
Om Suryo membuka koper yang dari tadi dia bawa di tangannya, terlihat dia mengambil beberapa tumpuk uang kertas lalu melemparkannya ke wajah Pak Slamet.
"Ini 350.000.000 Rupiah, berikan surat tanah itu dan kalian segera enyah dari hadapanku." Kata Om Suryo.
Pak Slamet tak berani berkata, dia memberikan surat tanah itu sambil tertunduk. Setelah membereskan uang yang berserakan karena di lempar oleh Papa Riri lalu Pak Slamet dan Pengacara itu pun pergi meninggalkan Panti.
Aku terdiam takjub melihat bagaimana cara Om Suryo menyelesaikan masalah tersebut, lalu kami semua menghampiri beliau.
"Om kok ada di sini?" Tanyaku.
"Iya Pah, kok bisa tau kami ada di sini? Aku kan belum ngabarin Papa." Ujar Riri.
"Itu karena mereka Nak." Kata Beliau sambil menunjuk ke arah 4 orang tersebut.
Seketika wajah menyeramkan yang Om Suryo tunjukkan tadi pun menghilang dan kembali menjadi seorang yang ramah dan penuh senyum.
"Lho memangnya mereka siapa Om?" Tanyaku lagi.
"Mereka adalah orang-orang yang sengaja Om tugaskan untuk mengawal Riri dan selalu mengikutinya dari kejauhan, karena Om khawatir sama anak kesayangan Om itu sejak kejadian yang kalian alami dengan Roy." Jawab Om Suryo.
Tanpa kami sadari ternyata selama ini orang-orang tersebut selalu mengikuti dan mengawasi kami dari jauh, sungguh orang-orang yang sangat berbahaya jika mereka tidak ada di pihak kami.
"Jadi pah selama ini mereka selalu mengikuti kemana aku pergi?" Tanya Riri yang nampak terkejut.
Om Suryo menjawab pertanyaan Riri hanya dengan senyuman.
"Lalu di Perancis?" Lanjut Riri.
"Mereka tidak ikut kok ke Perancis."
"Oh syukurlah." Kata Riri terlihat lega.
"Tapi Papa mengganti mereka dengan dua orang asing yang waktu itu mencari Adit sewaktu dia tersesat." Kata Om Suryo.
"Ja..Jadi Papa tau dong aku dan Adit...." Riri tak melanjutkan perkataannya dan tampak wajahnya menjadi merah.
Om Suryo tersenyum kembali menjawab pertanyaan Puterinya itu, aku tahu apa yang membuat Riri malu seperti itu, karena ciuman pertama kami terjadi saat kami di jalanan sepi Kota Paris dan ternyata selama ini ada orang-orang yang selalu mengikuti kami.
"Pokoknya mulai hari ini Riri nggak mau pakai pengawal-pengawal segala, Riri mau privacy. Pokoknya kalau Papa masih kirim mereka aku marah sama Papa." Ucap Riri jengkel karena malu.
__ADS_1
Tak lama Ibu Panti pun menghampiri kami, tapi sebelum itu Om Suryo memerintahkan anak buahnya untuk membawa Bams dan Pay ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan atas luka-luka mereka.
"Kamu Ibu Panti Asuhan ini?" Tanya Om Suryo kepada Ibu Panti.
"Iya Pak, terimakasih karena Bapak kejadian menyeramkan tadi sudah berakhir." Jawab Ibu.
"Tidak usah di pikirkan Bu, orang-orang seperti mereka itu memang harus di beri pelajaran." Ucap Om Suryo.
"Baiklah kalau begitu Pak, saya mohon ijin untuk ikut menemani Bambang ke Rumah Sakit." Kata Ibu Panti.
"Silahkan Bu, tapi sebelum itu saya titipkan Surat Tanah ini kepada Ibu."
"Lho Pak, sekarang tanah ini milik Bapak, kenapa Suratnya di berikan kepada saya?"
"Memang sekarang saya adalah pemilik sah atas tanah ini, tapi saya memang membeli tanah ini untuk saya bangun menjadi Panti Asuhan, saya percayakan Panti Asuhan ini kepada Ibu untuk mengelolanya, dan Ibu jangan khawatir, saya akan memenuhi segala yang di perlukan oleh Panti Asuhan ini." Ucap Om Suryo.
