Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Setengah tahun


__ADS_3

Hari ini tepat setengah tahun aku dan Riri resmi menjadi suami Isteri, tapi sampai saat ini kami belum juga di percaya oleh Tuhan untuk mendapatkan momongan, sebenarnya tak mengapa bagiku, toh cintaku pada Riri sangatlah besar, mungkin belum waktunya saja hingga kami mendapatkannya, tapi berbeda dengan Riri, terkadang dia bersedih karena hal itu.


Di sisi lain jika membicarakan masalah perusahaan, aku kini terbilang lebih sukses dari Papa dahulu, perusahaanku kini lebih berkembang dengan sistem kerja yang kubuat, karena kini aku bisa menangani klien di berbagai tempat secara bersamaan, dengan orang kepercayaan di masing-masing perusahaan itu yang membantuku tentunya.


Kak Sinta pun sangat sukses menjadi tangan kananku, kinerjanya memang tak diragukan lagi, tak jarang ide-ide brillian darinya membuat kami bisa memenangkan proyek besar untuk perusahaan kami, namun begitu karena kesibukannya kini dia sepertinya belum berpikir untuk menikah, karena Kakak sekarang tinggal di Jakarta bersamaku sedangkan Pak Dokter pacarnya menetap di Bandung. Cafe milik Kak Sinta kini di kelola oleh Rai sambil kuliah.


Bams pun telah kuangkat menjadi kepala HRD menggantikan posisi yang kutinggal dahulu, bukan tanpa alasan aku mengangkat Bams, karena sebenarnya dia itu orang yang sangat cerdas, sedangkan Pay kini menemaniku kemana aku pergi, sebagai asistenku.


"Sayaaang kamu di mana?" Kataku sore itu ketika aku pulang bekerja.


Aku mencari Isteriku yang biasa menyambut kepulanganku dengan hangat, tapi tidak hari ini, aku memeriksa setiap ruang, hingga akhirnya kudapati Isteriku sedang menangis di dekat kolam renang.


"Sayang kamu kenapa?" Tanyaku.


"Kamu sudah pulang? Maaf aku nggak menyambutmu." Katanya sambil menyeka air mata.


"Kenapa kamu sedih? Aku ada salah?" Tanyaku lagi.


"Nggak kok sayang, aku cuma lagi sedih aja, sudah setengah tahun kita menikah belum bisa memberikanmu keturunan." Ucapnya.


"Lagi-lagi masalah itu, aku kan pernah bilang tak mempermasalahkannya, lagipula kita sudah berusaha, mungkin memang belum rezeki kita saja." Kataku sambil memeluknya.


"Tapi sayang, aku merasa tak enak pada Bapak dan Ibu, mereka pasti sangat mendambakan seorang cucu." Kata Riri.


"Mengapa harus tak enak, ini semua kehendak Tuhan, kita manusia hanya menjalani takdir kita." Kataku menenangkannya.


Malam itu saat sedang terlelap tiba-tiba aku terbangun dan melihat Isteriku sudah tak berada di tempatnya tertidur semula, aku mengarahkan pandanganku pada lampu toilet yang menyala dan menghampirinya, aku melihat Isteriku sedang muntah di sana.


"Kamu sakit sayang?" Tanyaku sambil memijat bahunya.


"Nggak tau, sepertinya aku masuk angin." Jawabnya.


"Ya sudah tunggu, aku buatkan teh hangat." Kataku


Setelah keadaanya membaik akhirnya kami kembali melanjutkan mimpi indah kami, hingga pagi harinya, saat sedang sarapan bersama Riri selalu mondar-mandir ke toilet karena di masih terus saja merasa mual.


"Riri kenapa Dit?" Tanya Kak Sinta.


"Sepertinya masuk angin Kak, soalnya dari semalam muntah terus." Jawabku.

__ADS_1


"Wah jangan-jangan Riri hamil, coba kamu suruh orang untuk beli alat tes kehamilan." Ujar Kak Sinta.


"Memangnya kalau hamil itu mual-mual Kak?"


"Biasanya sih seperti itu." Jawab Kak Sinta.


"Baiklah jika seperti itu aku akan meminta Bibi untuk membeli alat test kehamilan itu."


Selanjutnya aku, Kak Sinta dan Pay berangkat ke kantor bersama Pak Iwan, siang harinya saat sedang makan siang bersama Bams dan Pay tiba-tiba ponselku berbunyi dan itu dari Riri.


