Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Akhir cerita cinta


__ADS_3

Aku terdiam setelah mendengar cerita Paman, tanganku mengepal, aku marah pada keadaan yang tengah terjadi, bagaimana mungkin orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti ayahku justru orang yang menyebabkannya meninggal.


"Maafkan aku Ri, walau kita tak mungkin untuk bersama tapi aku akan selalu menyimpan kenanganmu di hatiku..Selamanya, hari ini aku ambil kembali setengah hati yang pernah kutitipkan padamu, aku pulang sayang, jaga dirimu baik-baik." Kataku dalam hati sebagai tanda perpisahan dengan Riri.


Aku beranjak menemui Ibu yang terlihat masih shock di dalam rumah.


"Bu, Ibu pulang duluan bersama Paman dan Bibi ya, nanti malam Adit pulang sendiri naik bus." Kataku.


Ibuku hanya mengangguk sambil menangis.


"Paman, Bibi, aku titip Ibu ya selama aku belum sampai sana." Kataku lagi.


"Iya Dit, percayakan Ibu dan Rai sama kami, kami pasti menjaganya dengan baik." Jawab Paman dan Bibi.


Siang hari itu mereka terlebih dahulu pulang ke Bandung, sedangkan aku menggunakan bus karena aku harus ke beberapa tempat dahulu untuk pamit.


"Mbok Yem, Adit Pamit ya, terimakasih karena selama ini Mbok sudah merawat aku." Kataku.


"Hati-hati di jalan Nak, tabahkan hati dan tersenyumlah selalu." Kata si Mbok yang kemudian memelukku sebagai tanda perpisahan.


Aku bersiap pulang, aku hanya membawa pakaian dan gitar milikku, sedangkan ponsel aku titipkan pada Mbok agar di kembalikan kepada Riri, karena itu adalah ponsel pemberiannya dahulu.


Aku melangkah menuju pagar dan terhenti ketika Pay memanggilku.


"Adit, tunggu!!!" Kata Pay.


"Kenapa Pay?"


"Kami ikut."


"Jangan Pay, di sini lu terjamin karena ada pekerjaan untuk biaya berobat Tiwi, jika ikut sama gw lu bakal kehilangan pekerjaan itu." Jawabku.


"Lu sahabat gw Dit, lu penyelamat gw, jika bukan karena lu mungkin hari ini gw masih jadi pencuri, mungkin juga gw lagi ada di dalam penjara dan terpisah sama Tiwi tanpa tahu nasibnya tanpa gw."


"Tapi Pay."


"Udah...Rejeki itu Tuhan yang ngatur." Pay tersenyum padaku.

__ADS_1


"Baiklah ayo kalau begitu." Akhirnya mulai hari ini Pay dan Tiwi resmi ikut bersamaku ke Bandung.


Setelah keluar gerbang terlihat Bams sudah berdiri di sana sambil menangis.


"Bos!!!" Katanya dengan air mata berurai.


"Sudah Bams jangan nangis, suatu saat kita pasti bertemu lagi."


"Bos bolehkah aku ikut bersama kalian."


"Jangan Bams, tetaplah di sini, kamu harus menjaga Ibu dan Adik-adikmu, lagipula kamu sekarang ada Reni, aku titip Riri pada kalian ya, pastikan dia mendapatkan seseorang yang baik." Kataku sambil tersenyum.


Bams tertunduk, tangisannya semakin pecah hingga akhirnya aku memberikan pelukan perpisahan padanya.


"Dasar klimis cengeng." Kata Pay.


Bams tak membalas perkataan Pay tapi dia memeluk sahabat sekaligus Rivalnya itu.


"Jangan kangen sama gw ya." Kata Pay lagi.


"Nggak akan." Sahut Bams


"Jaga diri kalian baik-baik, suatu saat aku akan datang ke sana." Teriak Bams.


"Kami tunggu Bams, salamku untuk Ibu Panti dan anak-anak." Kataku.


Tempat selanjutnya yang kami datangi untuk berpamitan adalah kediaman Bi Eha dan Pak Iwan.


"Bi, kami pamit ya."


"Iya Nak, Bibi mengerti perasaanmu, hati-hati di jalan ya." Ucap Bibi yang tak mencoba untuk mencegahku pulang karena pasti Bibi sangat mengerti sakit yang kurasakan.


"Pak Iwan kemana Bi?"