Mendengar perkataan Om Suryo itu Ibu Panti tampak meneteskan air matanya, lalu setelahnya mengucapkan terima kasih dan pergi untuk menemani Bams dan Pay ke Rumah Sakit, sementara aku mengajak anak-anak Panti malam ini untuk beristirahat di rumahku. Aku semakin menghormati Papa Riri itu, dan sekarang aku mengetahui darimana Riri mendapatkan sifat baiknya.
Sesampainya kami di rumah, aku dan Om Suryo mengobrol di depan teras karena memang Om Suryo ikut kami pulang sambil menunggu para pengawalnya yang mengantar Udin dan Bams ke Rumah Sakit.
"Om, terimakasih ya untuk semua yang Om lakukan..Om memang orang baik."
"Dengan semua kebaikan Om yang perduli terhadap sesama aku yakin semua dosa yang Om lakukan di masa lalu akan termaafkan, apapun dosa yang Om maksud itu." Kataku yakin.
Om Suryo terdiam sejenak sambil menatap wajahku, tak lama datanglah Rai yang membawakan minuman untuk kami.
"Silahkan Pak." Ucap Rai sambil memberikan minuman.
"Oh iya om perkenalkan, ini adikku Rai." Ucapku mengenalkan mereka.
"Wah ini Adiknya Adit toh, cantik mirip seperti..." Ucap Om Suryo.
"Seperti apa Pak?" Tanya Rai.
"Ummm...Seperti bidadari ya seperti bidadari." Lanjut Om Suryo.
"Bapak bisa aja bikin aku malu." Ucap Rai.
"Oh iya mulai hari ini Adit jangan panggil Om, Rai juga jangan panggil Bapak, panggil saja saya Papa sama seperti Riri." Ucap Om Suryo.
__ADS_1
"Wah nggak enak Adit Om, selain Papa Riri kan Om juga bos aku di kantor, masa panggil Papa." Kataku.
"Lho nggak apa-apa Nak, kan katanya sehabis Riri selesai kuliah kamu mau melamar dia, cepat atau lambat kamu akan panggil Papa juga kan." Kata Om Suryo lagi.
"Iya, lagipula kan aku panggil Ibumu dengan sebutan Ibu, masa kamu panggil Papaku Om terus sih Dit." Kata Riri yang baru saja keluar menuju teras.
"Baiklah kalau begitu, Pah." Ucapku dan Rai.
Akhirnya sebutan yang telah lama tak kami ucapkan keluar dari mulut kami berdua pada malam hari itu..Papah.
Tak lama Papa pamit karena para pengawalnya sudah kembali dari Rumah Sakit dan memberi tahu di mana Pay dan juga Bams di rawat.
"Kamu nggak ikut pulang." Ucapku pada Riri.
"Kenapa, ngusir?" Sahut Riri.
"Mana bisa aku ngusir kamu, ini kan rumah Papa kamu."
"Kan sekarang Papa kamu juga, eh Dit besok sepulang kamu kerja kita jemput Bang Pay dan Bams yuk." Ajak Riri.
"Ide bagus Ri, ajak Rai dan Tiwi juga ya." Tambahku.
"Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu ya."
Keesokan paginya Ibu Panti datang untuk menjemput anak-anak setelah semalaman menemani Pay dan Bams, setelah itu aku pun berangkat menuju kantor seorang diri.
Setelah bekerja aku kembali ke rumah dan sudah ada Riri menungguku untuk menjenguk Bams dan Pay di Rumah Sakit.
"Yuk kita berangkat." Ajak Riri.
"Ayo, siapa takut." Jawabku.
"Rai, Tiwi ayo kita berangkat." Ucap Riri memanggil mereka.
Kami pun berangkat menuju Rumah Sakit menggunakan mobil Riri bersama Pak Iwan, sesampainya di sana kami menanyakan kamar tempat Bams dan Pay dirawat karena semalam kami lupa untu menanyakannya pada para pengawal Papa.
"Suster saya mau tanya pasien bernama Paijo yang datang tadi malam di rawat di kamar berapa ya?" Tanyaku pada Suster yang berjaga.
"Sebentar ya Pak saya cari dulu." Kata Suster itu.
__ADS_1
"Maaf pak pasien bernama Paijo baru saja siang tadi meninggal dunia, dan jenazahnya sekarang ada di kamar mayat."