
Setelah sampai dikontrakan Pay ada seorang anak kecil yang menyambut kedatangan kami.
"Hole kakak sudah pulang." Kata anak itu gembira melihat Pay sudah pulang.
"Iya dik, ini kamu makan dulu kakak sudah beli makan, oh iya kenalin ini kak Adit dan kak Riri mereka teman kakak." Kata Pay mengenalkan kami.
"Halo kak Adit halo kak Lili." Kata anak itu sambil tersenyum.
"Ihhh lucu banget nama kamu siapa?" Tanya Riri pada anak itu.
"Namaku platiwi kak." Jawabnya memperkenalkan diri.
"Platiwi..Oh Pratiwi ya maksudnya..Kamu belum bisa ngomong R ya?" Kata Riri lagi.
"Enak aja aku bisa dong kak EEELLLLLLLLLLL." Kata Pratiwi.
Riri pun tertawa melihat kelucuan Pratiwi.
"Pratiwi umurnya berapa tahun, kamu sudah sekolah?" Riri bertanya lagi.
"Aku 5 tahun kak sebental lagi aku masuk TK."
"Ih Pratiwi gigi depannya nggak ada lucu banget sih kamu,kakak gemes." Ucap Riri sambil mencubit pipi anak itu.
"Tiwi makan dulu ya ini kakak bawa makanan buat kamu." Ucap Pay.
"Sini bang Pay biar aku yang suapin." Kata Riri.
Akhirnya Riri menyuapi anak itu di dalam kontrakan sedang aku mengobrol dengan Pay di teras.
"Lu tinggal berdua aja Pay." Tanyaku pada Pay.
"Iya Dit, Ibu gw meninggal setelah melahirkan Pratiwi sedang Bapak meninggal sewaktu Pratiwi dalam kandungan, sekarang hanya dialah keluarga yang gw punya."
"Wah maaf Pay gw nggak tau."
"Santai aje kali Dit, gw kaga nangis kok." Katanya sambil tertawa.
"Kalo lu malem keluar buat cari uang adik lu sendiri dirumah Pay."
"Gw titip tetangga kontrakan gw Dit, makanya kalo semalem gw sampe ketangkep gw nggak tau gimana nasib ade gw kedepannya,untung gw ketemu orang bae kayak lu Dit."
"Hahahaha gw juga pernah diposisi lu kali Pay."
"Wah serius lu Dit, gw kira emang lu terlahir dari keluarga kaya raya."
__ADS_1
"Rumit kalo cerita hidup gw Pay,kalo cewek yang didalem itu baru anak sultan beneran." Kataku sambil menunjuk Riri.
Sedang asik mengobrol kemudian Riri dan Tiwi keluar dari kontrakan karena sudah selesai menyuapi Tiwi.
"Bang Pay aku pinjem Tiwi sebentar ya mau ke minimarket depan..Tiwi suka eskrim kan?" Ucap Riri.
"Suka kak, Tiwi suka esklim stlobeli." Jawab Pratiwi.
Kemudian Riri pun membawa Pratiwi untuk membelikannya eskrim.
"Dit makasih ya." Ucap Pay.
"Makasih buat apa Pay, gw yang makasih kalo bukan karena lu pasti gw berdua udah ketangkep petugas tadi."
"Kata-kata lu semalem nyadarin gw,mulai besok gw mau cari pekerjaan lagi, yang halal."
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Pay.
Tak lama Riri dan Pratiwi pun sudah selesai berbelanja dari minimarket tersebut.
"Kakak...Kakak lihat nih Tiwi punya banyak esklim sama makanan, kakak jangan minta ya." Ucap Pratiwi kepada Pay.
"Wah kok pelit sih sama kakak, neng Riri makasih ya jadi ngerepotin." Ucap Pay pada Riri.
"Anu neng Tiwi sakit ginjal dan besok jadwal dia cuci darah."
Riri terdiam mendengar jawaban Pay sambil tangannya terus mengelus kepala anak itu.
Sore hari pun telah tiba dan akhirnya kami pamit kepada Pay dan Tiwi untuk pulang.
"Kasihan ya Tiwi, anak sekecil dan selucu itu sudah harus merasakan penderitaan yang sangat berat."
"Iya Ri, tapi itu semua adalah takdir Tuhan, dan aku yakin Tuhan mempertemukan kita dengan mereka itu juga sebuah takdir, mungkin kita memang dipertemukan untuk membantu mereka."
