
Akhirnya Kak Sinta kembali ke Bandung bersama Pak Dokter, dan akan menyampaikan kabar itu kepada keluarga yang lain, malam harinya aku dan Riri berbincang di dalam kamar sebelum tidur.
"Sayang, aku punya kejutan untuk kamu." Kataku.
"Wah kejutan apa sayang?" Tanya Riri penasaran.
"Tebak dulu, nggak seru kalau langsung kukasih tau."
"Mau kasih kado ya?"
"Iya sih bener, tapi tau nggak kadonya apa?" Kataku membuat Riri menggelengkan kepalanya.
"Kadonya adalah dua hari lagi aku akan ngajak kamu bulan madu ke Belitung." Kataku lagi.
"Wah, kamu serius sayang? Lalu gimana kerjaan kamu."
"Tenang saja, semua udah ada yang ngurus kok, lagipula para klien itu nggak tau waktu banget, masa aku baru nikah langsung ngajak bertemu." Kataku.
"Kita berdua aja nih?" Tanya Riri.
"Nggak kok, aku ngajak keluargaku, walau Ibu, Bapak, Paman dan Bibi nggak bisa ikut, soalnya kata mereka tanggal keberangkatan kita bertepatan dengan tetangga dekat yang akan menikahkan anaknya, nggak enak katanya kalau nggak bantu-bantu."
"Kalau gitu dari Bandung cuma Kak Sinta, Rai, Iman dan Jessica aja dong?" Tanya Riri.
"Sama Pak Dokter juga kok, kan sekarang Kakak sudah berpacaran dengannya, oh iya kamu juga kabari Reni dan Bams juga ya, mereka juga kan keluarga kita." Kataku.
"Ok sayang." Kata Riri senang.
Tak lama terdengar suara orang berteriak minta tolong di lantai bawah, terdengar suara seorang laki-laki, sepertinya itu adalah suara Pay. Sontak kami langsung berlari menuju sumber suara yang ternyata berasal dari kolam renang, sepertinya Pay tenggelam di kolam itu, hanya tangannya yang terlihat sementara tubuhnya berada di bawah air.
Tanpa berpikir panjang aku menceburkan diri ke kolam itu dan menolongnya. Aku meraih tubuh Pay agar ia tak banyak meminum air kolam itu, tapi seketika Pay berdiri dan memarahiku.
"Lu ngapain sih Dit?" Katanya.
"Lho Pay, tadi gw denger lu minta tolong, lu tenggelam kan?" Kataku.
"Tenggelam, sorry ye gw ini kalau berenang dah kayak lumba-lumba, gk mungkin tenggelam." Jawabnya.
"Trus tadi ngapain?"
"Orang gw lagi nyontohin Tiwi, kalau dia berenang sendiri tanpa di awasi orang dewasa bisa seperti itu nanti." Kata Pay.
Karena panik aku dan Riri tidak menyadari ada Tiwi yang sedang duduk di kursi kolam renang dan menertawai tingkah kami.
"Lagian lu teriaknya kenceng banget, gw kira betulan." Kataku.
"Hehe maaf, biar menghayati peran." Kata Pay.
Dua hari kemudian semua orang berkumpul di rumahku, termasuk keluargaku dari Bandung, Hari itu Jumat pagi kami bersiap untuk menuju pulau Belitung, semua sudah di urus, termasuk travel yang akan menjadi pemandu kami di sana.
__ADS_1
"Laskar pelangi...Takkan terikat waktu...u.." Bams bernyanyi.
"Berisik lu, suara cempreng aja." Sahut Pay.
"Norak lu, itu kan lagu Laskar pelangi, lu pasti nggak pernah nonton filmnya kan?" Balas Bams.
"Nggak pernah, emang apa bagusnya?"
"Wah jamur beracun kasian banget, itu kan film tentang Bangka Belitung, tempat yang bakalan kita datangi."
"Udah..Udah, berantem terus." Kata Rai menengahi mereka.
Pagi itu kami berangkat menuju pulau Belitung, Penerbangan hanya memakan waktu 1 jam untuk sampai ke sana, pagi itu juga kami tiba di Bandara H.A.S Hanadjoedin Tanjung Pandan. Tak lama kami melihat seorang pria memegang karton bertuliskan namaku dan kemudian menghampirinya, dia memperkenalkan diri sebagai pemandu kami selama tiga hari kedepan dan menyuruh kami untuk segera menuju mobil travel yang telah di sediakan.
"Lihat ke sebelah kiri di sana adalah monumen batu Satam, lambang dari pulau ini dan bahkan menjadi oleh-oleh khas di sini." Kata pemandu itu.
