Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Manusia bodoh


__ADS_3

Pagi itu aku berangkat mengamen bersama Pay ke pusat Kota Bandung, sesampainya di sana kami berdua mulai berkeliling dari satu toko ke toko lainnya.


"Dit, kali ini lu fokus main gitar aja, biar Babang Pay yang nyanyi." Ucap Pay.


"Emang lu bisa nyanyi? Gw selama ini nggak pernah liat lu nyanyi." Jawabku.


"Ya elah, seberapa susahnya sih nyanyi Dit, tinggal cuap-cuap doang, asal lu tau ya, banyak yang bilang suara gw mirip Once Dewa lho." Kata Pay menyombongkan diri.


"Iya, iya gw percaya, kalau begitu kita mulai dari toko baju yang di ujung sana ya." Kataku lagi.


Kami pun menuju deretan toko paling ujung di tempat itu.


"Permisi Bapak, Ibu, kami berdua bukan bermaksud untuk menganggu anda semua, tapi kedatangan kami untuk membawakan sebuah lagu yang indah yang pasti membuat anda semua..."


"Woy pembukaan lu kepanjangan, permisi aja cukup." Kataku menghentikan ucapan Pay.


"Maaf Dit hehehe, eh gw minta lagu Noah ya, yang judulnya menghapus jejakmu." Kata Pay.


"Nyindir amat itu yang minta lagu, ganti yang lain aja." Jawabku.


"Ok sory, kalo begitu lagu Dewa...Pupus."


"Bodoamat...Lebih parah itu mah, lagu cinta aja Pay jangan yang tentang putusan."


"Lagu apa ya Dit, bingung gw..." Kami berdua berpikir sejenak untuk menentukan lagu apa yang akan kami bawakan.


"Woy...Woy..Mau jadi ngamen nggak? Gw nungguin nih." Kata seorang pemuda dari dalam toko.


"Oh iya maaf mas hehe, woy gondrong kalo begitu lagu dari Ada Band aja ya...Manusia bodoh." Kataku.


"Sue banget lu, abis natap muka gw langsung kepikiran lagu manusia bodoh, ok deh mainkan." Ucap Pay.


Aku pun memetik gitarku sedangkan Pay bersiap untuk bernyanyi.


"Dahulu terasa indaaaaaah...Uhuk...Uhuk."


"Mas, kalo nggak bisa nyanyi jangan ngamen, suara kayak kaleng rombeng aja lu, mana pake batuk lagi." Ucap pemuda dari dalam toko itu lagi.


"Huh, katanya kayak Once, Kayak Oncom itu sih, udah biar gw yang nyanyi, nih lu pegang bungkus permen aja buat mintain uang." Ucapku.


Aku pun memulai dari awal lagi lagu itu.


...Dahulu terasa indah...


...Tak ingin lupakan...


...Bermesraan selalu jadi...


...Satu kenangan manis...


...Tiada yang salah...


...Hanya aku manusia bodoh...


...Yang biarkan semua...


...Ini permainkanku...


...Berulang-ulang kali...


...Mencoba bertahan sekuat hati...

__ADS_1


...Layaknya karang yang dihempas sang ombak...


...Jalani hidup dalam buai belaka...


...Serahkan cinta tulus di dalam takdir...


...Tak ayal tingkah lakumu...


...Buat 'ku putus asa...


...Kadang akal sehat ini...


...Tak cukup membendungnya...


...Hanya kepedihan...


...Yang selalu datang menertawakanku...


...Dia belahan jiwa...


...Tega menari indah di atas tangisanku...


...Mencoba bertahan sekuat hati...


...Layaknya karang yang dihempas sang ombak...


...Jalani hidup dalam buai belaka...


...Serahkan cinta tulus di dalam takdir...


...Tapi sampai kapankah...


...'Ku harus menanggungnya?...


...Kutukan cinta ini...


...Yang harus dilalui...


...Begitu juga akhir kisah ini...


...Yakinku indah...


...Mencoba bertahan sekuat hati...


...Layaknya karang yang dihempas sang ombak...


...Jalani hidup dalam buai belaka...


...Serahkan cinta tulus di dalam takdir...


...Tapi sampai kapankah...


...'Ku harus menanggungnya?...


...Kutukan cinta ini...


...Bersemayam dalam kalbu...


...(Ada Band-Manusia bodoh)...


