Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Maaf


__ADS_3

Aku menghela nafasku sangat panjang karena membaca isi pesan tersebut, setelah mengetahui semua kebenarannya aku hanya bisa menyesal.


Dari awal memang akulah yang mencintai Riri terlebih dahulu, aku terdiam tak bisa bergerak dan berkata-kata lagi, ingin rasanya kupeluk dirinya dengan erat dan mengutarakan perasaanku padanya.


"Kejar cintamu nak, jangan sampai kamu menyesal, bukankah setiap manusia di dunia pernah melakukan kesalahan, yang membedakan dari semuanya adalah apakah manusia itu menyadari kesalahannya atau malah mengulanginya." Kata-kata Bi Eha menyadarkanku.


Akupun bangkit dan kemudian bergegas menuju ke rumah Riri sebelum semuanya terlambat.


"Makasih Bi, Ren, aku akan mengejar cintaku." Kataku seraya pergi meninggalkan mereka.


Sesampainya di depan pagar rumah Riri aku mendapat kabar dari security rumahnya bahwa baru saja Riri dan Papanya pergi menuju bandara.


Aku pun bermaksud untuk menyusulnya, akan tetapi alangkah sialnya tidak ada satupun taxi yang lewat daerah itu, memesan melalui aplikasi pun aku tak dapat, apakah harus dengan cara seperti ini aku kehilangan orang yang kucintai, lalu kemudian datanglah Reni yang ternyata menyusulku dengan mobilnya.


"Ayo Dit naik, nanti pesawatnya keburu pergi."


Tanpa pikir panjang aku ikut dengan mobil Reni hingga akhirnya kami sampai di Bandara tersebut.


"Udah sampai Dit, itu kamu cari aja di terminal 3, kamu cari gate yang menuju Jepang, aku cari parkir dulu." Kata Reni memberhentikan mobilnya dan memintaku turun.


"Ok Ren, makasih."


Aku pun mengelilingi terminal 3 tersebut dan bertanya pada setiap orang yang kutemui. Akhirnya aku menemukan gate dengan pesawat tujuan Jepang.


"Pak ini yang ke Jepang berangkat jam berapa ya?" Tanyaku pada petugas yang berjaga disana.


"Oh pesawatnya baru saja 5 menit yang lalu berangkat Mas."


Seketika itu pun aku terduduk lemas hingga orang-orang disekitar terminal itu memperhatikanku.


Diriku di penuhi dengan penyesalan saat itu, aku berpikir andai saja dari awal aku memaafkannya mungkin saat ini kami sudah bersama.


"Selamat tinggal Ri, semoga kamu mendapatkan seseorang yang lebih berharga dariku di sana, aku sangat menyesal, sebenarnya aku pun sangat mencintai kamu, sungguh sangat mencintai kamu."


"Aku juga Cinta sama kamu, cinta banget." Tiba-tiba dari arah belakangku terdengar suara Riri dan itu membuat aku menoleh ke arah suara itu berasal.


"Riri...Ka...Kamu belum berangkat." Ternyata di sana sudah ada Riri, Reni dan Om Suryo.


"Aku ngga kemana-mana kok Dit, aku masih disini." Jawab Riri dengan senyuman manis seperti biasanya.


Aku bertanya-tanya apa maksud dari semua ini.


"Maaf ya Dit semua ini sudah di rencanakan dari awal, habisnya kamu gak mau maafin Riri, di telpon, di chat nggak ada satupun yang kamu bales."


"Jadi kabar kalo kamu mau ke Jepang itu?"


"Maaf Dit Riri bohong sama kamu, jangan marah lagi ya, Adit maafin Riri kan."


Aku berlari kearah Riri dan memeluknya dengan erat.


"Iya Adit nggak marah kok, justru ini semua membuat Adit sadar bahwa Adit ngga mau kehilangan kamu."

__ADS_1


"Jadi Adit udah maafin semuanya?"


"Udah kok, sekarang Adit tanya..Bener Riri sayang sama Adit?"


Riri pun menganggukan kepalanya.


"kalo gitu Riri mau jadi pacar Adit?"


"Iya, mau...Sangat mau."


Hari itu Terminal 3 menjadi saksi awal perjalanan cinta kami, di sambut dengan tepuk tangan dari Papa Riri, Reni dan beberapa orang yang sedari awal tadi memang memperhatikan kami.


"Eh tunggu deh Ri, jadi dari awal Reni emang ada di dalam rencana ini?"


