
"Baiklah jika begitu pak, maaf atas semua kata-kata dan perlakuan saya tadi kepada bapak, saya janji akan bersikap lebih baik lagi." Katanya dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
"Peraturan disini sederhana, tidak terlambat masuk kerja tidak membuat ulah dan harus bisa bekerja sebagai tim, jika kamu bermalas-malasan saya tidak akan segan-segan untuk memecat kamu, mengerti." Kataku menyalin kata-kata Sinta ketika aku pertama masuk keruangan ini.
"Ja..Jadi pak saya diterima."
"Sudah jelas kan kata-kata saya tadi."
"Terimakasih pak saya akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini, jadi mulai kapan saya bekerja pak."
"Mulai hari ini, sekarang kamu boleh keluar dan isi meja yang kosong disana."
"Siap pak." Katanya bersemangat.
Aku menerimanya karena dia orang yang cerdas lagipula dia bilang dia adalah teman Riri, bagaimana mungkin aku bisa menolaknya.
Tak lama salah seorang staff mengabariku bahwa sebentar lagi akan ada rapat para kepala bagian, oleh karena itu akupun pergi ketempat rapat di lantai 5 kantor ini.
Siang itu sebelum jam makan siang rapat telah selesai, akupun kembali ke ruanganku di lantai 3, sesampainya disana kulihat Bambang yang sedang bekerja dengan baju yang basah kuyup.
"Kenapa kamu Mbang." Aku bertanya padanya.
"Anu pak, aku terpeleset dikamar mandi."
"Ya sudah kamu sekarang ke pantry dan minta handuk kering disana, keringkan badan dan bajumu dulu."
"Baik pak."
Saat jam makan siang kulihat Bambang tengah makan dan duduk sendirian di pojok kantin karyawan itu, lalu aku duduk bersamanya.
"Kamu dikerjai oleh anak-anak HRD kan bukannya terjatuh dikamar mandi." Ucapku.
"Sungguh pak aku terjatuh tadi." Jawabnya.
"Sudah nggak usah takut, aku tahu betul kok." Kataku sambil tersenyum karena mengingat masa lalu.
"Maaf ya pak yang tadi pagi terutama di lift tadi, aku kira bapak adalah sainganku sesama pelamar di kantor ini, makanya aku berkata seperti itu untuk menjatuhkan mental lawan."
"Hahahaha santai Mbang, aku bukan orang pendendam kok."
"Panggil saja saya dengan Bams pak, lebih enak didengar hahaha."
"Ok bams saya harap kamu bisa bekerja dengan baik disini, ngomong-ngomong kamu bukan penyanyi kan?" Kataku sambil tertawa.
"Bukan pak, boro-boro nyanyi bicara saja saya fals pak."
__ADS_1
Suasana sudah mencair dan ketegangan yang terjadi antara kami tadi pagi pun sudah terlupakan, hingga sore itu sebelum pulang kerja aku mendengar suara ribut-ribut dari luar ruanganku.
Kuintip melalui kaca jendela ruanganku ternyata itu adalah suara anak-anak senior yang sedang mengerjai Bambang, kurasa aku perlu mengambil tindakan, lalu akupun keluar dari ruanganku.
"Selama kepemimpinan saya di bagian HRD ini tidak ada yang namanya mengerjai anak baru, Senior-Junior sama dimata saya, jika masih ada yang melanggar akan menerima skorsing, kalian semua mengerti?"
"Mengerti pak." Jawab mereka serempak.
Pada jam pulang kantor tiba-tiba Bambang menghampiriku.
"Terimakasih ya pak, karena bapak sudah membela saya, saya sangat terharu pak, karena dari sekolah dulu saya adalah kutu buku yang selalu dibully oleh teman-teman saya dan baru kali ini ada yang membela saya." Katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Ok Bams santai..Santai."
"Oleh karena itulah saya sering bertingkah sok jago dan membual agar tidak ada seorangpun yang merendahkan saya lagi." Katanya lagi.
"Iya Bams, tapi kamu nggak usah nangis di bahu saya."
Kemudian akupun mengajaknya pulang bersama karena seingatku tadi pagi kami menaiki bus jurusan yang sama.
