
Setelah sarapan tak lama pemandu tour kami menghampiri dan meminta kami untuk bersiap karena sebentar lagi kami akan berangkat menyusuri pulau-pulau kecil nan indah yang ada di Belitung.
"Jadwal hari ini apa Mas?" Tanyaku.
"Jadwal hari ini kita main air, harap semua bawa baju ganti ya." Jawabnya.
Semua tampak senang, karena memang Belitung sangat terkenal memiliki pulau-pulau kecil dengan laut yang indah, tak lengkap rasanya jika berwisata tanpa menyambanginya.
Pagi itu kami tiba di Pantai Tanjung Kelayang, sesampainya di sana pihak travel telah menyediakan perahu, kami semua menuju Pulau Pasir, Pulau Batu Berlayar, Pulau Lengkuas. Setelah 3 pulau itu kami jelajahi dan hanya berhenti untuk foto bersama kini saatnya jadwal kami untuk snorkeling di sekitaran Pulau Lengkuas.
Air laut di sana sangat jernih hingga terlihat banyaknya terumbu karang yang masih alami dan sesekali ikan kecil tampak di sana.
"Sudah siap semua, harap di pakai alat-alat snorkelingnya agar lebih safety, kami juga akan melepaskan tali agar tidak ada yang tertinggal di lautan, karena ketika snorkeling perahu akan terus berjalan pelan." Kata Pemandu menjelaskan.
"Ah, nggak perlu, gw ini paling jago berenang." Jawab Pay sesumbar.
"Sombong lu jamur, tenggelam baru tahu rasa." Sahut Bams.
Kami semua menceburkan diri ke dalam laut, kecuali Tiwi yang di temani Kak Sinta, mereka tetap di atas perahu, tampak Pay berenang tanpa menggunakan pelampung dan alat-alat snorkelingnya, sementara kami hanya berpegangan pada tali yang tersambung ke perahu, Pay malah berenang mengelilinginya, sambil sesekali wajahnya terlihat sombong.
"Hahaha Bambang, hati-hati tuh minyak rambut luntur kena air laut." Ucap Pay.
"Berisik jamur, sombong banget lu."
"Neng, mau keliling nggak sama Abang, sini Abang pegangin." Katanya kepada Rai.
"Nggak Bang, aku takut, ntar malah ketinggalan perahu." Jawab Rai.
Tak terasa hari semakin terik, dan sepertinya sudah memasuki jam makan siang, kami semua kembali naik ke atas perahu, hanya tinggal Pay yang masih berada di dalam air.
"Lihat deh Bang Pay, mirip lumba-lumba." Ucap Iman.
"Apanya? Mukanya?" Tanya Bams.
"Bukan Bang Bams, itu lho gaya berenangnya." Sambung Iman.
Tak lama Pay sudah tak terlihat lagi, kami mencarinya, hingga akhirnya Rai melihat kedua tangannya melambai, dengan tubuhnya berada di dalam air.
"Eh lihat itu sepertinya Bang Pay tenggelam, cepat tolong dia." Ucap Rai panik.
"Mana? Oooh itu sepertinya Pay sedang mencontohkan kepada Tiwi bahaya berenang sendiri, seperti tempo hari di kolam renang, iya nggak sayang?" Kataku kepada Riri.
__ADS_1
"Iya benar." Jawab Riri.
Kami terus memperhatikan Pay, kami tertawa melihat aktingnya hingga tak lama ia meminta pertolongan.
"Toloooooong..." Katanya.
"Hebat aktingnya Pay ya, perhatikan itu Tiwi kakakmu sedang memberi pelajaran." Kataku.
"Tolooong...gw...tenggelam." Katanya lagi.
Kami menunggu, kami berpikir Pay sedang akting saat itu, hingga sepuluh menit dia tak menyelesaikan aktingnya juga.
"A kayaknya itu beneran tenggelam deh." Ucap Rai.
"Masa sih?" Tanyaku.
"Tolooong...gw keraaaam..." Katanya berteriak.
Kami yang dari tadi hanya menontonnya langsung meminta kepada para awak kapal untuk menolongnya, mereka terjun ke laut lalu meraih Pay dan kemudian di bawa ke atas perahu.
Tampak Pay terduduk lemas, wajah dan bibirnya pucat, hingga tak lama dia terbatuk karena menelan sedikit air laut.
"Pay tadi tenggelam beneran?" Tanyaku.
"Wah sorry, gw kira lu akting kayak waktu di kolam renang." Jawabku.
