Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Hari Pernikahan


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Ibu aku terdiam di teras rumah, hingga akhirnya Rai menghampiriku.


"Kamu yakin dengan yang kamu lakukan A?" Tanya Rai.


".....Ya, aku hanya tak tega jika Jessica menanggung akibat dari dosa yang tak dilakukannya." Jawabku.


"Tapi kan kamu tidak mencintainya A, aku tahu cintamu itu hanya untuk Kak Riri." Kata Rai lagi.


"Bukankah cinta bisa datang belakangan." Kataku sambil tersenyum kepada Rai.


Rai terdiam mendengar jawabanku, aku tahu dia merasa kasihan kepadaku, aku pun berpikir mungkin inilah takdirku, akhir dari perjalanan cintaku, seketika itu muncul bayangan wajah Riri dalam benakku.


"Maaf Ri..." Kataku dalam hati.


"Ya sudah A, kalau memang keputusanmu itu sudah bulat aku sebagai Adikmu hanya bisa mendukungmu, semoga semua keputusan yang kamu ambil itu tepat A." Kata Rai yang kemudian memelukku.


Keesokan harinya Ibu pergi ke rumah Jessica untuk menentukan tanggal pernikahan kami.


"Bangga gw sama lu." Kata Pay yang duduk di teras pagi itu bersamaku.


"Yah gimana lagi Pay, mesti ada yang berkorban kan demi anak yang dikandung Jessica." Kataku.


Pay menepuk pundakku lalu meninggalkanku sendiri di teras itu, siang harinya Ibu telah pulang dari rumah Jessica dan membawa kabar bahwa hari pernikahan sudah di tentukan, besok adalah hari yang ditentukan itu, karena itu permintaan dari Mamah Jessica karena menurutnya lebih cepat akan lebih baik sebelum usia kandungannya semakin bertambah.


Aku mengerti dengan kekhawatiran Mamah Jessica dan menerima apa yang telah diputuskan, tak ada kebahagiaan di rumah untuk menyambut hari pernikahanku, justru semua tampak sedih karena tau pengorbanan yang aku lakukan sangatlah besar.


Malam harinya aku bermimpi, Riri datang dalam mimpiku, wajahnya terlihat sedih, dia menangis dalam pelukanku dan berkata apapun yang terjadi dia akan selalu mencintaiku, lalu dia pergi perlahan dan menghilang.


Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Jessica, pernikahan adalah hari dimana seharusnya semua orang berbahagia, tapi pagi itu tak ada sama sekali raut wajah bahagia dari keluargaku.


"Kok pada cemberut aja, ayo dong bahagia, ini kan hari pernikahanku." Kataku mencoba menghibur mereka semua.


Mereka semua pun tersenyum, walau kutahu senyuman paksa yang menghiasi wajah mereka semua, aku pergi hanya dengan ditemani Ibu, Rai, Pay dan Tiwi karena memang hari ini aku hanya menikah secara agama saja dan tak mengundang saudara yang lain.

__ADS_1


"Lho Rai mana Bu?" Tanyaku karena belum melihat Rai.


"Di dalam, sepertinya tadi sedang telpon." Jawab Ibu.


Tak lama Rai datang dan masuk ke mobil milik keluarga Iman yang kami pinjam, orangtua Iman tak ikut mengantarku karena harus menjaga Iman yang masih terbaring di Rumah Sakit.


Selama perjalanan ke rumah Jessica aku selalu melihat ke luar kaca jendela mobil tanpa mengatakan sepatah katapun.


Setelah sampai di sana tampak Mamah Jessica dan seorang pria paruh baya menyambut kedatangan kami, sepertinya itu adalah Ayah kandung Jessica, mereka ditemani oleh seorang penghulu yang akan menikahkan kami berdua, sementara Jessica tak kulihat berada di sana.


Kami semua duduk di teras rumah yang beralaskan karpet, kami menunggu tapi Jessica tak kunjung keluar dari kamarnya.


Hingga akhirnya Mamah Jessica menyusulnya dan mengajaknya keluar rumah, Jessica tiba, tampak matanya sembab, mungkin semalaman tadi dia menangis.


Penghulu mempersilahkan kami berdua untuk duduk di hadapannya, aku maju dan menuruti permintaan penghulu itu, tak lama Jessica pun maju dengan perlahan hingga tiba-tiba.


