Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Bunuh diri


__ADS_3

Malam itu aku hanya menangis di dalam kamar, menangisi Adit yang akan menikah dengan gadis lain, mataku sembab karena sudah seharian ini aku menangis.


Tak lama terdengar ketukan dari luar pintu kamarku, dan ternyata itu adalah Bams yang akan berangkat lagi untuk menjaga Papa.


"Bos...Bos Riri, makan dulu, aku barusan beli makan malam untukmu bos." Kata Bams yang pasti sudah di ceritakan oleh Reni.


"Aku nggak lapar Bams." Jawabku dari dalam kamar.


"Aku tau bos saat ini kecewa, aku pun kecewa bos, karena aku sangat ingin melihatmu dan bos Adit menikah, tapi apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan bos, kamu harus makan supaya tidak sakit." Katanya lagi.


"Ya sudah Bams kamu taruh saja makanan itu di meja makan, nanti akan kumakan."


"Iya bos, kalau begitu saya pamit ya mau ke Rumah Sakit lagi." Kata Bams yang kemudian pergi.


Maaf Bams, aku sengaja berbohong dan mengatakan padanya bahwa aku akan memakan makanan itu, jujur saat ini aku tak merasakan lapar atau haus sedikitpun, yang kurasakan hanya kecewa dan sakit hati, aku memang bangga atas pengorbanan yang di lakukan Adit, tapi wanita mana yang rela melihat lelaki yang sangat dia cintai menikah dengan wanita lain.


Aku terus menangis hingga akhirnya aku terlelap dan memimpikannya, aku bermimpi melihatnya sedang duduk terdiam di suatu tempat, aku menghampirinya, dia hanya tersenyum kepadaku lalu aku pun memeluknya, aku mengatakan bahwa apapun yang terjadi aku akan selalu mencintainya, setelah itu aku pergi dari hadapannya dengan dia yang hanya meratapi kepergianku.


Pagi harinya aku terbangun, dada ini masih saja terasa sesak, apalagi hari ini adalah hari pernikahannya, ingin rasanya aku pulang dan bertemu dengannya walau mungkin itu jadi hal terakhir sebelum dia menjadi milik orang lain.


Pagi itu Reni masuk ke kamarku, dia duduk tepat di sebelah tempatku berbaring.


"Sudah Ri, jangan nangis terus, ikhlaskan Adit, mungkin dia bukan jodohmu." Kata Reni.


"Aku juga ingin ikhlas melepasnya Ren, sangat ingin, tapi entah mengapa hal itu menjadi sangat sulit." Jawabku.


"Aku ngerti Ri, tapi setidaknya kamu makan dulu ya, dari kemarin lho kamu belum makan, makanan yang Bams bawa saja masih utuh di atas meja."


"Riri nggak lapar Ren."


"Pokoknya kamu harus makan." Kata Reni memaksa dan menarik tanganku ke meja makan.


"Sekarang kamu duduk...Aku sudah sediakan sarapan untukmu." Kata Reni.

__ADS_1


Terlihat roti dan buah di atas meja makan, tapi pandanganku sama sekali tak menuju ke arah makanan itu melainkan pada pisau untuk memotong buah yang ada di sebelahnya, apa aku bunuh diri saja dan mengakhiri penderitaanku? mungkin dengan begitu aku bisa melupakannya, seakan ada bisikan setan saat itu.


"Oh aku lupa ngambil susu." Kata Reni yang pergi meninggalkanku.


Aku berpikir sejenak hingga tak lama kuraih pisau di atas meja, aku meletakan pisau itu di nadiku, sepertinya tekadku sudah bulat untuk menghilangkan derita ini, karena aku sudah tidak sanggup menahan beban di pundakku.


Reni yang melihatku dari kejauhan berlari sambil berteriak kepadaku, hampir saja aku melakukan itu jika tak ada telpon masuk dari Rai.


"Iya De." Kataku sambil terisak.


"Kakak nangis?" Tanya Rai.


"Iya De, Kakak nggak kuat mendengar kabar pernikahan Kakakmu." Kataku dengan tangis lebih keras.


