Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Kakak perempuanku


__ADS_3

Sesampainya di rumah baru tampak Sinta dan Bapak menunggu kami di sana, aku mengenalkan semua keluargaku pada mereka, hingga saat Ibu berjabat tangan dengan Bapak terlihat Bapak terus saja memandangi wajah Ibu.


"Ehem." Terdengar suara Sinta hingga jabatan tangan dan saling pandang itu berakhir.


Kami sudah selesai memindahkan semua barang hari itu, semuanya tampak lelah, kemudian Sinta mengajakku berbincang di depan teras.


"Dit kamu ingat, dulu aku pernah bilang jika kamu putus dengan Riri aku masih bersedia menunggumu." Ucap Sinta.


"Iya, kenapa memangnya Sin, kamu mau jadi pacar aku?" Kataku menggodanya.


"Yeee GR, memang masih ada rasa suka itu, tapi aku sadar diri, aku tahu sebesar apa rasa cintamu sama Riri, kamu memang bisa membohongi orang lain dengan berkata kalau kamu membenci Riri, tapi kamu tidak bisa membohongiku, kamu masih sangat cinta kan sama dia." Kata Sinta.


"Sok tau kamu Sin." Kataku menutupi perasaanku.


"Kamu ini, masih aja gengsi sama aku, memangnya kamu merasa benar dengan membencinya atas kesalahan yang tidak pernah dia perbuat?" Kata Sinta.


Aku terdiam, Sinta memang benar, aku sudah egois selama ini, kadang penyesalan itu memang datang belakangan, bahkan setiap malam datang pun aku masih memikirkan Riri, aku sangat mencintainya dan berharap dia datang kembali padaku.


"Jangan jadi lelaki egois Dit, maafkan dia, terlepas kejahatan apa yang dilakukan Papanya dahulu, terkadang kita baru sadar sebesar apa kita mencintai seseorang setelah kita kehilangan dirinya." Kata Sinta membuatku semakin terdiam.


Tak lama kelima gadis itu menghampiri kami sambil menggendong Tiwi.


"Kalian pacaran ya? Pokoknya aku nggak rela kalau Kak Aditku pacaran dengan Kak Sinta." Kata seorang dari mereka.


"Iya kami semua nggak akan rela." Sambung yang lain.


"Kalian ini seenaknya saja menuduh orang, lagipula kalau Kakak pacaran sama Adit apa hak kalian melarang kami." Kata Sinta memarahi mereka.


"Ta..Tapi Kak, Kak Adit itu calon pacar kami." Kata mereka serempak.


"Hahaha nggak usah sedih gitu, Kakak hanya bercanda, Kakak dan Adit ini cuma sahabat, lagipula di hati Adit cuma ada Riri seorang." Kata Sinta tertawa.


"Riri? Anak mana dia Kak, biar kami labrak." Kata salah seorang gadis itu.


"Sudah..Sudah jangan seperti itu, sekarang kita makan bersama, pasti kalian semua lelah setelah membantu pindahan tadi." Kata Sinta kepada mereka.

__ADS_1


Sesampainya di dalam rumah terlihat Ibu sedang berbincang berdua dengan Bapak, mereka masih saja saling pandang, entah perbincangan apa yang mereka bicarakan siang itu, yang aku lihat mereka tampak sangat bahagia.


Keesokan paginya ketika keluar rumah karena ingin menghirup udara segar ternyata Bapak sudah terduduk di teras itu.


"Lho Pak, pagi-pagi sudah kesini, ada perlu sama Adit?" Tanyaku ketika melihat Bapak.


"Ah enggak Dit, Bapak cuma mau mengajak Ibu dan Tiwi olahraga di sekitar sini, biar sehat." Kata Bapak.


"Oh begitu, sudah ketemu sama Ibu?" Tanyaku.


"Sudah kok, tadi Ibumu bilang dia mau ganti baju dulu bersama Tiwi." Kata Bapak.


"Ayo Mas, aku dan Tiwi sudah siap nih." Kata Ibu yang baru saja keluar rumah bersama Tiwi.


"Cieee Mas, Mas apa Bu? Mas kawin ya." Kataku menggoda Ibu.


