Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Teman masa kecil


__ADS_3

Rai menelponku dan menanyakan kabar, dia berkata sangat khawatir dengan keadaanku, aku bertanya padanya apa Rai sama sekali tidak membenciku, dia menjawab, tak adil rasanya jika dia membenciku atas semua kesalahan yang Papaku perbuat di masa lalu.


Rai berkata sekarang dia telah lulus sekolah karena baru saja diantar kakaknya untuk mengambil ijazah, aku lalu menanyakan kabar Kakaknya itu, dia mengatakan bahwa Adit baik-baik saja, sekarang dia dan Pay kembali mengamen untuk mencari nafkah, dia juga bilang bahwa Adit seringkali melamun bila berada di rumah dan sepertinya itu karena memikirkanku.


Aku sangat senang mendengarnya, itu berarti Adit belum benar-benar melupakanku, aku berterimakasih pada Rai karena memberikanku kabar, dan dia bilang akan terus menghubungiku untuk mengabari keadaan Kakaknya itu, bahkan dia menyimpan nomorku dengan nama seorang pria agar Kakaknya tak curiga.


Tiga hari kemudian Rai menelponku kembali dia bilang sepertinya ada seorang temannya yang menyukai Adit, Jessica namanya, tapi Kakaknya itu sama sekali tak terlihat menyukainya, bahkan dia tak peka dengan pendekatan yang dilakukan oleh gadis itu.


"Dasar kamu begitu polos Dit, tapi terimakasih ya karena masih menjaga cintaku walau aku tahu saat ini kamu pasti sangat membenciku." Ucapku ketika telpon berakhir.


Seminggu telah berlalu semenjak Papa pertama di rawat di Rumah Sakit ini, belum ada perkembangan berarti, Papa masih belum juga tersadar dari Komanya, kami semua bersiap berangkat ke Perancis pagi itu, kami menyewa pesawat pribadi pergi ke sana karena tidak mungkin Papa yang tak sadarkan diri dibawa dengan pesawat untuk umum.


Kami tiba di Perancis pada malam harinya, kemudian Papa di jemput dengan menggunakan ambulance sedangkan kami menaiki mobil yang sudah di sediakan oleh orang kepercayaan Papa yang mengurusi bisnis hotelnya di Negara ini.


Tampak Bams sangat mengagumi keindahan arsitektur Kota Paris, membuatku membuka kenangan lalu bersama Adit ketika pertama datang ke kota ini, aku tak banyak berkata selama perjalanan, hanya mengarahkan pandanganku ke luar kaca jendela, Reni kemudian menggenggam tanganku, sepertinya ia tahu bahwa aku sedang sangat merasakan kesedihan karena mengingat kebersamaanku dengannya di kota ini.


Setibanya kami di Rumah Sakit Papa telah dibawa ke kamar untuk mendapatkan perawatan, kami masih menunggu Dokter yang menanganinya, hingga tak lama datang seorang Dokter muda menghampiri kami, wajahnya tampak tak asing, tapi aku lupa di mana aku pernah mengenal Dokter muda itu.


"Bagaimana Dok, keadaan Papa saya?" Tanyaku dalam bahasa Perancis kepada Dokter itu setelah selesai memeriksa Papa.


Dokter itu terdiam sejenak sambil memandangi wajahku.


"Kamu Riri kan?" Dia menyebut namaku dalam bahasa Indonesia.


"Iya, maaf anda siapa ya?" Jawabku karena aku benar-benar lupa siapa orang itu.


"Kamu pasti lupa sama aku, ini aku Rezky." Jawabnya.


Rezky...Aku sejenak mengingat-ingat nama itu, hingga akhirnya aku teringat dengan sahabatku sewaktu Sekolah Dasar dahulu, dulu ada anak laki-laki bernama Rezky yang sangat dekat denganku, Rezky adalah Kakak kelasku, umur kami terpaut dua tahun, awal perkenalanku dengan anak itu adalah ketika dahulu banyak siswa yang mengangguku secara tiba-tiba saja Rezky datang dan membelaku.


Kami menjadi sangat dekat setelah hari itu, hingga saat kelulusannya dia berkata akan pergi jauh ke Luar Negeri karena Mamanya menikah lagi dengan orang asing, tapi aku tak pernah tahu ke Negara mana dia akan pindah, dulu aku sangat sedih karena kepergiannya dan mengatakan aku akan menunggunya kembali sampai kapanpun.

