Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Desember


__ADS_3

Happy reading temen-temen 😘


Buat yang suka cerita horor dan supranatural bisa baca juga karyaku yang berjudul "Aleana."


Terimakasih 🙏


--------------------------------------------


Beberapa bulan telah berlalu sejak kepergian Pak Slamet, Hari ini adalah hari terakhir masuk kantor karena esok sudah memasuki libur panjang Natal dan Tahun baru.


Esok hari kami akan berlibur ke Jogja yang memang sudah kami rencanakan sejak 1 bulan lalu.


Hari ini aku berencana akan menjemput Ibu dan Rai ke terminal karena mereka akan ikut pergi berlibur bersama kami. Sore itu sepulang kantor aku bersama kedua temanku sudah menunggu di terminal untuk menjemput mereka.


"Masih lama bos? aku udah nggak sabar ketemu Neng Rai dan calon Mertua." Ucap Bams.


"Dit ngapain sih si klimis di ajak ke Jogja juga, kalau gw kan ketauan di ajak karena nyetir, kalo dia kan nggak ada gunanya." Ucap Pay sinis.


"Talk to my hand jamur, asal lu tau ya gw ini pengawal pribadi plus calon Adik Ipar dari bos Adit." Jawab Bams.


"Udah-udah damai sedikit napa sih, bentar lagi Ibu sama Rai dateng nih." Jawabku.


Tak lama bus yang di tumpangi Ibu dan Rai pun tiba, melihat itu Pay dan Bams berebut menyambut mereka untuk mengambil hati Ibuku. Mereka menunggu di pintu depan bus sedangkan Ibu dan Rai keluar dari pintu belakang.


"Hahahaha dasar duo aneh." Ucapku.


"Eh anak Ibu, wah ganteng deh anak Ibu pakai kemeja dan dasi seperti ini." Ucap Ibu ketika melihatku.


"Ah Ibu bisa aja, anak Ibu kan dari dulu memang ganteng." Jawabku.


"Bang Pay mana a? tadi katanya ikut jemput juga." Ucap Rai.


"Cieee langsung nanyain Pay, Bams nggak di tanyain nih? tuh lihat mereka masih nunggu kalian di pintu depan bus." Jawabku.


"Oh ada Bang Bams juga rupanya, Bang Pay, Bang Bams." Rai memanggil mereka berdua.


Mendengar panggilan Rai kedua orang itu berlari cepat menghampiri kami.


"Eh Neng Rai, tambah cakep aja berapa bulan nggak ketemu." Ucap Bams.


"Ah Bang Bams bisa aja." Ucap Rai.


"Ini Ibu ya? Perkenalkan Bu saya Bams calonnya Rai." Ucap Bams sambil mencium tangan Ibuku.


"Oh ini Bams, kalo ini Pay ya? kata Rai Pay itu yang rambutnya mirip jamur kan." Ucap Ibu.

__ADS_1


"Iya Ibu saya Pay." Kata Pay yang kemudian mencium tangan Ibu.


"Lucu ya, Rai sering cerita tentang kamu lho." Kata Ibu lagi.


"Ih Ibu apaan sih, baru dateng juga langsung ngomong yang nggak-nggak." Kata Rai tampak malu.


"Kalo Rai suka ngomongin aku apa Bu?" Tanya Bams.


"Kalau Bams apa ya, Ibu lupa." Ucap Ibu.


Tampak wajah Bams agak kecewa mendengar perkataan Ibuku, tapi ada hal aneh yang terlihat di sana, tak seperti biasanya Pay terlihat pendiam setelah bertemu Ibu dan Rai.


Sesampainya di rumah sudah ada Riri dan Reni yang menyambut kami.


"Ibuuu." Riri berlari dan memeluk Ibu ketika melihatnya.


"Ih Calon Mantu Ibu yang cantik, udah lama ya nggak ketemu, Ibu kangen lho."


"Aku juga kangen Bu." Ucap Riri.


"Sama aku nggak kangen nih Kak?" Ucap Rai.


"Ya kangen dong De, masa sama Adik sendiri nggak kangen." Kata Riri kemudian memeluk Rai.


"Iya Tante, aku Reni Sepupunya Riri." Ucap Reni memperkenalkan diri.


