
Malam hari itu ketika kami sedang makan bersama tiba-tiba Rai berbicara tentang hari kelulusannya esok.
"Bu, besok ke sekolah ya, ngambil ijazah aku, soalnya ngambilnya harus pake wali murid." Ucap Rai.
"Kalau Aa yang ngambil gimana De? Biar Ibu di rumah aja sama Tiwi." Kataku.
"Wah ide bagus tuh Dit, Abang ikut ya Neng geulis." Ucap Pay.
"Ih...Bang Pay di rumah aja deh, biar A Adit aja yang ke sekolah." Kata Rai lagi.
"Emang kenapa De kalau Pay ikut? Kamu malu ya kalau temen-temen kamu tau bahwa dia pacarmu hehehe." Kataku menggoda Rai yang tak menjawab pertanyaanku.
Keesokan paginya aku menemani Rai ke sekolah di hari kelulusannya, Pay ikut serta dengan catatan dia tidak boleh mengaku sebagai pacarnya Rai ketika sampai di sana, Pay menurut saja tanpa bertanya kenapa Rai tak mau diakui sebagai pacarnya.
"Wah A sepertinya kita kepagian deh." Ucap Rai ketika sampai di sekolah.
"Terus gimana De?" Tanyaku.
"Kita nunggu di kantin aja yuk sambil sarapan, tadi kan kita nggak sempet sarapan karena takut telat."
"Wah ide bagus tuh sayang." Ucap Pay.
"Issssh Bang Pay, jangan panggil aku dengan sebutan itu di sini dong." Kata Rai membuat Pay terdiam.
Kami pun menuju kantin untuk sarapan, dan setelah selesai ada dua siswi yang menghampiri kami, sepertinya mereka adalah teman sekelas Rai.
"Hai Rai, wah Rai kamu ngambil ijazah saja harus di kawal dua orang segala." Kata salah satu siswi.
"Eh iya, kenalkan ini Kakak aku, namanya A Adit." Ucap Rai.
"Wah Kakaknya Rai ganteng juga ya, nggak aneh sih, kan Rai juga cantik." Kata siswa yang lain.
"Kalau yang satunya siapa? Om kamu ya Rai." Katanya lagi sambil menunjuk Pay.
"Oh bukan, itu temannya A Adit, namanya Bang Pay." Kata Rai mengenalkan Pay.
"Oh iya Rai, tadi kamu di cari Andi tuh, katanya sepulang sekolah di tunggu di lapangan basket."
__ADS_1
Akhirnya setelah berkenalan kedua siswi itu pun pergi hingga tak lama datang lagi seorang siswi cantik ke meja kami.
"Hai Ra." Dia menyapa Rai.
"Hai Jess." Kata Rai balas menyapanya.
"A Adit dan Bang Pay kenalkan ini Jessica sahabat aku, dia ini salah satu siswi populer lho di sekolah ini. Jess kamu juga kenalkan ini A Adit kakakku dan temannya Bang Pay." Kata Rai mengenalkan kami.
"Hai Bang Pay, aku Jessica, aku kira pertama lihat tadi Abang ini Pamannya Rai." Kata Jessica.
"Waduh...Abang masih muda Neng, masih seumuran sama Adit." Kata Pay.
"Ini A Adit ya." Kata Jessica.
"Oh Iya, salam kenal ya Jessica." Ucapku sambil menjabat tangannya.
Entah kenapa saat itu Jessica tak melepaskan jabatan tangannya sambil terus memandangi wajahku.
"Ehem.." Kata Rai membuat Jessica melepaskan jabatan tangannya.
"Eh sepertinya sudah masuk tuh Ra, ayo kita ke kelas." Ucap Jessica.
"Saudara ini Kakaknya Rai?" Tanya guru itu.
"Betul Pak."
"Selamat Pak, Rai menjadi lulusan terbaik tahun ini karena nilainya menjadi yang tertinggi di sekolah ini." Kata Guru itu lagi.
"Wah terimakasih Pak, semua itu pasti karena bimbingan dari Bapak dan para guru yang lain." Ucapku.
