
Sebelum lanjut ke cerita author mau mengucapkan banyak terimakasih untuk semua teman yang masih setia mengikuti kisah cinta Adit dan Riri.
Kali ini Author akan menceritakan kisah Riri secara terpisah sepeninggal Adit ✌️
Happy Reading guys 😘
"Kalau begitu bencilah aku, bencilah aku sebagai pembohong yang tak bisa menepati janjinya...Semoga kamu bisa menemukan lelaki yang lebih baik dariku kelak."
Kulihat punggung laki-laki yang sangat kucintai itu pergi meninggalkanku di hari lamaran kami, bukan maksudku tak mau mencegahnya pergi, tapi baru saja aku coba untuk mengejarnya tiba-tiba saja Papaku terjatuh, Papa tak sadarkan diri, aku menangis dengan Papa yang ada dalam pangkuanku, aku memanggil nama pria itu dalam tangisku, tapi dia terus berlalu dan akhirnya menghilang di balik gerbang rumahku.
"Adit....." Aku memanggilnya tapi itu tak dapat menghentikan langkahnya.
Tampak dari gerbang Bams masuk dan tak mengetahui apa yang telah terjadi, Reni menceritakan semua dan akhirnya dia pergi mengejar kekasihku itu.
Tak lama ambulance datang untuk membawa Papa yang masih tak sadarkan diri, aku menemaninya, kugenggam tangan Papa yang terasa dingin, aku khawatir, khawatir bila akhirnya Papa menyusul Mama ke Surga.
Tangisku tersamarkan oleh suara sirine ambulance sepanjang perjalanan, aku bertanya pada diriku, mengapa aku bisa mengalami semua ini, apa salahku? Ingin rasanya aku membenci Papa atas semua kejahatannya di masa lalu, tapi kini Beliau tengah terbaring tak berdaya di hadapanku.
Aku sama sekali tak menyalahkan Adit dengan apa yang dilakukannya, pasti sekarang dia pun merasa sangat sakit dan terpukul setelah tau bahwa Papaku adalah orang yang telah membuat Ayahnya meninggal, sebelumnya dia pun pernah berkata tak akan memaafkan orang yang telah membuat Ayahnya menderita, bahkan sampai keturunannya.
Sesampainya kami di Rumah Sakit Papa ditangani oleh Dokter yang ada di sana, tak lama Papa mendapat perawatan dan di tempatkan di kamar yang ada di sana.
"Bagaimana keadaan Papa saya Dok?" Tanyaku pada Dokter itu.
"Ayah anda sekarang dalam keadaan koma, kami akan berusaha semampu kami, sebaiknya anda dan keluarga banyak berdoa saja." Kata Dokter itu.
Karena melihat Papa sudah mendapat perawatan aku kemudian meminta Pak Iwan dan Reni untuk menjaganya, sedangkan aku akan menyusul kekasihku ke rumah itu, berharap dia masih berada di sana.
Aku membawa mobilku dengan kecepatan tinggi saat itu, berharap masih sempat mencegahnya pergi.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah Adit aku melihat Bams berdiri di sana, dia menangis, aku pun menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Bams, Adit kemana?"
"Baru saja pergi bos." Jawabnya sambil terisak.
"Pergi kemana?"
"Bos Adit mau pulang kampung bersama Pay dan Tiwi." Ucap Bams.
Aku menelpon ponselnya, tapi tak juga dia menjawabnya, hingga tak lama Mbo Yem keluar dan memberikan Ponsel milik Adit yang memang tak ia bawa, Mbok berkata Adit mengembalikan ponsel itu karena itu adalah ponsel pemberian dariku dahulu.
Tanpa banyak bicara aku mengajak Bams menuju terminal untuk mencegah kepergian Adit, sesampainya di sana kami memeriksa semua bus jurusan Bandung siang hari itu, tapi aku tak dapat menemukan mereka, hingga akhirnya kami menyerah dan kembali kedalam mobil.
Aku menangis di dalam mobil, menangisi kepergiannya, apakah harus dengan cara ini aku kehilangan pria yang sangat kucintai.