Tapi ketika sampai di depan kantor kulihat ada Riri yang menungguku di depan mobilnya.
"Pak Adit, lihat itu ada wanita cantik, perhatikan pak saya akan tunjukan cara memikat wanita dalam waktu singkat." Kata Bambang padaku.
Belum sempat aku memberitahu siapa wanita yang dimaksud Bambang namun dia sudah terlebih dahulu menghampiri Riri dan beranjak dariku.
Riri memperhatikan Bams dari ujung kepala hingga ujung kaki karena melihat tingkahnya.
"Kenapa nona? Terpesona dengan penampilan saya sampai memperhatikan seperti itu." Katanya sambil membetulkan rambutnya yang penuh dengan minyak rambut itu.
Riri hanya terdiam melihat keanehan Bambang hingga akhirnya dia melihatku menghampiri mereka.
"Adiiiit." Riri melambaikan tangan padaku lalu menghampiriku dan meninggalkan Bams sendiri.
Melihat itu Bambang terlihat menjadi pucat pasi lalu aku dan Riri menghampirinya.
"Ini kakak kamu Ri?" Kataku menggoda Bambang.
"Kakak? Adit aku kan anak tunggal." Jawab Riri.
"Lho tadi katanya dia anak pemilik perusahaan ini, berarti kakak kamu dong." Kataku sambil tertawa
"Iiiih Adit Riri nggak kenal, kayaknya dia orang aneh deh Dit." Ucap Riri.
"Hahahaha bukan Ri, kenalin ini Bams karyawan baru di kantor ini, Bams kenalin ini Riri pacarku anak pemilik perusahaan ini." Akupun mengenalkan mereka berdua.
__ADS_1
Bams bertambah pucat ketika mengetahui siapa Riri sebenarnya.
"Ma..Maaf Bu Riri saya tadi hanya bercanda." Katanya sambil menunduk.
"Nggak usah panggil bu, panggil aja Riri." Ucap Riri sambil tersenyum seperti biasa.
"Sudah selesai nganter Tiwi dan Pay nya Ri?" Tanyaku.
"Sudah Dit, makanya aku langsung kesini untuk jemput kamu, ayo kita pulang."
"Ayo Bams kita pulang sama-sama, kita kan searah." Aku mengajaknya pulang bersama.
"Nggak usah pak, saya malu." Ucap Bams.
"Nggak usah dipikirin yang tadi, ayo kita pulang sama-sama." Ucap Riri pada Bams.
Akhirnya kami pun pulang bersama-sama.
"Oh iya Bams, rumah kamu dimana?" Aku bertanya padanya.
"Itu lho pak perumahan elit dekat halte kita menunggu bus tadi."
"Wah kita tetangga ternyata ya." Kataku lagi.
Sesampainya kami dikawasan Perumahan, aku bertanya kembali dimana rumah Bams karena hendak mengantarkannya pulang.
"Dimana rumahmu Bams?"
"Lurus saja pak 5 rumah dari sini."
Setelah sampai di lokasi yang dia tunjukkan ternyata kami tepat berhenti di depan rumahku.
"Nah ini lho pak rumah saya, rumah paling besar di komplek ini, terimakasih ya pak sudah antar saya." Katanya sambil turun dari mobil.
Melihat mobil kami tak beranjak dari depan rumah itu tampak wajah Bams yang kebingungan, mungkin dia menunggu kami pergi dari situ lalu pulang kerumah dia yang sebenarnya.
"Pak terimakasih ya sudah antar saya, sekarang bapak boleh pulang." Katanya lagi.
Tak lama Mbok Yem membukakan gerbang untuk kami.
"Silahkan mas Adit, non Riri." Kata mbok Yem kepada kami.
Melihat itu wajah Bams kembali menjadi pucat pasi dan tertunduk malu untuk kesekian kalinya.
"Bams ngapain diluar pager, ayo masuk." Akupun mempersilahkan dia masuk.
__ADS_1
"Pak Adiiiit kamu orang hebat, mulai hari ini saya akan menjadi pengikut setiamu." Kata Bams sambil berlari pergi entah kemana.