"Kamu ini Dit, beraninya menggoda Ibumu, Ibu pergi dulu ya menemani Papa Sinta olahraga." Kata Ibu.


"Iya Bu, hati-hati ya." Jawabku.


Aku tak pernah melihat Ibu sebahagia itu semenjak ditinggal Ayah, dan tentu saja hal itu membuatku menjadi amat senang.


"Tumben Bu ngajak aku dan Rai ngobrol, ada hal penting apa? Tanyaku.


"Iya nih Ibu, aku kan sebentar lagi berangkat kuliah." Kata Rai.


"Kalian setuju jika Ibu menikah lagi." Tanya Ibu dengan wajah serius.


"Menikah lagi? sama siapa Bu? sama nyamuk hahaha." Kataku menggoda Ibu sementara Rai tertawa mendengar kata-kataku.


"Dengan Papanya Sinta." Kata Ibu lagi.


"Apa...!!!!" Kataku dan Rai serempak karena kami sangat terkejut.


Aku saling pandang dengan Rai, tak menyangka ternyata selama ini Ibu menjalin hubungan dengan Bapak, pantas saja setiap hari Bapak selalu mampir ke rumah, ternyata selama ini mereka berhubungan.

__ADS_1


"Kalau aku sih terserah Ibu saja, aku yakin kok Ibu bisa memilih yang terbaik untuk diri Ibu sendiri." Jawabku.


"Ibu yakin?" Tanya Rai.


"Ibu sudah yakin Nak, Papa Sinta adalah orang yang baik, lagipula aku dan dia sudah sama-sama lama sendiri." Jawab Ibu.


"Ya sudah kalau Ibu yakin, Adit sih setuju saja, Adit tahu kok Bapak itu orang yang baik, Adit kan sudah sejak SMP kenal dengan Bapak." Kataku.


"Rai juga setuju Bu, kalau gitu Rai kuliah dulu ya, takut telat." Kata Rai yang bersiap pergi.


Tapi sebelum Rai pergi tiba-tiba saja Ibu memeluk kami berdua.


"Terimakasih anak-anakku, kalian memang anak yang baik, untunglah Ibu dan mendiang Ayahmu tak salah mendidik kalian." Kata Ibu menangis.


Malam harinya Sinta mengajakku berbincang sebelum menutup cafe.


"Dit Ibumu sudah bicara sama kamu?" Tanya Sinta.


"Tentang apa Sin?"


"Tadi pagi Papaku meminta izin katanya dia akan menikahi Ibumu." Kata Sinta lagi.


"Oh tentang itu, iya tadi juga Ibu berbicara padaku dan Rai." Jawabku.


"Terus kalian setuju." Tanya Sinta lagi.


"Kami menyetujuinya, karena itu semua untuk kebahagiaan Ibu juga, kamu sendiri gimana Sin?"


"Aku bilang sih aku setuju saja, karena Papa juga sudah lama menduda dan selama ini tak ada yang mengurusnya karena aku sibuk bekerja, aku juga setuju karena Ibumu itu orang yang baik." Kata Sinta.


"Wah berarti sebentar lagi kita akan jadi Adik-Kakak dong Sin." Kataku.


"Lucu juga ya Dit, padahal dulu aku sempat suka banget lho sama kamu, dan ternyata jodoh kita bukan sebagai Suami-Istri tapi sebagai adik dan Kakak hahhaa." Sinta tertawa mengenang masa lalu.


"Iya Sin, lucu ya, kayak cerita di novel aja, semua serba kebetulan." Jawabku.

__ADS_1


"Eh Dit, aku yang jadi Kakaknya ya, aku kan lebih tua darimu beberapa tahun, jadi mulai detik ini kamu harus panggil aku Kak Sinta." Kata Sinta membuat kami tertawa.


Hari ini pada tanggal 15 Juni Ibu dan Bapak melangsungkan pernikahan, hari itu pernikahan di gelar di rumah Sinta, tampak semua kerabat dekat kami hadir di sana, terlihat juga kelima gadis yang mengidolakanku ada di sana juga, aku senang karena anggota keluarga kami kini telah bertambah, dan tak pernah kuduga sebelumnya bahwa Sinta akan menjadi Kakak perempuanku.


__ADS_2