"Mungkin saat ini kamu telah mengambil setengah hatimu yang pernah kau titipkan padaku, tapi aku tak akan pernah memberikannya kembali, karena aku akan terus menjaganya dan suatu saat akan aku kembalikan di hari pernikahan kita." Ucapku.
Malam itu aku bermimpi, aku berada di sebuah ruangan berwarna putih hingga tak lama Adit datang padaku dengan setelan jas rapi, dia terlihat sangat tampan saat itu.
Kami berdua menyusuri lorong putih panjang, Adit terus menggenggam tanganku dengan erat, tampak semua sahabat kami ada di sana.
Kami saling bertatapan, Adit tersenyum padaku lalu memakaikan cincin di jari manisku, aku mendekatkan wajahku padanya, hingga akhirnya wajah kami semakin dekat, bibir kami hampir bersentuhan dalam mimpi itu dan tak lama aku terbangun karena Dokter datang hendak memeriksa keadaan Papa.
"Dit aku Rindu...kamu baik-baik ya di sana, jaga selalu hatiku, Riri selalu percaya sama Adit, aku kirimkan mimpiku untukmu, semoga kamu pun memimpikanku." Kataku dalam hati.
Aku lalu menghampiri Dokter yang telah selesai memeriksa Papa.
"Gimana Dok perkembangan Papa saya?" Tanyaku.
"Maaf Mbak, saat ini belum ada perkembangan." Jawab Dokter itu.
__ADS_1
Tak lama Reni datang bersama Bams, Reni memelukku, dan aku pun menangis dalam pelukan sepupuku itu.
"Sabar ya Ri, aku tau cobaan ini sangat berat buatmu tapi aku juga tau kamu pasti bisa melewati ini semua." Katanya sambil mengusap-usap punggungku.
"Makasih Ren, terimakasih kamu dan Bams selalu ada untuk menguatkanku, aku tak tau bagaimana jadinya aku bila tak ada kalian."
Tiga hari telah berlalu semenjak pertama kali Papa masuk ke Rumah Sakit ini tapi belum juga ada perkembangan, Dokter yang menanganinya pun selalu meminta maaf karena telah berusaha secara maksimal merawatnya.
Hari itu aku berkonsultasi dengan Dokter yang menangani Papa, aku bertanya apakah perawatan di Luar Negeri lebih baik, Dokter pun berkata jika aku hendak merawatnya di Luar Negeri itu bisa jadi lebih baik, karena di sana alat kedokteran lebih canggih dan lebih lengkap di bandingkan di sini.
Karena perkataan Dokter itu aku merencanakan untuk membawa Papa ke Perancis bila satu Minggu lagi tak ada perkembangan dalam perawatannya.
Kemudian aku memanggil Reni dan Bams yang selalu menemaniku setiap hari di Rumah Sakit.
"Bams, Ren, aku berencana seminggu lagi akan membawa Papa ke Perancis bila tak ada perkembangan, kalian bisa menemaniku?" Tanyaku pada mereka.
"Kalau aku sih bisa Ri, entah kalau Bams." Kata Reni.
"Wah sepertinya aku harus mengabari Ibu Panti dulu bos, dan lalu bagaimana dengan pekerjaanku." Ucap Bams.
"Baiklah kalau begitu jika nanti Bams sudah mendapat ijin dari Ibu Panti kamu bantu dia untuk mengurus paspor dan visanya ya Ren, jika masalah kantor itu akan menjadi tanggung jawabku." Kataku pada mereka.
"Ok Ri, siap." Jawab Reni.
Lalu Bams dan Reni pun pergi saat itu juga untuk meminta ijin kepada Ibu Panti.
Tak lama terdengar suara ponselku berbunyi, setelah kulihat aku terkejut ternyata yang menelpon adalah Rai.
*Foto di atas hanyalah ilustrasi yang author pakai untuk menggambarkan bagaimana penampilan Riri, mohon maaf jika kurang berkenan ✌️
__ADS_1