Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Jessica


__ADS_3

Siang itu seperti biasa aku dan Pay mengamen di area pertokoan, sebenarnya kami berada di sana bukan hanya untuk mengamen saja melainkan untuk mencari keberadaan Doni si penipu.


Saat sedang makan siang sambil memperhatikan sekeliling tiba-tiba kami di kejutkan oleh suara seorang wanita yang memanggilku.


"A Adit." Kata wanita itu.


"Eh kamu Jess, kamu ada di sini?" Ternyata Jessica yang memanggilku tadi.


"Iya A, aku tadi nganter Mamah untuk belanja di toko baju sebrang jalan sana, dan ketika mau pulang aku melihat kalian berdua." Jawab Jessica.


"Kamu sama Mamahmu? Lalu sekarang Beliau di mana?" Tanyaku.


"Di jemput pacarnya A..." Jawab Jessica tampak kesal.


"Pacar?"


"Iya A, jadi Mamah dan Papahku cerai setahun yang lalu, dan sekarang Mamah lagi bahagia banget karena sebulan yang lalu ketemu sama cowok hingga akhirnya mereka sekarang berpacaran, BT aku." Kata Jessica lagi.


"Lho kok BT, harusnya kamu mengerti dong bahwa semua itu untuk kebahagiaan Mamahmu."


"Awalnya sih iya A, aku seneng karena sekarang Mamah terlihat sangat bahagia, karena semenjak di tinggalkan Papah beliau sangat terlihat frustasi." Ucap Jessica.


"Nah kan itu ada hikmahnya Jess."


"Bukan itu masalahnya A, awal kenal dengan pacarnya yang sekarang ini aku ikut senang karena sepertinya dia adalah orang yang baik, tapi lama-kelamaan aku melihat kebusukan orang itu."


"Kebusukan?" Tanyaku.


"Iya A, aku kira dulu dia tulus deketin Mamah tapi sekarang sepertinya dia hanya mengincar harta Mamah, dia sering minta uang, pinjam kendaraan dan yang parah lagi..." Jessica menghentikan ucapannya.


"Apa lagi Jess?"


"Dia pernah menggodaku ketika Mamah tidak ada di rumah." Kata Jessica yang tertunduk sedih.


Aku terdiam tak tahu harus berkata apa hingga akhirnya Pay mengguncang-guncangkan lututnya ke arah lututku.


"Apaan sih Pay." Aku berbisik padanya.


"Pindah...Pindah ke sebelahnya." Bisik Pay.


"Apaan Pay?" Kataku yang tak mendengar omongannya.


"Pindah." Kata Pay lagi.


"Apa sih..?"


"Ya ampun Adit lu nggak peka banget ya di depan lu ada cewek sedih malah bengong...Pindah ke sampingnya." Kata Pay dengan nada keras karena kesal kepadaku.


Akhirnya aku mengikuti saran Pay dengan pindah duduk di sebelah Jessica.


"Sudah ya Jess jangan sedih." Kataku mencoba menghiburnya.

__ADS_1


"Maaf ya A, aku jadi curhat panjang lebar." Ucap Jessica.


"Nggak apa-apa kok, mudah-mudahan dengan menceritakan masalahmu pada kami bisa membuat hatimu sedikit tenang." Kataku sambil tersenyum.


"Iya A, terimakasih."


Melihatku dan Jessica mengobrol akhirnya Pay berinisiatif untuk pulang ke rumah lebih dahulu, aku sebenarnya tak mengerti mengapa ia melakukan itu.


"Dasar Tarzan, dia malah ninggalin kita berdua di sini." Kataku.


"A Adit mau pulang juga?" Tanya Jessica.


"Ah nggak kok, masih siang, kamu sendiri mau kemana?" Tanyaku.


"Belum tau A, tapi aku masih BT sama Mamah dan malas pulang kerumah." Jawab Jessica.


"Ya udah kalau gitu aku temenin kamu ya sampe sedih kamu hilang."


"Serius A?" Kata Jessica yang tampak senang.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya menyusuri taman kota yang tak jauh dari tempat itu.


"A Adit kok bawa gitar?" Tanya Jessica.


"Iya Jess, kan habis ngamen." Jawabku.


"A Adit sama bang Pay ngamen?" Katanya lagi.


"Lho, seingatku Rai pernah cerita bahwa Kakaknya kerja sebagai kepala HRD di Jakarta, malah waktu liburan katanya dia menginap di rumah mewah milik A Adit."


