Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Keanehan


__ADS_3

Setelah sarapan kami pun kembali ke Rumah Sakit, tampak Bams menatap tajam wajah Rezky ketika kami sampai di sana.


Tak lama Rezky pulang karena malam nanti dia harus bekerja lagi, Siang itu aku mengajak Bams berkeliling kota Paris dan kini giliran Reni yang menjaga Papa, Kami memang telah mengatur jadwal untuk bergantian menjaganya.


Aku mengajaknya ke jembatan gembok cinta yang dulu kudatangi dengan Adit.


"Ini tempat apa bos?" Tanya Bams.


"Kamu lihat Bams di sana banyak gembok terpasang yang bertuliskan nama sepasang kekasih, konon katanya jika kita mengunci gembok di jembatan ini maka hubungan kita akan abadi." Kataku menjelaskannya pada Bams.


"Wah kalau begitu aku dan Reni akan pasang gembok nanti bos." Ucap Bams.


"Itu cuma mitos lho Bams, buktinya aku dan Adit nggak langgeng." Kataku sambil mencari gembok aku dan Adit terpasang.


Ketemu....Gembok kami berdua akhirnya kutemukan, tapi anehnya besi pengunci gembok kami terbuka, apa mungkin saat itu kami tak menguncinya dengan benar, aku pun menekan kembali besi itu hingga akhirnya terkunci.


Setelah selesai aku kembali mengajak Bams berjalan-jalan menyusuri kota Paris.


"Bos nanti malam aku dan Reni boleh ke Eiffel?" Tanya Bams.


"Silahkan Bams, malam nanti kan giliran aku berjaga." Jawabku.


"Baiklah kalau begitu bos, thank you." Katanya tampak senang.


Kami berdua kembali ke Rumah Sakit dan membawakan makan siang untuk Reni.


"Gimana sayang Kota Paris, bagus nggak?" Tanya Reni.


"Bagus banget, oh iya nanti malam kita ke Eiffel yuk, bos Riri sudah ngijinin kita lho." Kata Bams.


Reni pun menyetujui ajakan Bams, hingga malam harinya mereka pergi dan tinggalah aku sendiri menjaga papa, satu jam kemudian Rezky datang dan membawakanku makan malam.


"Hai cantik, nih makan dulu, pasti kamu belum makan." Kata Rezky.


"Wah makasih lho Rez, aku memang lagi kelaparan banget, abisnya nggak tega ninggalin Papa sendiri."


"Memangnya Bams dan Reni kemana?" Tanya Rezky.


"Mereka lagi pacaran ke Eiffel."


"Wah asik tuh kayaknya, kebetulan besok aku libur, mau nggak kalau besok malam kita ke Eiffel." Ajak Rezky.


"Wah maaf Rez, aku nggak bisa." Kataku.

__ADS_1


"Kenapa memangnya Ri? kamu kan bisa minta gantian jaga Papamu dengan Reni atau Bams."


"Nggak bukan itu, pokoknya aku nggak bisa."


Bagiku Eiffel adalah tempat penuh kenangan untuk hubunganku dengan Adit, aku tak mau jika kesana dengan laki-laki lain, walau memang Rezky kuanggap hanya sahabat, tapi aku sudah berjanji untuk selalu menjaga hatiku untuk Adit.


Beberapa jam kemudian Bams dan Reni telah kembali dari Eiffel, lagi-lagi Bams menatap tajam kearah wajah Rezky yang sedang berbincang denganku, dia sangat menunjukan rasa tak suka pada Rezky, tapi Rezky hanya tersenyum menanggapinya.


"Eh kalian sudah pulang, gimana Eiffel malam ini?" Tanyaku.


"Beautiful." Jawab Bams.


"Kamu senang Bams." Tanya Rezky sambil tersenyum.


"Seneng lah, kan sama pacar tersayangku perginya." Jawab Bams sambil merangkul Reni.


"Oh iya bos, gimana kalau malam ini aku yang jaga, bos pulang saja sama Reni ke apartemen." Kata Bams.