__ADS_1


"Kamu benar Rezky teman sekolahku dulu?"


"Iya Ri, ini aku...Kamu sudah ingat."


Aku memeluknya sebagai bentuk ungkapan rasa bahagiaku bertemu dengan teman baik yang telah lama terpisah.


"Ehem...Ehem." Terdengar suara Bams yang membuatku melepaskan pelukanku.


"Bams, Ren, perkenalkan ini Rezky dia sahabatku sewaktu kecil."


"perkenalkan gw Bams sahabat baik dari pacar Riri yang ada di Indonesia." Ucap Bams dengan wajah yang tak bersahabat.


Rezky hanya tersenyum dan menjabat tangan Bams, malam itu Rezky mengajak kami semua untuk makan malam di restoran yang berada tepat di sebrang jalan Rumah Sakit, kami menyetujui ajakannya karena memang belum sempat makan dalam perjalanan panjang tadi.


"Ri kamu inget nggak dulu waktu kecil aku bilang bahwa aku akan menikahimu, lalu kamu jawab kamu akan selalu menunggu kepulanganku." Kata Rezky sambil tertawa.


"Iya aku ingat kok, tapi itu kan hanya khayalan anak SD Rez." Jawabku.


"Kamu kenapa sayang, keselek steak ya." Kata Reni.


"Nggak kok, aku enek aja enggak tau kenapa." Jawab Bams.


"Kamu sakit Bams?" Tanya Rezky.


"Sepertinya saya masuk angin karena perjalanan tadi Dok, bos Riri gimana kalau kita pulang setelah ini." Kata Bams.


"Iya Bams, setelah makan kita langsung pulang ya." Jawabku.


Kami bertiga menyewa apartemen yang tak jauh dari Rumah Sakit itu, agar mudah bila kami hendak menjaga Papa.


"Ya sudah kalian istirahat saja, biar malam ini aku yang menjaga Papamu, kalian pasti lelah setelah perjalanan tadi." Ucap Rezky.

__ADS_1


"Wah kamu serius Rez, makasih ya." Jawabku.


"Oh iya Ri, aku bisa minta nomor ponselmu? agar mudah bila mau mengabari perkembangan Papamu." Kata Rezky lagi.


"Baiklah kalau begitu, ini nomorku." Aku memberikan nomor ponselku padanya.


"Modus terus." Ucap Bams.


Akhirnya malam itu kami bertiga beristirahat di apartemen, baru saja aku ingin memejamkan mataku tiba-tiba ponselku berbunyi tanda ada pesan masuk.


"Aku senang sekali bisa bertemu kamu lagi, kamu telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik." Begitulah isi pesan yang Rezky kirim untukku.


Keesokan paginya kami pergi menuju Rumah Sakit, setibanya di kamar tempat Papa di rawat ternyata Rezky telah berada di sana, dia duduk di dekat tempat Papa terbaring, ternyata benar dia menjaganya semalaman tadi.


"Kami menjaga Papaku Rez." Tanyaku.


"Iya, kebetulan aku tugas jadi Dokter jaga semalam, seharusnya jam kerjaku selesai pada pukul 03.00 Dinihari tadi tapi aku memutuskan untuk menjaga Papamu hingga kamu datang."


"Pasti kamu belum sarapan, kalau begitu sebagai ucapan terimakasihku gimana kalau aku mentraktirmu." Kataku.


Aku meminta Bams dan Reni menjaga Papa terlebih dahulu sedangkan aku pergi sarapan bersama Rezky.


"Rez, aku bener nggak tau lho kalau kamu pindah ke Perancis, padahal aku sering lho ke sini." Kataku.


"Yah mungkin karena aku sibuk bekerja jadi kita nggak pernah ketemu Ri." Jawabnya.


"Oh iya gimana kabar Mama dan Ayah angkatmu." Tanyaku.


"Mereka sudah tiada sewaktu aku duduk di bangku SMA Ri, mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Dokter, agar bisa menyelamatkan nyawa orang."


"Maaf Rez aku nggak tau."

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok." Jawab Rezky sambil tersenyum kepadaku.


__ADS_2