah berdiri di belakangku.
"Nggak kok nggak apa-apa, tadi kukira pria itu adalah orang lain." Jawabku.
"Tadi kamu panggil pria itu dengan nama Adit, Adit itu pacarmu?" Tanya Rezky.
"Iya, tapi....." Aku pun menceritakan semua masalahku pada Rezky.
"Oh jadi gitu masalahnya Ri, sungguh nggak adil, masa kesalahan yang di buat oleh Papamu di timpahkannya padamu, sepertinya dia bukan lelaki baik." Kata Rezky.
"Kamu bilang apa Rez? Bukan lelaki baik? Kamu jangan bicara sembarangan ya tentang Adit, kamu nggak kenal siapa dia, Adit itu pria terbaik yang pernah kukenal." Kataku yang marah dengan perkataannya lalu meninggalkannya sendiri di taman itu.
Aku berlari dari taman itu menuju apartemen sementara Rezky diam terpaku di tempat itu, sesampainya di apartemen aku menangis karena perkataan Rezky, Bams yang ada di sana lalu menghampiriku.
"Bos, kenapa bos, ada apa? Papa bos baik-baik aja kan?" Tanya Bams yang merasa khawatir.
__ADS_1
Aku menceritakan kejadian di taman tadi pada Bams.
"Kurang ajar sekali Dokter itu, berani-beraninya menghina bos Adit dan membuat bos Riri menangis, lihat saja akan kuberikan dia pelajaran hari ini juga." Kata Bams yang emosi dan hendak mencari Rezky.
"Jangan Bams, dia hanya tidak tahu orang seperti apa Adit, kamu jangan membuat keributan ya." Kataku mencegahnya.
"Baiklah jika itu maumu bos, jika bukan karenamu sudah kuhajar Dokter itu karena berkata yang tidak-tidak tentang sahabat sekaligus idolaku." Ucap Bams yang masih emosi.
Keesokan paginya sebelum menuju Rumah Sakit aku menyalakan televisi dan menonton berita pagi itu sambil sarapan, tampak berita kriminal yang tengah disiarkan saluran televisi itu, berita tentang penemuan mayat seorang pemuda, ciri-ciri mayat itu berambut hitam mengenakan kaos putih dengan jaket dan celana jeans.
"Apa setelan seperti itu sedang trend di Perancis? kemarin musisi jalanan di taman pun mengenakan pakaian seperti itu." Kataku.
Setelah itu aku pun bergegas ke Rumah sakit untuk menggantikan Bams yang berjaga malam tadi, sesampainya di sana lalu Rezky menghampiriku.
"Ri, aku minta maaf ya soal yang kemarin." Kata Rezky.
"Iya Rez nggak apa-apa, kamu nggak salah kok, aku bersikap seperti itu karena hatiku sedang sedih, maaf juga ya aku meninggalkanmu sendiri di taman." Aku tersenyum padanya.
"Iya Ri, kamu tambah cantik kalau tersenyum seperti itu." Kata Rezky dan berlalu pergi untuk kembali bekerja.
Rezky lelaki baik, tak seharusnya aku memperlakukannya seperti kemarin, aku merasa bersalah padanya.
Satu Minggu telah berlalu semenjak kami tiba di Perancis, dan pagi itu Rai menelponku.
"Iya De, kenapa?"
"Kamu ingat tentang temanku Jessica yang kubilang sepertinya suka sama A Adit."
"Iya, kenapa memangnya De?"
"Semakin hari sepertinya mereka semakin dekat Kak, dan hari ini mereka jalan berdua ke Puncak Bintang, aku akan membantumu sebisaku Kak."
"Iya makasih ya De." Telpon itu pun berakhir.
Aku kecewa, kukira tempat itu spesial untuk kami, karena kenanganku dan Adit ada di sana, tapi buktinya dia mengajak wanita lain ke sana, aku pun meraih ponselku lalu menghubungi Rezky.
"Iya Ri, aku seneng banget kamu telpon, ada apa?" Tanya Rezky.
"Kamu masuk pagi kan hari ini Rez?" Tanyaku.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tawaranmu ke Eiffel masih berlaku?"
__ADS_1
"Iya."
"Kalau begitu malam ini kamu jemput aku di apartemen dan temani aku ke sana." Aku pun menutup telpon itu.
Tanpa kusadari ternyata Bams yang bersiap pergi ke Rumah Sakit pagi itu mendengar percakapan aku dan Rezky di telpon tadi, dia mencoba melarangku tapi aku bersikeras tetap pergi karena saat ini hatiku sedang sangat kecewa, Bams pun tak bisa berkata dan akhirnya pergi ke Rumah Sakit.
Sementara itu setelah Bams sampai di Rumah Sakit.
"Gawat...Gawat bisa-bisa bos Adit di tikung sama Dokter aneh itu, gw harus cepet telpon si Tarzan." Kata Bams.
"Halo klimis ada apa?" Kata Pay.
"Bos Adit mana gw mau ngomong penting, cepetan pulsa gw bisa bobol kalau telpon dari luar negeri."
"Iya..Iya tunggu sebentar, Dit nih si Bambang mau ngomong." Kata Pay.
"Iya Bams kenapa." Terdengar suara bos Adit di sana.
"Gawat bos..."
"Gawat kenapa?"
"Bos Riri...Bos Riri ada yang naksir."
"Siapa..?"
"Dokter muda yang menangani Papanya, dari seminggu yang lalu dia selalu mencoba mendekati bos Riri tapi aku dan Reni selalu berhasil mencegahnya, tapi hari ini kami gagal bos, dan nanti malam mereka janjian akan jalan-jalan ke menara Eiffel." Kataku panik.
"Kenapa kalian cegah? Biarkan saja...Apa Dokter itu orang yang baik?" Tanya bos Adit.
Tanpa kusadari ternyata Dokter Rezky daritadi tengah berdiri di belakangku dan mendengar semua pembicaraan kami melalui telpon.
"Bicara macam-macam maka selang pernafasan pak tua itu akan aku cabut." Bisiknya di telingaku.
"Kelihatannya baik bos." Aku terpaksa mengatakannya.
"Kalau begitu dukung dia untuk bersama Riri...."
"Ta...Tapi bos."
"Ya sudah ya Bams, aku mau mandi dulu, maklum baru pulang bepergian tadi belum sempat mandi."
Rezky pun meninggalkan Bams bersama Papa Riri di ruangan itu.
__ADS_1