"Hahaha makanya jangan sombong, kualat kan lu." Kata Bams.
Akhirnya siang itu kami menuju Pulau Kepayang untuk makan siang di restoran yang ada di tengah pulau itu, kami sangat menikmati makan siang itu karena sangat kelaparan setelah main air tadi.
Selesai makan siang Pemandu meminta kami untuk kembali ke kapal, karena akan kembali ke Pantai Tanjung Kelayang dan melanjutkan acara selanjutnya, sesampainya di sana kami membersihkan diri lalu bersiap di dalam bus.
"Selanjutnya kita kemana mas?" Tanya Kak Sinta.
"Kita ke Pantai Tanjung Tinggi, di sana itu tempat shooting film laskar pelangi." Kata Pemandu itu.
Sesampainya di sana kami di buat kagum oleh Pantai yang di penuhi oleh bebatuan granit besar yang menghiasi beberapa bagian bibir pantai, bahkan jalan masuknya menyerupai terowongan. Aku dan Riri naik ke batu yang paling tinggi dan berpelukan.
"Sayang makasih ya, Riri akan ingat ini seumur hidup." Kata Riri.
__ADS_1
"Iya sayang, aku seneng kalau kamu juga seneng."
"Mudah-mudahan kita bisa terus mencintai sampai ajal menjemput ya." Katanya tersenyum.
"Apaan sih ngomongnya ajal segala sayang, serem ah, kayak nggak ada bahasan lain aja." Jawabku.
"Kok serem sih sayang, kan semua manusia itu pasti akan meninggal." Katanya lagi.
"Iya sih, tapi udah ah jangan ngomongin meninggal, biarlah itu menjadi rahasia Tuhan, sekarang kita jalani aja kehidupan kita dengan bahagia, dan mudah-mudahan secepatnya kita di beri momongan."
"Amiin." Sahut Riri.
Tak terasa sore hari telah menjelang, tour hari itu di tutup dengan acara makan malam di kota Tanjung Pandan. setelah itu aku dan Riri berjalan-jalan di sekitaran hotel tempat kami menginap.
"Sayang, besok kan hari terakhir liburan kita, setelah itu pasti kamu mulai sibuk kerja deh." Kata Riri.
"Nggak kok Isteriku, kan aku sudah buat sistem kerja baru, jadi aku kerja layaknya jam pegawai biasa, soalnya aku nggak mau terus nggak ada waktu untukmu dan anak kita nanti." Jawabku.
"Iiiih kamu itu, paling bisa buat aku bahagia, aku tambah cinta aja sama kamu." Kata Riri.
"Iya dong siapa dulu, Adit." Kataku.
"Sayang kamu kalau punya anak nanti mau laki-laki atau perempuan?" Tanya Riri.
"Aku sih mau laki-laki atau perempuan bagiku sama aja, apapun jenis kelaminnya aku pasti akan sangat sayang sama anaku nanti." Jawabku.
"Iya sayang, aku juga pasti sayang banget sama dia, soalnya aku nggak mau kalau anak kita nanti nggak dapet kasih sayang Ibu sepertiku dulu, mudah-mudahan kita panjang umur ya." Kata Riri sambil tersenyum.
Aku terus memandangi wajah Isteriku itu, aku membalas senyumnya dan menggenggam tangannya dengan erat, aku sangat mencintainya, beruntung aku bisa mendapatkan Isteri secantik dan sebaik Riri, kataku dalam hati.
Keesokan paginya kami kembali melakukan perjalanan setelah sarapan pagi, hari terakhir ini kami langsung berkemas karena setelah acara selesai nanti kami akan langsung di antarkan ke Bandara oleh pihak travel, di hari ini kami menyambangi tempat oleh-oleh khas Belitung dan setelah itu mengunjungi beberapa tempat lagi.
"Wah nggak kerasa ya udah mau pulang aja." Kataku.
"Iya nih bos, padahal masih mau jalan-jalan di Pulau keren ini." Sahut Bams.
"Ya udah kalau gitu, lu nggak usah ikut pulang aja." Sahut Pay.
"Mas, terimakasih ya atas tiga hari ini, sebentar lagi pesawat kami berangkat, kami pamit ya." Kataku kepada pemandu itu.
"Iya Pak Adit, semoga selamat sampai tujuan Pak, kalau mau kesini lagi hubungi saya saja Pak." Kata Pemandu itu.
Akhirnya sore itu liburan kami semua berakhir dan kami kembali pulang ke Jakarta.
__ADS_1