"Iya sayang, ada apa? Kamu sudah mendingan?" Tanyaku.


"Sayang....Aku punya kabar gembira buat kamu." Ujarnya.


"Kabar gembira? Apa itu?" Tanyaku penasaran.


"Aku hamil sayang...Aku hamil." Katanya terdengar sangat bahagia.


Telpon dari Riri pun berakhir, aku terdiam sejenak mendengar kabar bahagia itu, tak lama aku bersorak kegirangan membuat semua orang yang ada di restoran itu menoleh ke arahku.


"Bos...Kamu kenapa bos?" Tanya Bams.


"Pay, Bams, Isteriku hamil...Riri hamil." Kataku dengan nada keras.


Tanpa kuduga Bams dan Pay yang terduduk seketika bangkit dan ikut bersorak mendengar kabar bahagia itu.


"Wah selamat bos, akhirnya..." Kata Bams memberi selamat.


"Mantap Dit, selamat ya, yuhuu gw bakal punya keponakan." Sambung Pay.


"Kalau gitu gw pulang duluan ya, kalian nanti naik taxi saja kembali ke kantor." Kataku kemudian berlari meninggalkan mereka dan pulang bersama Pak Iwan.


Dalam perjalanan aku menelpon Ibu untuk menyampaikan kabar gembira ini, Ibu terdengar sangat senang, dia memberi selamat padaku atas kehamilan Riri.


"Wah selamat ya Pak, akhirnya yang di tunggu-tunggu tiba juga." Kata Pak Iwan.


"Iya Pak Iwan, aku senang sekali, bisa lebih cepat nggak Pak, aku udah nggak sabar bertemu Isteriku." Kataku.


Setibanya di rumah tampak Riri sedang bersama Tiwi yang baru saja pulang sekolah di ruang tengah, melihatku datang Tiwi lalu berlari ke arahku dan melompat dalam gendonganku.

__ADS_1


"Kak Adit, Tiwi mau punya adik lho." Katanya.


"Iya sayang, Kakak juga pulang mau melihat Dede bayi yang ada di dalam perut Kak Riri." Kataku.


Aku menatap Riri dan kami saling melemparkan senyuman, Wajah Riri tampak bahagia sekali saat itu.


"Akhirnya...Sayang aku senang sekali mendengarnya." Kataku.


"Sayang, kamu sampai pulang gini, kerjaan kamu gimana."


"Masabodoh, lagipula kan di kantor ada Kak Sinta, aku nggak perduli kerjaan saat ini, aku hanya mau melihat calon anakku yang ada di dalam sana." Kataku sambil menciumi perut Riri.


"Sayang, entah kenapa saat ini aku sangat ingin bertemu Bang Pay dan menarik rambutnya." Kata Riri.


"Kamu ngidam? Kok ngidamnya nyiksa Pay sih?" Kataku sambil tertawa.


"Nggak tau sayang, pokoknya aku mau sekarang." Kata Riri.


"Iya..Iya tunggu, aku telpon Pay dulu." Jawabku.


Setelah menelpon Pay tak lama ia datang langsung dari kantor.


"Napa sih Dit, tadi gw di tinggal di restoran sekarang di suruh pulang." Ucap Pay.


"Itu Riri mau ngomong sama lu, lu samperin sana." Kataku tanpa memberitahu maksud kami menyuruhnya pulang.


"Kenapa Neng?" Tanya Pay sambil mendekat ke arah Riri.


"Bang Pay, bisa tolong jongkok di depanku?" Pinta Riri.


Tanpa banyak bertanya Pay menuruti saja apa yang di minta oleh Isteriku, dia jongkok di hadapan Riri yang sedang duduk di atas sofa, tak lama Riri menjambak rambut Pay yang kini telah kembali ke bentuk semula, mirip seperti jamur.


"Waaah apa-apaan ini, sakit Neng." Ucap Pay pada Riri yang semakin keras menarik rambutnya.


"Maaf Bang Pay, ini bukan mau aku, tapi maunya Dede bayi." Jawab Riri.


"Udah Pay, namanya juga orang lagi ngidam, turuti saja." Kataku sambil menahan tawa bersama Tiwi.


Hari itu pun berakhir dengan kebahagiaan, semua orang sangat bahagia saat itu, kecuali Pay mungkin.

__ADS_1


__ADS_2