"Jangan panggil Tante dong Nak, panggil Ibu saja seperti yang lain." Kata Ibu lagi.


"Baik Bu."


Aku mengantar Ibu dan Rai ke kamar atas untuk beristirahat melepas lelah setelah perjalanan dari Bandung.


"Besok jam 07.00 sudah kumpul di sini ya." Ucap Riri.


"Ok kalau begitu malam ini saya menginap di sini supaya nggak kesiangan bos." Ucap Bams.


"Ngapain sih nginep di sini, bikin hawa panas aja." Kata Pay.


"Ok kalau panas gimana kalo lu tidur di kulkas, biar gw yang nemenin Tiwi." Balas Bams.


"Enak aja, lu tidur aja sana sama si Mbok hahahaha." Kata Pay lagi.


Keesokan harinya kami berkumpul pada jam yang telah di tentukan, kami membagi dalam dua kelompok karena memang kami pergi dengan membawa dua mobil.


Mobil pertama Aku, Riri, Rai, Tiwi dan Pay sebagai sopirnya, sedang mobil kedua Ibu, Reni, Bams, Bi Eha beserta Pak Iwan.

__ADS_1


Kami menuju Jogjakarta pagi itu, karena libur panjang menyebabkan jalan menjadi sangat macet hingga kami memutuskan untuk beristirahat di Rest Area pada siang harinya.


"Hadoooh macet banget." Ucap Bams ketika keluar dari mobil.


"Kalo nggak mau kena macet lagi lu tinggal di sini aja, lagian tinggal duduk manis aja ngeluh." Kata Pay.


"Berisik jamur." Balas Bams.


"Kalian ini ya ributnya antar Kota antar Provinsi, nggak malu sama Ibu." Ucapku.


"Wah bener juga kata bos, mur gimana kalo selama di Jogja kita gencatan senjata dulu, deal?" Kata Bams seraya mengangkat jari kelingkingnya.


"Ok, deal or no deal." Ucap Bams menyambut baik tawaran Bams.


"Nah gitu dong, kan enak di lihatnya." Kataku lagi.


Tak lama aku mengeluarkan gitar dari bagasi mobil yang memang sengaja aku bawa.


"Ri yuk kita cari uang." Kataku.


Seakan sudah mengerti Riri tersenyum dan mengikutiku, mereka semua merasa aneh melihatku dan Riri mengelilingi tempat makan itu sambil mengamen, kecuali Ibu dan Rai yang tersenyum melihat kami berdua.


"Wah dapet banyak Ri, hasilnya kita sumbangkan pada yang membutuhkan di Jogja nanti ya." Ucapku di sambut baik oleh Riri.


"Kalian ini memang pasangan lain daripada yang lain, dulu waktu kita ketemu juga lu berdua lagi di kejar razia kan Dit." Ucap Pay mengenang masa lalu.


"Iya, waktu itu gw lari karena takut Papa Riri marah kalau tau anak kesayangannya gw ajak ngamen." Jawabku.


"Oh iya ngomong-ngomong soal Papa Riri Ibu belum sempat ngucapin rasa terimakasih Ibu secara langsung pada Beliau." Sambung Ibu.


"Sebenarnya waktu Ibu mau kesini maksud Riri mau mempertemukan Ibu dengan Papa, tapi setelah Riri bilang Ibu sudah datang tiba-tiba saja Papa ada bisnis mendadak." Ucap Riri.


"Kelihatannya Papamu orang yang sangat sibuk ya Nak, nggak apa-apa kok, beberapa bulan lagi juga kan kamu lulus kuliah, saat itu kami pasti bertemu." Ucap Ibu lagi.



Sesampainya di Jogjakarta kami menginap di hotel yang tak jauh dari Malioboro. Malam itu kami memutuskan untuk beristirahat karena lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan pula macet.


"Ah nyaman banget kasur hotel malam ini." Kataku kepada Pay yang satu kamar denganku.


"Iya Dit, musim libur panjang gini jarak tempuh Jakarta-Jogja jadi dua kali lipat ya." Balas Pay.


"Gw aja yang cuma duduk cape, gimana lu yang nyopir Pay."


"Eh Dit, kalo seandainya gw sama Rai gimana? lu setuju?" Kata Pay dengan wajah serius dan kata-katanya membuatku terkejut.

__ADS_1


__ADS_2