Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Pernikahan Kekasihku


__ADS_3

"Maaf sayang kamu harus mati." Ucap Rezky sambil menghunuskan pisau itu ke arahku.


Aku menutup mata dengan kedua tanganku hingga akhirnya terdengar suara tembakan, aku membuka mataku, mengarahkan pandanganku ke asal suara tembakan itu, tampak seorang pria asing mengarahkan pistolnya ke udara.


"Berhenti Rezky Darmono, anda di tangkap." Kata Pria itu dalam bahasa Perancis dan mengarahkan pistolnya pada Rezky.


Melihat itu Rezky menghindar ke belakang tubuhku, dia menyanderaku dengan pisau yang dia todongkan ke arah leherku.


"Berhenti atau gadis ini mati." Ucap Rezky sambil mundur perlahan.


Pria asing itu mengikuti kami sambil mengarahkan senjatanya kepada kami, Rezky masih mundur perlahan hingga akhirnya kami tiba di sebuah gang yang gelap.


Karena merasa telah menemukan rute untuk melarikan diri, dia mendorongku ke arah pria paruh baya itu dan lalu menghilang di kegelapan malam.


"Hahahaha kali ini kamu selamat, tapi lihat saja aku akan datang lagi sayang." Katanya dan kemudian menghilang.


Aku bertanya kepada pria asing itu, siapa sebenarnya dia, lalu dia pun menunjukan lencana polisi kepadaku, dia berkata bahwa dia adalah detektif yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan kepada seorang pemuda yang kulihat di televisi beberapa hari yang lalu.


Dia juga bilang bahwa telah di temukan sebuah dompet tak jauh dari tempat kejadian, setelah di selidiki ternyata dompet itu milik seseorang bernama Rezky Darmono, sejak hari itu pun dia selalu mengawasi gerak-gerik Rezky hingga akhirnya hari ini dia melihat secara langsung kejahatan yang di lakukannya.


Kemudian aku dan polisi itu membawa Bams yang baru saja tersadar ke Rumah Sakit, untung saja Bams tak mengalami cedera serius.


"Kamu tak apa-apa Bams?" Tanyaku setelah Bams selesai di tangani oleh Dokter.


"Nggak bos, cuma puyeng aja, untung aku orang yang keras kepala bos, jadi baru terbentur segitu aja sih nggak masalah." Ucapnya sambil tertawa.

__ADS_1


Tak lama Reni datang ke ruangan tempat Bams di periksa.


"Sayang kamu nggak apa-apa?" Katanya sambil mengusap bagian belakang kepala Bams yang terbentur tadi.


"Nggak dong aku kan pria tangguh." Jawab Bams.


"Tapi ini kok benjol gede banget ya." Kata Reni yang menekan benjolan di belakang kepala Bams.


"Wadaaaaaw, kalau nggak di pegang sih nggak sakit, kamu malah di pencet gitu." Kata Bams membuat kami semua tertawa.


Aku melanjutkan perbincanganku dengan Pak Polisi itu, dia bilang setelah menemukan dompet Rezky, tak lama ia menyelidiki tentangnya, dan setelah menemukan berkasnya ia mengetahui bahwa beberapa tahun lalu Ibu dan Ayah angkat Rezky di temukan meninggal dalam sebuah kecelakaan.


Akan tetapi setelah di selidiki lagi ternyata kecelakaan itu terjadi karena ada seseorang yang sengaja memutuskan rem mobil mereka, sampai saat ini kasus itu pun belum terpecahkan, tapi Polisi itu kini tengah mencurigai Rezky yang melakukannya.


Polisi itu pun pamit tapi sebelumnya dia memberikan nomor ponselnya dan menyarankan agar kami membawa Papa pindah dari kota Paris, juga kami harus pindah apartemen, karena takut Rezky akan mendatangi kami lagi.