Riri pun mengangguk


"Terus apa semua cerita Reni itu juga karangan kamu?"


"Nggak kok, itu semua memang cerita yang sebenarnya, tanpa di kurangi maupun dilebihkan."


"Waktu itu Papamu pernah bilang bahwa nggak ada satu pun temanmu yang kamu anggap sahabat, tapi kenapa kamu begitu percaya sama Reni?"


"Ya karena Reni memang bukan teman atau sahabat aku, Reni ini ya sepupu aku yang kebetulan satu kampus dan satu kelas sama aku."


Jelas sudah semuanya, dan hari itu akhirnya aku resmi berpacaran dengan Riri.


"Ya sudah kalo begini papa bisa pergi ninggalin putri kesayangan papa ini dengan tenang." Ucap papa Riri.


"Sebenernya yang mau ke Jepang itu adalah Om Nak Adit, tapi ya terpaksa Om ikutin permainan nya Riri dulu, karena Om juga khawatir kalau meninggalkan dia dalam keadaan yang kurang baik."


"Berangkat sekarang Om?"


"Iya 1 jam lagi pesawatnya berangkat, nak Adit Om titip Riri ya, jaga dia baik-baik kalau anak ini nakal sentil saja kupingnya."


"Pasti Om, pasti Adit menjaganya dengan sepenuh hati."


Riri memeluk papanya dan mengucapkan terimakasih untuk semuanya.


Kami semua ikut menunggu kedatangan pesawat tersebut hingga akhirnya pesawat pun datang dan akhirnya Papa Riri berangkat menuju Jepang.


Kami berdua bergandengan tangan menyusuri terminal 3 tersebut menuju parkiran.


"Ehem...Ehem...Kayaknya ada yg lupa kalau di sini ada gw nih." Ucap Reni.


Memang sebenarnya kami lupa jika sedari tadi Reni jalan di belakang kami, memang benar kata orang kalau sedang jatuh cinta dunia terasa milik berdua.


"Ya udah gw duluan ya, selamat berbahagia pengantin baru, ngomong-ngomong daritadi gandengan Mulu kaya mau nyebrang." Lanjut Reni.


Riri kemudian memeluk sepupunya itu dan mengucapkan terimakasih karena berkat dia juga lah kami bisa bersama.


Tak lama kemudian Reni pamit untuk pulang dengan mobilnya sedangkan kami pulang menggunakan mobil Riri bersama dengan Pak Iwan.

__ADS_1


"Mau pulang atau kemana dulu Non?" Tanya pak Iwan.


"Pulang saja pak." Aku yang menjawab pertanyaan Pak Iwan karena kulihat daritadi Riri hanya tersenyum sambil memandang wajahku seakan tak mendengar perkataan pak Iwan.


"Yaaaaah Adit kok pulang sih, aku kan masih kangen, beberapa hari ini kan kamu cuekin aku terus." Ucap Riri padaku manja.


"Aku cape Ri, besok aja ya kita ketemu lagi."


"Cieeee sepertinya sudah resmi nih Non, Nak Adit." Ucap Pak Iwan menggoda kami.


"Iya dong Pak emangnya Pak Iwan sama Bi Eha aja yang bisa." Balasku menggodanya.


"Wah selamat ya Non Riri dan Nak Adit, mudah-mudahan langgeng sampai ke jenjang pernikahan."


"Amin." Kami berdua mengaminkan perkataan Pak Iwan dengan serentak.


Kemudian kami pun pulang menuju rumah Riri.


Sesampainya di rumah Riri.


"Kamu mau minum apa?" Tanya Riri.


"Air." Jawabku.


"Ya iya dong minum air masa minum batu."


"Eh nge gas, marah ya."


"Ngga kok sayang, kamu mau minum air apa?"


"Air Mateng."


"Bi...Bibi tolong bawa selang Bi, ada yang mau minum dari sumber airnya langsung nih."


Kami berdua pun tertawa.


"Nah gitu dong ketawa kan tambah cantik, jangan kebanyakan sedih."


"Kan kamu yang bikin aku sedih."


"Masa?"


"Iya."


"Bodo."


"Iiiiih Adit nyebelin banget sih kamu daritadi."


"Tapi suka kaaaaan."


"Bangeeeet."

__ADS_1


Malam yang Indah itu pun berlalu dan aku kembali pulang ke kontrakan.


__ADS_2