"Aku nggak bisa." Kata Jessica membuat kami semua terkejut.


"Jangan bohongi hatimu sendiri A, aku tahu kamu sama sekali tak pernah mencintaiku." Katanya lagi.


"Tapi Jess." Kataku lagi.


"Aku nggak mau menikah karena rasa kasihanmu A, aku memang mencintaimu, tapi aku nggak mau jika nanti kita menikah dan kamu masih memikirkan wanita lain."


Aku terdiam mendengar perkataannya.


"Aku tahu A, selama ini kamu masih mencintai wanita yang bernama Riri itu, kamu sangat mencintainya kan?" Ucap Jessica.


Mendengar itu Ayah Jessica bangkit dari tempat duduknya dan emosi dengan perkataan yang keluar dari mulut Jessica.


"Dasar anak nggak tau di untung, sudah bagus ada orang yang mau bertanggung jawab untuk anak haram itu, sekarang malah berlaga menolaknya." Kata Ayah Jessica sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.


"Kamu pikir kamu tidak salah Mas, kamu meninggalkan putrimu saat dia masih membutuhkan figur seorang Ayah, apalagi kamu pergi demi wanita lain." Jawab Mamah Jessica.

__ADS_1


"Diam kamu, ini semua salahmu, jika kau tidak berpacaran dengan lelaki bereng*** itu ini semua tidak akan terjadi." Balas Ayahnya Jessica.


Pertengkaran hebat terjadi di hari yang seharusnya penuh suka cita itu hingga akhirnya terhenti karena ada seseorang yang berlari ke arah kami.


"Aku yang akan menikahinya." Kata orang yang baru saja tiba itu.


"Iman." Kata kami semua yang terkejut melihat Iman datang masih dengan perban di kepala dan mengenakan pakaian Rumah Sakit.


"Man, kamu kok bisa ada di sini." Kataku ketika melihatnya.


"Nanti saja ceritanya A, Jess aku sungguh tulus mencintaimu, kamu mau menikah denganku?" Tanya Iman.


Jessica terdiam sambil memandang wajah Iman.


"Mau, terimakasih karena selama ini kamu selalu tulus mencintaiku, terimakasih juga untuk semua pengorbananmu, mulai saat ini aku pun akan belajar untuk mencintaimu." Jawab Jessica.


Tak lama Ayah dan Ibu Iman datang karena mereka memang mengikutinya dari Rumah Sakit, akhirnya pernikahan hari itu pun terjadi walau mempelai pria telah berganti.


"Sah." Tanya Pak Penghulu.


"Sah." Jawab kami semua yang ada di sana.


Tak lama Iman pingsan karena sedari tadi menahan rasa sakit di kepalanya, akhirnya hari itu pengantin baru menghabiskan malam pertamanya di Rumah Sakit, dengan ditemani orang tua mereka masing-masing, terlihat orangtua Jessica pun saling meminta maaf atas pertengkaran tadi, wajah Jessica terlihat amat bahagia sambil terus menemani suaminya yang terbaring di ranjang Rumah Sakit itu, ya seperti itulah seharusnya hari pernikahan, penuh kebahagiaan, akhirnya kisah cinta Iman dan Jessica pun berakhir di pelaminan.


Aku sangat bahagia untuk mereka, malamnya kami sekeluarga pamit untuk pulang, sesampainya di rumah aku berbincang dengan Rai dan Pay di teras rumah.


"Wah beruntung lu Dit, Iman bisa datang tepat waktu." Ucap Pay.


"Iya Pay, gw juga kaget Iman bisa tiba-tiba datang dan ternyata dia kabur dari Rumah Sakit, pengorbanan cintanya buat Jessica sungguh besar, tapi ngomong-ngomong darimana dia tahu ya kalau hari ini gw sama Jessica mau nikah." Jawabku.


Kami pun mengalihkan pandangan kami pada wajah Rai, tampak dia tersenyum melihat kami berdua.


"Hahahaha iya A, aku yang telpon, tugasku selesai menyatukan cinta dua insan, tapi ada satu lagi pasangan yang aku satukan, lihat saja nanti." Ucap Rai yang kemudian meninggalkan kami masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2