"Itu dulu Jess, sekarang aku udah berhenti kerja di sana."


"Wah sayang banget A, emang kenapa sampai berhenti."


"Panjang ceritanya...."


"Jadi A Adit akan menetap di Bandung lagi dong." Tanya Jessica tampak bahagia.


"Iya, emang kenapa? Kok kamu senyum-senyum gitu."


"Ah nggak apa-apa kok A."


Kami mengobrol hingga sore di taman itu, tertawa, bercanda hingga aku merasa Jessica bisa membuatku melupakan Riri.


"Eh A bisa pinjam gitarnya sebentar nggak?" Tanya Jessica.


"Boleh, ini...Tapi jangan dibanting ya, soalnya gitar ini adalah hartaku satu-satunya."


"Ya nggak lah A, aku mau nyanyiin sebuah lagu buat kamu." Kata Jessica.


"Lho kamu bisa main gitar?"

__ADS_1


"Gini-gini aku vokalis band sekolah lho A, dulu aku juga pernah kursus gitar dan vokal."


Jesicca mulai memainkan sebuah lagu, benar saja ternyata dia pandai memainkan gitar, ditambah lagi suaranya juga merdu.


"Wah keren, aku nggak sangka Jess." Kataku sambil memberikannya tepuk tangan.


"Kalau gitu sini gitarnya, kita nyanyi bareng ya." Kataku lagi.


Kami bernyanyi di taman itu hingga tak terasa waktu berlalu dengan cepat, akhirnya sore itu aku meminta ijin untuk pulang kepadanya.


"Udah sore nih Jess, aku duluan ya."


"Ya udah aku anter ya A, aku bawa mobil kok, tadi aku parkir di dekat toko baju sana." Jawab Jessica.


"Nggak usah ngerepotin Jess, aku naik angkutan umum aja."


"Nggak repot kok A, justru aku senang, dan ini sebagai ucapan terimakasihku karena kamu udah bikin aku seneng." Katanya dengan senyum manis.


Sore itu Jessica mengantarku pulang dengan menggunakan mobilnya, kami pun melanjutkan obrolan kami hingga tak lama Rai keluar dari rumah.


"Eh udah pulang A, kok sama Jessica?" Tanya Rai.


"Iya De, tadi nggak sengaja ketemu." Jawabku.


"Bang Pay kemana A?" Tanya Rai lagi.


"Pay? Lho bukannya dia udah pulang dari tadi siang, tadi ceritanya pas aku baru ketemu sama Jessica dia pamit mau pulang duluan."


"Wah terus Bang Pay kemana dong, jangan-jangan dia nyasar, aduuuuh A Adit kenapa ngebolehin dia pulang sendiri sih, dia kan baru beberapa hari aja di Bandung, pasti belum terlalu hafal jalan pulang." Kata Rai tampak panik.


"A nggak ngebolehin De, tapi dia main nyelonong aja bilang mau pulang tadi."


"Sudah...Sudah lebih baik kita telpon dia sekarang, nih pake ponselku." Ucap Jessica sambil memberikan ponselnya pada Rai.


"Wah nggak aktif." Kata Rai setelah beberapa kali menelpon Pay.


"Ya udah sekarang kalian naik ke mobil kita cari dia." Kata Jessica lagi.


Akhirnya kami mencari Pay yang hilang entah kemana, kami berkeliling sampai malam tapi Pay belum ditemukan juga, akhirnya kami berinisiatif untuk menunggu di tempat kami makan siang tadi, berharap dia kembali lagi ke tempa itu, tak lama kami menunggu benar saja dia kembali ke tempat kami berpisah tadi.


"Bang Pay dari mana? Bikin aku takut aja." Kata Rai yang masih khawatir.


"Wah kamu khawatir sama aku sayang, aku abis jalan-jalan sebentar keliling Bandung." Ucap Pay.


"Alah bilang aja nyasar, pake gengsi segala." Kataku.


"Diiih siapa yang nyasar, sorry ye, baru daerah sini sih gw hafal." Kata Pay tampak sombong.


"Terus itu kenapa mata lu sembab? Lu abis nangis kan karena gak ketemu jalan pulang." Kataku disambut tawa Rai dan Jessica.


Malam itu kami semua kembali kerumah dengan di antar oleh Jessica.

__ADS_1


__ADS_2