"Bravo..Bravo, mamamia lezatos, suaranya keren mas..Menghayati banget." Kata pemuda tadi sambil memberikan selembar uang.

__ADS_1


"Wah ini serius mas ngasih Rp 50.000?" Ucap Pay yang menerima uang itu.


"Iya, suara temen lu keren soalnya." Jawab pemuda itu.


"Gimana sebagai bonus gw tambahin 1 lagu lagi, tapi gw yang nyanyi." Kata Pay lagi.


"Ngga usah, kuping gw masih normal, gw nggak mau jadi budek gara-gara denger suara lu." Kata pemuda itu membuat kami tertawa.


Siang harinya saat kami istirahat untuk makan siang aku dan Pay menghitung hasil mengamen kami hari ini.


"Wadaw banyak juga Dit, kalo tiap hari begini sih bisa cepet kaya kita." Ucap Pay.


"Setengahnya buat keperluan rumah sehari-hari, setengah lagi lu tabung buat berobat Tiwi ya Pay."


"Ok bos."


Sedang asik kami mengobrol tiba-tiba Pay menjadi heboh karena menurutnya dia melihat seseorang yang tak asing baginya.


"Dit... Adit, lu liat di sebrang jalan sana, bukannya itu si Doni." Kata Pay.


"Doni...? Doni siapa?"


"Itu lho Doni si penipu yang waktu itu bawa kabur uang hasil penjualan tanah Almarhum Pak Slamet."


"Wah iya bener itu Doni."


Tampak Doni sedang berjalan di area pertokoan bersama dengan wanita paruh baya, dia mengubah penampilannya, tak tampak lagi kacamata tebal yang dia gunakan dulu.


Kami mencoba mengejarnya, karena memang kami sudah berjanji sebelumnya pada Ibu Panti untuk menyerahkannya ke kantor polisi, tapi alangkah sialnya kami, karena suasana jalan siang hari itu sangat ramai membuat kami kehilangan jejaknya.


"Arrrghh sial, lolos deh si penipu itu." Ucap Pay kesal.


"Biar saja Pay, kali ini memang dia selamat, tapi setidaknya kita tau bahwa penipu itu ada di Kota ini dan pasti tempat tinggalnya tak jauh dari sini."


"Kalo begitu setiap hari kita ngamen sambil nyari dia, gimana menurut lu Dit?"


"Ide bagus, kalau gitu sekarang kita lanjut ngamennya."


Kami pulang ke rumah pada sore hari setelah selesai mengamen, sesampainya di rumah tampak Rai dan Tiwi tengah menunggu kami di teras rumah.


"Ibu mana De?" Tanyaku pada Rai.


"Ibu di kamar A, Ibu masih nggak mau makan dan melamun terus, A Adit coba deh bicara sama Ibu, Rai sudah coba bujuk Ibu supaya mau makan tapi tetep nggak mau A."


Aku pun menuju kamar Ibu, di sana terlihat Ibu yang tengah melamun dengan tatapannya yang kosong.


"Bu...Kata Rai Ibu nggak mau makan ya, Ibu makan dong Bu, nanti Ibu sakit." Ucapku.


"Adit...Maafin Ibu... Gara-gara Ibu kamu kehilangan wanita yang sangat kamu cintai." Jawab Ibu sambil menangis.


"Ibu....Ini semua bukan salah Ibu, walau Ibu nggak pergi dari rumah Riri saat itu Adit akan tetep batalin lamaran itu kok."


"Nak, jangan bohongi hatimu, Ibu tau sebesar apa rasa cinta kamu sama Riri."


"Bu...Adit memang cinta sama Riri...Cinta banget, tapi Adit tetap nggak bisa menikahi dia karena Adit nggak mau si pembunuh itu jadi mertua Adit."


"Ta...Tapi Dit."


"Sudah Bu, jangan di bahas lagi ya, anggap semua itu hanya masa lalu, sekarang Ibu makan ya."


Ibu memelukku, dia menangis dalam pelukanku dan akhirnya hari itu Ibu menerima semua kenyataan ini.

__ADS_1


Seminggu telah berlalu dari pertama kepulanganku ke rumah dan akhirnya sekarang keadaan sudah kembali seperti biasanya, tak ada lagi kesedihan yang menyelimuti keluargaku.


__ADS_2