"Sudah Kak jangan nangis lagi, pernikahannya batal kok." Ucap Rai sambil menceritakan semuanya dan lalu menutup telponnya.


Aku sangat senang mendengarnya, akhirnya Adit tidak jadi menikah karena di gantikan oleh Iman, sementara itu Reni masih berlari dengan panik ke arahku.


"Jangan bodoh Riiiiiiiiii..." Kata Reni.


"Kamu mau bunuh diri kan?" Kata Reni lagi.


"Nggak kok, orang aku mau kupas buah." Kataku sambil tertawa.


"Yeee Bambang....Aku khawatir banget tadi lihat kamu pegang pisau."


"Cieeee lagi kangen Mas Bambang ya, udah ah aku mau makan laper banget." Kataku.


Reni terperangah melihat pagi itu makanku lahap sekali, memang rasa lapar baru muncul setelah aku mendapat kabar membahagiakan dari Rai, maklum saja karena kemarin aku sama sekali tidak makan.


"Kamu kesurupan Ri?" Kata Reni tampak heran.


"Nggak." Jawabku singkat.

__ADS_1


"Makanmu banyak banget, padahal kemarin nggak mau makan." Kata Reni lagi.


"Iya dong, soalnya Adit nggak jadi nikah." Kataku sambil tertawa.


"Serius kamu? Wah selamat ya Ri." Kata Reni kemudian memelukku.


"Btw badan kamu bau asem banget Ri, kamu pasti belum mandi dari kemarin." Kata Reni sambil menutup hidungnya.


"Hehehe maaf, iya aku nggak mandi seharian, abis makan aku mandi deh, terus kita ke Rumah Sakit ya."


Hari hari terus berlalu, sekarang tanggal 15 Juni, tak terasa sudah 3 bulan lebih kami berada di Perancis, keadaan Papa makin membaik akhir-akhir ini, semua alat yang menempel di tubuhnya sudah di lepas hanya tinggal selang infus dan alat bantu pernafasan saja yang masih terpasang, Papa memang belum sadar sepenuhnya, tapi dia sudah mulai bisa merespons pembicaraan kami dengan menggerak-gerakan tangannya.


Pagi itu adalah giliranku menjaga Papa, seperti biasa aku duduk di sebelahnya, di hari itu keajaiban terjadi, tiba-tiba saja Papa membuka matanya dan memanggil namaku pelan.


"Riri." Kata Papa.


"Pa...Papa." Kataku memegang tangannya.


"Maafkan Papa." Kata pertama yang di ucapkan Papa.


"Iya Pa, Riri sudah memaafkan Papa." Jawabku.


Terlihat Papa meneteskan air mata, genggaman tangannya sangat erat saat itu, aku memanggil Dokter untuk memeriksa Papa.


Dokter berkata ini sangatlah bagus, mungkin tak lama lagi Papa bisa pulih seutuhnya, walau untuk saat ini pernafasan Papa masih harus di bantu, aku lalu menelpon Reni untuk mengabarkan kabar bahagia ini, aku juga ingin sekali mengabari Rai, tapi entah kenapa ponselnya tak bisa di hubungi sejak terakhir dia mengabariku tentang batalnya pernikahan Adit, namun tak apa karena sebentar lagi aku akan pulang dan menemuinya.


Tak lama Bams dan Reni datang setelah mendapat kabar dariku, kami berpelukan di ruangan itu, kami semua senang menyambut kesembuhan Papa karena 3 bulan ini kami sudah berjuang semampu kami untuk Papa.


"Wah selamat ya Ri." Kata Reni.


"Makasih Ren, ini kan berkat kalian juga yang selalu menemaniku selama ini." Kataku.


"Wah berarti sebentar lagi kita pulang ke Indonesia dong bos? Aku sudah sangat rindu pada Ibu dan Adik-adikku di Panti." Kata Bams.

__ADS_1


"Iya Bams, makasih ya." Kataku tersenyum padanya.


Ternyata kami semua di marahi oleh Dokter yang memeriksa Papa karena berisik di ruangan itu, karena menurutnya Papa masih butuh istirahat, lalu kami pun keluar dari sana.


__ADS_2