"Rai itu memang sisiwi yang sangat cerdas Pak, kalau boleh tau setelah lulus Rai melanjutkan kuliah di mana ya Pak." Tanya Pak Guru
"Kami belum tau Pak, tadinya Rai ingin berkuliah di Jakarta dan tinggal dengan saya di sana, tapi tidak jadi karena saya harus pulang ke Bandung " Jawabku.
"Wah sangat di sayangkan jika Rai tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi pak, ngomong-ngomong kami ada program beasiswa lho Pak di salah satu Universitas ternama di Bandung ini, jika Bapak dan keluarga berkenan kami akan mendaftarkan Rai masuk ke sana melalui jalur Beasiswa."
"Beasiswa Pak?" Tanyaku.
__ADS_1
"Iya betul Pak, semua biaya akan ditanggung sampai penerima beasiswa itu lulus, tapi dengan satu syarat, dia harus bisa mendapat nilai yang bagus ketika berkuliah di sana, apa Bapak mengijinkan jika kami mendaftarkan Rai di sana."
"Kalau begitu kami setuju Pak, terimakasih untuk bantuannya."
Setelah mengambil Ijazah Rai kami pun bersiap untuk pulang, tapi sebelumnya Rai meminta izin terlebih dahulu untuk menemui temannya yang bernama Andi di lapangan basket.
"Wah Neng Rai lama banget sih Dit." Ucap Pay.
"Iya Pay, sebentar lagi kan jam makan siang, pasti Ibu dan Tiwi menunggu di rumah, ayo deh kita susul Rai." Jawabku.
Akhirnya kami berdua menuju ke lapangan basket untuk menyusulnya, sesampainya di sana Rai sedang bersama seorang siswa di tengah lapangan itu, tampak mereka sedang berpegangan tangan dengan di kelilingi para murid lainnya, sontak saja Pay cemburu dan terbakar emosi melihatnya, dia menghampiri siswa itu lalu mendorongnya hingga terjatuh.
"Ngapain lu pegang-pegang tangan pacar gw." Ucap Pay yang begitu emosi.
Karena tindakan dan kata-kata Pay itu membuat semua murid yang ada di sana melihat ke arah wajah Rai dan Pay, aku menghampiri Pay untuk menenangkannya.
"Bang Pay apa-apaan sih, bikin malu aja, Rai benci sama cowok yang nggak bisa nahan emosi." Ucap Rai yang kemudian berlari meninggalkan kami.
"Neng, tunggu...." Kata Pay mencoba menghentikan Rai.
Setelah itu kami pun beranjak untuk pulang, sesampainya di rumah ternyata Rai sudah sampai di sana dan mengurung diri di kamarnya.
"Udah Pay, sabar." Kataku mencoba menenangkan Pay di teras rumah.
"Pantes gw nggak boleh ngaku sebagai pacarnya di sekolah Dit, ternyata Neng Rai udah punya pacar ya di sana." Kata Pay tampak lemas.
"Jangan ngambil kesimpulan sendiri sebelum tau kebenarannya Pay, gw kenal banget sifat Adik gw, dia bukan gadis yang seperti itu kok." Jawabku.
Pay hanya terdiam mendengar kata-kataku, tak lama Ibu memanggil kami untuk makan bersama, semua orang berkumpul di meja makan termasuk Rai, tapi ketegangan antara Rai dan Pay belum usai, mereka tak berbicara satu sama lain.
"Kakak Pay sama Kak Lai sedang malahan ya." Ucap Tiwi.
"Hahaha tuh liat Pay, anak sekecil ini aja tau kalian lagi marahan." Ucapku.
"Lho kalian sedang bertengkar? Ada apa?" Tanya Ibu.
"Ih Ibu kepo, biasa Bu percikan-percikan cinta anak muda." Aku yang menjawab pertanyaan Ibu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu dilanjut nanti saja bertengkarnya, sekarang kita makan dulu ya." Kata Ibu lagi.
Di tengah makan siang itu tak lama aku mendengar ada seseorang yang mengucapkan salam di depan rumah.