
Tiga hari sudah Pay dan Bams di rawat di Rumah Sakit, dan hari ini adalah hari kepulangan mereka.
Kami semua menunggu di rumah dengan perasaan riang, bagaimana tidak, kedua sahabat anehku hari ini akan berkumpul bersama kami lagi.
Siang itu terlihat mobil Riri yang di kemudikan Pak Iwan memasuki pelataran rumah setelah menjemput mereka berdua.
Tapi ketika membuka pintu mobil aku tak mendapati kedua sahabatku itu ada di sana.
"Lho, mereka kemana Pak." Aku bertanya kepada Pak Iwan.
"Anu Nak, mereka berdua minta di turunkan di depan gerbang komplek." Jawabnya.
"Untuk apa turun di sana Pak." Sahut Riri.
"Tadi terjadi perdebatan seru di dalam perjalanan Non, mereka meributkan siapa yang paling kuat di antara mereka berdua."
"Lalu?" Kata Riri lagi.
"Mereka menuju ke sini dengan mengadakan lomba balap lari untuk membuktikan siapa yang paling hebat karena sudah sembuh sepenuhnya lebih awal."
Kami hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Pak Iwan, sepertinya persaingan kedua orang itu akan terus berlanjut hingga waktu yang lama.
"Oh iya, tadi juga mereka bilang pemenangnya bisa mendapatkan Non Rai sebagai hadiahnya." Kata Pak Iwan lagi.
Rai mengerutkan dahinya, tangan kanannya mengepal seraya memukuli telapak tangan kirinya mendengar apa yang Pak Iwan ucapkan.
Aku dan Riri hanya menahan tawa melihat tingkah Rai yang tentu tak senang di jadikan barang taruhan.
"Hore gw menang." Ucap Bams yang sampai lebih dulu.
"Licik lu Bambang, celana gw merosot lu tarik-tarik." Balas Pay.
"Eits, menang tetap menang bagaimana pun caranya wahai manusia jamur."
Pay dan Bams terus saja berdebat hingga tak menyadari Rai mendekati mereka berdua.
"Ehem." Kata Rai.
"Eh Neng cantik, lihat nih si jamur licik masa nggak mau ngaku kalah, nggak jantan kan itu namanya." Ucap Bams.
"Jangan dengerin Neng, masa celana Abang di tarik-tarik sampe merosot semata kaki, untung aja jalanan lagi sepi." Balas Pay.
"Emang kalian lagi pada ngapain." Tanya Rai sambil tersenyum.
"Balapan Neng." Jawab Pay dan Bams serentak.
"Terus hadiahnya apa?" Tanya Rai masih dengan senyuman manisnya.
"Hadiahnya Emmm...Ummmm...Emmm, apa tadi hadiahnya mur? Gw kok mendadak insomnia ya." Jawab Bams
__ADS_1
"Hahahaha dasar klimis pe'a, insomnia itu susah tidur, amnesia kali maksud lu, masa hadiah aja lupa, kan yang menang bisa dapetin Neng Raaaa......" Pay menghentikan ucapannya.
"Neng Ra apa Bang? kok berhenti." Rai masih tersenyum manis.
Pay dan Bams tertunduk, tak berani menjawab pertanyaan Rai.
"Neng Rai maksudnya?" Kata Rai lagi.
Kini keduanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Rai itu.
"Oke kalau begitu sekarang kalian berdua tutup mata ya, Rai punya hadiah atas kepulangan kalian." Lagi-lagi Rai berkata dengan senyuman di wajahnya.
"Wah mur, mau di cium nih pasti kita, ayo tutup mata mur." Kata Bams semangat.
"Ok i'm ready." Ucap Pay dan mereka berdua pun menutup matanya.
Rai semakin mendekati mereka, tangannya mengusap kepala Bams dan Pay secara bersamaan, terlihat mereka tersipu karena usapan Rai hingga tak lama Rai membenturkan kepala mereka berdua.
"Aduuuuuh mak, remuk dah kepala gw." Kata Pay memegangi kepalanya.