"Oh iya Dit, aku besok izin mau nemenin Tiwi sama bang Pay cuci darah ya tadi aku sudah janjian sama bang Pay, kebetulan besok aku libur..Kamu yakin nih nggak mau ikut?"
"Aku besok kan kerja sayang, tadi juga anak HRD mengabari bahwa besok aku ada tugas interview karyawan baru untuk menggantikan posisiku sebelumnya."
"Oh gitu, sibuk juga ya kepala HRD ku ini." Kata Riri menggodaku.
Keesokan harinya seperti biasa aku berangkat ke kantor dengan menggunakan bus, saat bus datang dan bersiap naik tiba-tiba ada seorang pria yang sepertinya sengaja menyenggolku.
"Sorry bro." Kata pria itu sambil menaiki bus tersebut.
Karena terlambat naik akibat disenggol pria itu saat berebut menaiki bus tersebut aku jadi tidak mendapatkan tempat duduk.
__ADS_1
Aku berdiri dalam bus itu dan ternyata pria yang tadi menyenggolku duduk tepat di hadapanku, pakaiannya rapi menggunakan kemeja dengan rambut klimis penuh minyak rambut.
Dia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan sinis dan tak bersahabat.
Aku baru pertama kali melihatnya, karena hampir setiap berangkat kerja aku menggunakan bus dengan rute dan jam yang sama, pastilah aku sudah familiar dengan wajah para penumpang bus itu.
Saat tiba di depan kantor akupun menyetop bus itu karena hendak turun, ketika aku turun dari bus pria itu kembali menyenggolku dan ternyata dia juga ikut turun denganku.
Kami masuk kantor itu bersama, tapi aku juga baru pertama kali melihatnya dikantor ini, saat menaiki lift dan memencet tombol 3 di lift itu kemudian pria itu berkata.
"Mau interview juga ya,udah deh lu balik aja setahu gw perusahaan ini cuma mambuka lowongan untuk 1 pegawai, udah pasti gw yang diterima karena gw sahabat dari anak pemilik perusahaan ini." Katanya dengan ketus.
Aku tak menghiraukan omongannya..Apakah benar dia sahabat dekat Riri? tapi mengapa kemarin Riri tidak cerita jika orang yang mau aku interview ini adalah sahabatnya, karena seingatku kemarin kubilang tak bisa menemaninya untuk mengantar Tiwi karena hari ini aku ada jadwal interview.
Sesampainya di lantai 3 orang itu berbelok ke kamar mandi di lantai itu sedangkan aku meneruskan langkahku ke bagian HRD.
Sesampainya di ruanganku salah satu staff HRD memberitahukan padaku bahwa orang yang hendak interview sudah datang dan kemudian aku menyuruhnya masuk ke ruanganku.
Tak lama terdengar suara ketukan dari pintu ruang kantorku, kupersilahkan orang itu masuk, setelah masuk keruangan dan melihatku duduk di kursi kepala HRD si pelamar kerja yang tadi berangkat bersamaku pun tiba-tiba wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Silahkan duduk." Kataku sambil menatap matanya dengan tajam.
"Ba..Baik pak." Kata pria itu sambil menunduk tak berani menatap mataku.
"Namamu Bambang Triambodo." Kataku sambil membaca surat lamaran kerjanya.
"Betul pak." Dia masih menunduk tak berani menatap mataku.
"Mas Bambang saya ada di hadapanmu bukan dibawahmu..Kenapa kamu selalu menghadap kebawah meja?" Kataku tegas.
"Maaf pak saya tidak tahu kalau ternyata bapak adalah kepala HRD dikantor ini."
"Sudah..Sudah jangan permasalahkan masalah lain, saat ini tugasku adalah wawancara dan memutuskan kamu berhak atau tidak bekerja disini."
Aku membaca semua berkas orang ini, semua nilai ijazah nya sangat bagus dia juga menyertakan banyak sertifikat kursus dan les yang dia ikuti dan semua nilai sangat memuaskan.
Aku juga sudah dengar kabar bahwa orang ini satu-satunya orang yang lulus tes tulis dan psikotes dari 25 orang pelamar, sepertinya dia cerdas.
"Yang perlu kamu ketahui disini adalah bukan hanya karyawan pintar yang kami cari tapi ada 1 hal penting yang melebihi itu, kamu tahu apa itu."
"Tidak tahu pak..Tapi kalau boleh saya tahu hal apa ya pak?"
"Attitude kamu harus baik sebaik semua nilaimu ini." Kataku dengan suara agak keras.
Pria itu kembali menunduk dan mengangguk mendengar jawabanku.
__ADS_1