"Wah nggak usah Bams, giliran kamu kan besok malam." Jawabku.


"Nggak apa-apa bos, supaya bos aman dari gigitan nyamuk Rumah Sakit malam ini." Kata Bams dengan kedua matanya melirik Rezky.


"Baiklah kalau begitu aku pulang ya." Kataku dan berlalu pergi dari Rumah Sakit.


Aku pun menuju Apartemen bersama Reni malam itu, sementara Rezky masih terpaku di hadapan Bams.


Keesokan paginya terdengar suara bel di apartemen, mungkin itu Bams yang sudah pulang, pikirku.


"Biar aku yang buka Ri." Kata Reni.


"Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya, lalu setelah itu aku akan ke Rumah Sakit menggantikan Bams." Jawabku dan Reni lalu menuju pintu.


sudah 5 menit tapi Reni tak kunjung kembali dari pintu depan lalu aku pun memanggilnya.


"Siapa yang pencet bel Ren?" Tak juga ada jawaban dari Reni dan aku meneruskan langkahku menuju kamar mandi.


15 menit kemudian setelah selesai tampak Reni sedang duduk dengan wajah kesal.


"Ren siapa yang pencet bel tadi." Tanyaku.


"Orang gila Ri, salah alamat kayaknya." Jawab Reni.


Lalu aku bergegas ke Rumah Sakit untuk menggantikan Bams berjaga, aku terduduk di depan Papa yang masih terbaring tak sadarkan diri, aku menggenggam tangannya, hingga tak terasa air mata ini menetes.

__ADS_1


"Pa, Papa sadar dong, Riri sayang sama Papa, cuma Papa yang Riri punya." Kataku sambil menangis di hadapan Papa.


Papa menggerakkan jarinya, seakan memberi tanda bahwa beliau mendengar semua perkataanku, aku lalu memanggil Dokter yang berjaga pagi itu, setelah di periksa Dokter itu mengatakan ini adalah sebuah awal yang baik untuk perkembangan Papa.


Aku sangat senang mendengarnya, ketika sore hari Reni datang untuk menggantikanku aku menceritakan kabar bahagia ini kepadanya, kami berpelukan di ruangan itu.


"Syukurlah Ri, mudah-mudahan Om Suryo cepat sembuh ya." Ucap Reni.


"Iya Ren, aku sangat senang."


"Kalau begitu kamu pulang saja dulu, biar aku yang berjaga sekarang." Ucap Reni lagi.


Aku kembali pulang ke Apartemen dan di gantikan oleh Reni yang menjaga Papa, Reni terduduk diam memikirkan sesuatu, dia mengingat semua kejadian pagi tadi.


"Biar aku yang buka Ri."


"Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya, lalu setelah itu aku akan ke Rumah Sakit menggantikan Bams."


Ketika membuka pintu ternyata Rezky yang bertamu pagi itu.


"Lho Rezky, darimana kamu tau kamar apartemen kami."


"Aku kan mengikuti kalian malam itu."


"Lho bukannya kamu langsung pergi ke Rumah Sakit menjaga Papa Riri."


"Hehe...Riri mana Ren, aku kan sudah janji akan menjemputnya pagi ini."


"Ri...Riri nggak ada, dia sudah pergi ke Rumah Sakit."


"Kalau begitu boleh aku melihatnya langsung kedalam."


"Sudah kubilang Riri nggak ada."


"Siapa yang pencet bel Ren?" Tiba-tiba terdengar suara Riri dari dalam.


"Kamu bohong kan Ren?"


Brak....Suara pintu dibanting oleh Reni.


Reni terus terdiam sore hari itu, dia merasa ada yang aneh dengan Dokter Rezky.


Sementara itu aku yang tengah berjalan menuju apartemen merasa ada orang mengikutiku dari belakang, aku berlari karena sangat ketakutan itu adalah orang jahat, tapi ketika aku berlari orang itu lalu menarik tanganku.

__ADS_1


"Ri kamu kenapa?" Ternyata itu adalah Rezky.


"Oh syukurlah Rez, aku kira kamu orang jahat."


__ADS_2