"Lu sih enak rambut lu kayak jamur jadi nggak langsung kena kepala, gw nih berasa langsung ke otak." Balas Bams.
"Tambah geser dong otak lu." Kata Pay lagi.
"Pokoknya Rai nggak suka ya kalau di jadiin taruhan, emangnya Rai barang, awas kalau di ulang lagi Rai nggak akan memaafkan kalian, selamanya." Kata Rai yang kemudian masuk ke dalam rumah.
"Hai Bos." Sapa Bams ketika melihat kami.
"Gimana keadaan kalian? sudah sepenuhnya sehat?" Tanyaku.
"Gw udah Dit, kalo si klimis sih badannya doang sehat, tapi otaknya nggak hahahaha." Kata Pay.
"Kalo begitu saya pamit pulang ya bos, soalnya Ibu Panti dan juga adik-adik sudah nunggu di sana."
"Ok Bams, salamku untuk Ibu dan adik-adik ya." Jawabku.
Malam harinya ketika Riri telah pulang Bams datang lagi karena mengetahui bahwa esok hari liburan Rai telah usai dan ia akan kembali ke Bandung.
"Wah Bams, tumben ke sini malem-malem, ada apa?" Tanyaku.
"Anu Bos mau ketemu Rai, Rai kemana kok nggak kelihatan."
"Rai sedang ke minimarket depan beli bekal buat di perjalanan besok, kenapa memangnya?"
"Mau minta maaf soal tadi siang, Rai pergi sama siapa ya bos?"
"Di antar Pay dan Tiwi tadi, sudah agak lama kok, paling sebentar lagi juga pulang."
"Jamur sialan, kalah 1 langkah gw." Katanya bergumam.
__ADS_1
Tak lama Rai kembali ke rumah bersama Pay dan Tiwi.
"Eh ada si Bambang, lihat nih keluarga kecil bahagia baru pulang belanja." Kata Pay menggoda Bams.
"Apaan sih Bang Pay ngomongnya asal." Ucap Rai.
"Tau nih si jamur, talk to my hand. Eh neng Rai ngomong-ngomong besok pulang ya?"
"Iya Bang, kenapa ya?"
"Nggak apa-apa kok, aku cuma mau minta maaf aja soal yang tadi siang."
"Oh soal itu, santai aja lagi bang, udah Rai maafin kok." Ucap Rai sembari tersenyum.
"Ok kalau gitu besok Abang ikut ke terminal ya Neng." Ucap Bams.
Keesokan harinya pada minggu pagi kami semua menuju terminal untuk mengantarkan Rai.
"Kalau begitu Rai pulang ya A, Kak Riri dan semua."
"Iya Dek, hati-hati di jalan ya." Jawabku dan Riri.
"Yah Neng baru aja kenal udah pisah lagi." Kata Bams.
"Nanti juga kan Rai rencananya kuliah di Jakarta Bang." Ucap Rai.
"Wah yang bener Neng, Abang tunggu ya." Kata Bams lagi.
Rai pun menaiki bus karena sebentar lagi akan berangkat menuju Bandung.
"Tumben lu Pay diem aja." Kataku menggodanya.
"Gw belum nyerah kok, gw pasti nunggu Rai lulus kuliah." Kata Pay melantur.
Kata-kata yang tak asing di telinga, dulu sahabatku juga pernah berkata seperti itu ketika kami pulang dari Bandung.
Malam harinya Rai menelpon untuk mengabari bahwa dia sudah sampai di rumah.
"A, aku mau ngomong sesuatu." Ucap Rai.
"Ngomong apa De?" Tanyaku
"Entah ini hanya perasaanku saja atau Aa juga merasakannya."
"Apa sih De, Aa nggak ngerti maksud kamu."
"Aku kok melihat sosok bang Udin pada diri bang Pay ya A, mereka itu seperti orang yang sama walau kenyataannya berbeda." Ucap Rai.
Aku tersenyum mendengar kata-katanya, ternyata bukan aku saja yang merasakan hal itu, merasa Pay itu adalah sahabatku yang telah berpulang sebelumnya.
__ADS_1