"Bapak sedang di Rumah Sakit Nak, setelah kepergianmu Pak Suryo terjatuh dan tak sadarkan diri."


Entah aku harus prihatin atau malah harus senang mendengar orang jahat itu tak sadarkan diri, saat ini aku seperti kehilangan jati diri, aku masih sangat mencintai Riri, tapi bagaimana jika ternyata Orangtua dari Wanita yang kamu cintai adalah pembunuh Ayahmu sendiri.

__ADS_1


Kami melanjutkan langkah kami ke tempat tujuan terakhir, ya ini adalah tempat tujuan akhir dari semua manusia, kami tiba di area pemakaman, tempat sahabatku beristirahat untuk selamanya.


"Bor, gw pamit ya, maaf jika nanti gw akan jarang kesini, hari ini gw pulang ke Bandung, entah akan balik lagi atau nggak, walau nanti kita jauh gw akan tetap mendoakan lu..Bor, gw kangen." Ucapku di depan pusara Sahabatku itu.


Sore itu kami pulang ke Bandung dengan menggunakan bus, sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, mengarahkan pandanganku ke luar kaca jendela, sesekali kutarik nafasku dalam, hati ini masih terasa sakit, saat ini cintaku telah hilang, cinta yang selalu kujaga dan kuperjuangkan sekuat hati.


Mungkin kami memang tidak berjodoh, tapi percayalah, cinta ini akan kusimpan selamanya di dalam hatiku, dengan siapapun nanti aku akhiri kisah cintaku Riri akan tetap ada di dalam kenanganku.


Teruntuk kamu yang selalu mengajarkanku arti dari tulusnya cinta, aku mengucapkan banyak terimakasih, kamu cinta pertama walau ternyata bukan cinta terakhirku, jaga dirimu, semoga kamu bahagia walau tak bersamaku.


Akhirnya malam hari itu kami tiba di rumah, suasana rumah kali ini sangat tidak menyenangkan, tak ada suara tawa dan bahagia di kepulanganku kali ini, semua orang terdiam, hanya ada kesunyian di sana yang sesekali terdengar suara serangga malam dari luar rumah.


"Dit." Ucap Pay yang menghampiriku di teras rumah.


"Ya Pay, kenapa?" Jawabku.


"Gw tau ini berat buat lu, gw juga tau pasti rasanya sangat sakit, tapi lu harus kuat ya." Kata Pay.


"Iya Pay makasih."


kami kembali terdiam setelah obrolan singkat itu, pada pagi harinya sebelum semua orang terbangun aku berencana untuk menuju ke suatu tempat, tempat kenanganku bersamanya di Kota ini.


Ya, pagi itu aku pergi ke Puncak Bintang, tempat aku dan Riri pernah memohon pada bintang yang jatuh agar kami bisa bersama untuk selamanya.


Kupandangi suasana Kota Bandung pagi ini dari atas bukit, kuhirup dalam udara pagi yang segar, berharap bisa sedikit menghilangkan sesak di dada. Hingga akhirnya aku teringat kata-kata Sinta dahulu, yang mengajarkanku untuk berteriak dari tempat tinggi agar hatiku bisa tenang.


"Rirrrrrriiiiiiiii." Kataku dengan sekuat tenaga.


Setelah beberapa lama di sana aku pun melanjutkan perjalananku, perjalanan yang tak tentu arah, kali ini aku hanya mengikuti langkah kaki yang menuntunku kemana ia membawaku pergi hingga pada malam harinya aku kembali pulang ke rumah.


"Woy Dit, darimana lu? Tadi kami semua nyari kamu." Ucap Pay.


Aku tak menjawab pertanyaannya dan berlalu untuk masuk ke dalam kamarku. Pagi harinya setelah membuka mata, kulihat Pay tengah berdiri di hadapanku sambil memegang gitar.


"Ngamen yuk." Ajaknya.


"Tumben lu ngajak ngamen." Jawabku.

__ADS_1


"Gimana kalau mulai hari ini kita berdua ngamen sebagai mata pencaharian, sekalian buat ngelupain masalah lu Dit, mau nggak?" Ucap Pay.


Akhirnya aku putuskan mulai hari ini aku akan mulai mengamen untuk mendapatkan penghasilan, tapi kali ini aku tidak sendiri, karena ada Pay bersamaku.


__ADS_2