
Kami bertiga keluar dari ruangan tempat Papa di periksa karena di usir oleh Dokter itu, kami tertawa setelah keluar dari sana, dan tanpa sengaja aku menabrak seorang pria, pria itu memakai hoodie dengan kaca mata hitam dan masker yang menutupi wajahnya.
Aku meminta maaf padanya tapi dia mengacuhkanku dan pergi begitu saja, Bams yang melihat itu menjadi kesal dan terpancing emosinya.
"Dasar orang sombong, bos Riri sudah minta maaf malah pergi begitu aja." Kata Bams.
"Sudah Bams nggak apa-apa, lagian aku kok yang salah." Kataku menenangkannya.
"Tau nih sayangnya aku kamu emosian gitu sih." Kata Reni.
"Iya maaf sayangku." Jawab Bams.
"Aku boleh muntah nggak ya." Kataku ketika melihat tingkah mereka berdua.
Malam itu aku menjaga Papa, aku tak mau digantikan oleh Bams dan Reni karena aku takut Papa yang sudah sadar mencariku.
"Ri." Kata Papa malam itu.
"Iya Pah."
"Saat ini kamu pasti membenci Papa." Katanya pelan.
"Nggak kok Pah, Riri justru sayang banget sama Papa, dan Riri sangat takut kehilangan Papa." Jawabku.
"Maafin Papa ya." Kata Papa.
"Papa, kok minta maaf lagi sih, kan tadi Riri sudah bilang bahwa Riri sudah maafin Papa, sekarang Papa istirahat aja ya, jangan mikirin yang macem-macem, biar Papa bisa cepat pulih."
"Adit gimana?" Tanya Papa.
"Adit ada kok Pah, dia nunggu kita di Indonesia." Kataku tak ingin membuat Papa khawatir.
Lalu Papa pun kembali beristirahat, tinggalah aku yang masih berjaga di ruangan itu, malam itu aku merasa ada seseorang yang mondar-mandir di depan ruangan Papa, kupikir mungkin itu adalah Suster atau Dokter yang berjaga malam itu dan setelahnya aku pun tertidur.
Hingga paginya Reni datang dan menyuruhku pulang untuk membersihkan diri, aku pun pamit kepada Papa dan berjanji malam nanti akan menjaganya lagi.
Sesampainya di apartemen aku kembali mencoba menghubungi Rai, tapi tetap saja tak bisa, aku sempat berpikir mungkin ponselnya rusak atau hilang.
__ADS_1
Siang harinya Bams pamit kepadaku untuk bergantian dengan Reni menjaga Papa, selang berapa lama Reni kembali dari Rumah Sakit dan kami pun berbincang.
"Eh Ri kamu ingat nggak orang yang kamu tabrak di depan ruangan Papamu kemarin?" Tanya Reni.
"Iya aku ingat, memangnya kenapa Ren?" Tanyaku.
"Kayaknya tadi aku lihat orang itu lagi deh di Rumah Sakit." Kata Reni.
"Yah namanya juga Rumah Sakit Ren, mungkin saja orang itu sedang menjaga keluarganya yang sedang sakit seperti kita."
"Iya sih, tapi aneh banget menurutku dia memakai pakaian tertutup gitu, kayak ninja aja, lagian tadi beberapa kali dia kulihat mondar-mandir di depan ruangan Papamu."
"Mungkin ruangannya memang di sebelah ruangan kita Ren, udah ah jangan negatif thinking gitu." Kataku.
Malam harinya aku kembali ke Rumah Sakit untuk menggantikan Bams berjaga, aku naik ke lantai tempat Papa di rawat, kebetulan di blok ruangan Papa hanya ada dua kamar VIP di sana, aku melewati ruangan sebelah Kamar Papa, kulihat ruangan itu pintunya sedang terbuka dan ternyata di dalamnya tak ada siapapun, kupikir mungkin pasien di ruangan itu sudah pulang sebelumnya.
"Bams." Kataku ketika sampai di kamar Papa.
"Iya bos, kenapa?" Tanya Bams.
"Ruangan di sebelah itu ada pasien di rawat nggak sih?"