Keesokan harinya kami berencana memindahkan Papa ke kota Pontoise, karena memang kota itu tak terlalu jauh dari pusat kota Paris, kami membawa Papa ke Rumah Sakit lalu Reni yang menemaninya, sedangkan aku dan Bams mencari apartemen karena memang hanya aku yang fasih berbahasa Perancis.


"Syukurlah akhirnya kita menemukan apartemen kosong yang dekat dengan Rumah Sakit Bams." Ucapku.


"Iya bos, mulai sekarang aku yang akan berjaga malam di Rumah Sakit, lagipula aku masih khawatir karena psikopat itu belum tertangkap." Ucap Bams.


Akhirnya aku dan Reni malam itu hanya tinggal berdua di apartemen sedangkan Bams pergi untuk menjaga Papa.


"Ri...Woy Ri, kenapa bengong." Kata Reni mengagetkanku.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Ren, aku cuma kepikiran aja, kenapa ya Rezky menjadi seperti itu."


"Ya elah, ngapain mikirin orang macem itu sih Ri, sudah bagus kamu bisa selamat darinya." Ucap Reni.


Aku hanya penasaran, sebenarnya apa yang merubah Rezky sampai bisa menjadi seperti itu, bahkan dia tak segan-segan membunuh orang, aku juga sedih karena kehilangan sosok sahabat kecilku yang dahulu ku kenal baik dan kini telah menjadi seorang monster, padahal kami baru saja di pertemukan kembali.


Keesokan harinya aku mencoba menelpon Rai untuk menanyakan perkembangan hubungan Adit dengan gadis yang bernama Jessica itu, kutunggu Rai mengangkat telponku tapi alangkah terkejutnya aku ketika yang mengangkat adalah suara seorang pria, ya itu suara Adit, aku sangat mengenal suara itu, aku pun lalu menutup telponku karena tak mau sampai dia tahu jika selama ini aku dan Rai saling berhubungan.


Aku terdiam di tempat tidurku pagi itu, di satu sisi aku sangat senang mendengar suaranya, karena sedikit mengurangi rasa rinduku, tapi di sisi lain aku sangat penasaran mengenai hubungan Adit dan Jessica.


Keesokan harinya lagi ada panggilan masuk dari Rai aku pun bergegas menerima panggilannya.


"De maaf, kemarin aku telpon ternyata Adit yang angkat." Kataku panik.


"Tenang Kak, A Adit nggak membahas itu kok, tapi ada hal yang lebih gawat dari itu." Ucap Rai.


"Gawat kenapa De?" Tanyaku penasaran.


"A Adit akan menikah dengan Jessica." Kata Rai yang lalu menceritakan semua peristiwa yang menimpa Adit dan Jessica.


Aku menutup telpon itu, rasanya bagai tersambar petir di siang hari mendengar kabar dari Rai tersebut, aku menangis, menangis sejadinya, aku menangis bukan hanya karena sedih mendengar kabar pernikahan Adit, tapi juga sedih ketika mengetahui Adit menikahi Jessica karena berkorban untuknya.


"Kamu memang lelaki hebat Dit, aku tak menyalahkanmu untuk ini, aku bangga padamu, bangga pernah menjadi bagian dari cerita hidupmu, semoga kau bahagia dengannya." Kataku sambil menangis di dalam kamarku.


Mendengar tangisanku Reni yang sejak tadi berada di ruang TV pun lalu menghampiriku, dia menanyakan kenapa aku bisa menangis seperti itu.

__ADS_1


Aku menceritakan semuanya pada Reni, dia mencoba menenangkanku, tapi apapun yang dikatakan oleh Reni hari itu sama sekali tak masuk dalam otakku, karena sekarang aku hanya memikirkan bahwa orang yang sangat kucintai akan menikah dengan gadis lain.


Akhirnya Reni berkata beberapa hari ini aku harus menenangkan diri dan tak usah ikut menjaga Papa di Rumah Sakit, biar dia dan Bams yang menggantikanku, aku pun sangat berterimakasih pada pengertian mereka berdua.


__ADS_2