"Wah saya mau beli mas, buat di jadiin batu cincin." Kata Pay.
"Punya duit emang ente?" Timpal Bams.
"Ya punya lah, rambut klimis lu kalo lu jual gw bayarin." Sahut Pay.
"Hadeuh mulai lagi deh." Kata Rai.
"Nanti ya Mas, hari terakhir baru kita ke tempat oleh-oleh." Kata pemandu itu lagi.
"Mas jadwal hari ini apa aja." Tanyaku.
Pagi itu kami makan bersama dengan mie khas pulau Belitung, setelah selesai kami semua menuju ke Belitung timur untuk menyambangi sekolah Laskar pelangi dan beberapa tempat lainnya.
"Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia...." Bams bernyanyi lagi ketika sampai di sekolah itu.
"Wah ini kan sekolah yang di pakai untuk film laskar pelangi, SD Muhammadiyah Gantong." Kata Jessica sambil membaca papan nama sekolah itu.
Kami berfoto bersama di sekolah itu, hari itu kami menyusuri beberapa tempat yang ada di bagian timur Belitung, seperti rumah keong, Museum kata Andrea Hirata hingga akhirnya kami makan siang di kota Manggar. Pada sore harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai burung mandi, sesampainya di sana aku dan Riri memisahkan diri dari kelompok dan jalan berdua menyusuri bibir pantai.
"Wah lucu ya Dit batu di sana, bentuknya mirip kepala burung." Kata Riri.
"Burung siapa?" Balasku.
"Iiih Adit, Ya burung binatang lah, emang burung apa." Jawab Riri.
"Oh kirain...." Kataku.
"Kirain apa? Pasti kamu ngeres deh." Ucap Riri.
"Hehehe...ntar malem mau liat burung lagi nggak?" Tanyaku menggodanya.
__ADS_1
"Burung apa malem-malem? Mau liat dong." Tanya Riri memancing.
"Bener ya jangan nyesel, pasti kamu keenakan."
"Masa? Coba buktiin." Kata Riri menantang.
"Di sini?"
"Gila kamu, ya nanti malam lah di hotel."
"Bener ya, liat aja nanti malam, aku bikin kamu nyerah." Jawabku.
"Ehem." Tiba-tiba saja terdengar suara orang di belakang kami.
"Wah kacau nih orang, suka muncul tiba-tiba, lu bener ninja dari Konoha ya." Kataku ketika melihat Pay ada di belakang kami.
"Sorry nggak sengaja Dit, gw cuma mau foto di batu itu." Kata Pay berlari menjauhi kami.
Setelah menyaksikan sunset di pantai itu kami kembali ke Tanjung Pandan untuk check in di hotel dan setelah pembagian kamar kami kembali berkumpul untuk makan malam di pusat kota.
"Akhirnya makan juga, gw udah laper banget." Kata Bams.
"Dasar rakus." Sahut Pay.
"Ini namanya Bedulang mas, makanan khas di sini, satu nampan itu berisi banyak lauk dan di makan bersama, satu nampan cukup untuk empat orang." Kata pemandu kami.
Aku makan bersama Riri, Iman dan Jessica. Kak Sinta bersama Pak Dokter dan Tiwi. Sedangkan Bams bersama Pay, Rai dan juga Reni. Kami makan dengan tenang, kecuali kelompok Pay dan Bams tentunya.
"Woy bagi-bagi woy, jangan di habisin sendiri." Kata Pay ketika melihat Bams mengambil makanan di atas meja.
"Iya nih Bang Bams, nanti kami makan apa." Sahut Rai.
"Bikin malu aja kamu sayang." Sambung Reni.
"Iya...Iya maaf, ya sudah mari makan." Kata Bams.
"Nih aku sendokin lauknya khusus buat kamu." Kata Reni sambil tersenyum kepada Bams.
"Wah makasih lho, kamu memang pacar yang baik." Kata Bams bangga.
Kletuk...terdengar suara Bams menggigit lauk yang di tutupi oleh bumbu itu.
"Bazeeeeng lengkoas." Kata Bams membuat kami semua tertawa terbahak.
Sesampainya di hotel kami menuju kamar yang saling bersebelahan, aku dengan Riri sedangkan di samping kami adalah kamar Pay dan Bams.
Setelah mandi aku melihat Riri sedang memainkan ponselnya di atas kasur itu, seketika aku teringat pembicaraan kami di pantai tadi.
"Hayo siapa tadi yang nantang main smackdown." Kataku seraya membuka handuk yang kupakai.
__ADS_1
"Waduh, ada tuyul raksasa." Ucap Riri yang menoleh ke arahku.