Lalu orang yang Reni bilang mondar-mandir itu mau kemana? Tak mungkin dia tersesat karena sebelumnya pun aku melihatnya di luar ruangan ini.
"Memangnya kenapa bos?" Tanya Bams.
"Ah, nggak kok Bams, ya sudah kamu pulang sana."
"Iya bos, ini lagi telpon Reni, minta dibuatkan makan malam, maklum aku laper banget hahahah." Kata Bams yang berdiri di depan pintu.
Tanpa di sadari Bams ternyata ada seseorang yang masuk ke ruangan itu dan berdiri di belakangnya, dia memukul bagian belakang kepala Bams hingga membuatnya tersungkur dan pingsan seketika.
Aku melihatnya dengan jelas, itu adalah orang yang kutabrak kemarin, belum sempat aku berteriak orang itu dengan cepat berlari ke arahku.
"Teriak saja atau Ayahmu mati." Kata orang itu mengancamku.
Aku tak berani berteriak karena ancamannya, lalu orang itu membuka masker dan kacamata yang ia gunakan, ternyata itu adalah Rezky, mimpi burukku telah kembali malam itu.
__ADS_1
"Rezky, bagaimana kamu bisa tau aku ada di sini?" Kataku.
"Hai sayang, sudah 3 bulan ya kita nggak ketemu, aku kangen lho sama kamu." Jawabnya.
"Kamu gila Rezky, aku tanya darimana kamu tau aku di sini." Kuulangi pertanyaanku.
"Itu karena kita berjodoh sayang, aku memang melarikan diri ke kota ini dan terus bersembunyi dari pencarian polisi, hingga tiga hari yang lalu aku melihat pengawal bodohmu itu masuk ke Rumah Sakit ini hahahaha." Jawabnya.
"Rez, kenapa kamu menjadi seperti ini, kamu dulu adalah anak yang baik." Kataku mencoba menyadarkannya.
"Ini semua karena Ayah angkatku yang bodoh Ri, dia selalu menyiksaku sejak menikahi Mamah, Mamah pun tak peduli padaku, karena takut bila membelaku dia akan di ceraikan oleh si bodoh itu hahahaha." Jawabnya.
"Lalu karena itu kamu membunuh mereka?"
"Iya sayang, mereka memang pantas mati." Katanya sambil terus tertawa.
Kini aku mengerti mengapa Rezky tumbuh menjadi seorang monster, ternyata itu karena dia selalu mendapat siksaan dari Ayah tirinya, aku sangat iba padanya, tapi aku juga takut.
"Lalu apa kamu yang membunuh musisi jalanan itu juga."
"Oh tentu, karena si bodoh itu sudah mengingatkanmu pada kekasihmu dan membuatmu meninggalkanku sendiri di taman."
"Kamu gila Rezky, hanya karena hal sepele itu kamu tega membunuh orang."
"Hahahah dia hanya sebagian kecil dari korbanku sayang, dan sekarang kamu adalah korbanku yang ke 7."
Rezky membantingku ke sofa yang ada di ruangan itu, tubuhku terhempas dan kini terbaring di sofa, lalu kulihat Rezky mengeluarkan pisau bedah dari sakunya.
"Maaf sayang malam ini kamu harus mati di tanganku, dan itu semua karena kau menolak cintaku." Katanya sambil mendekatkan pisau itu ke arahku.
Tak kusangka ternyata Papa terbangun karena mendengar suara kami, Beliau lalu mencabut selang infus di tangan dan alat bantu pernafasan yang ada di hidungnya, Papa menjatuhkan diri dari tempat tidur dan merangkak ke arah kami.
Setelah sampai di dekat kami Papa lalu memegangi kaki Rezky yang berdiri tepat di hadapanku.
"Wah Papa mertua sudah siuman." Kata Rezky yang melihat Papa ada di bawah kakinya.
"Lepaskan anakku penjahat." Kata Papa yang lalu mengigit kaki Rezky.
__ADS_1
Rezky yang merasa kesakitan pun dengan kejamnya menendangi tubuh Papa yang berada tepat di bawahnya.