Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Pesta para pria


__ADS_3

"Wah asyik namanya aja men's club, artinya klub untuk lelaki, pasti hiburannya tari-tarian cewek nggak pake baju." Kata Pay semangat.


"Waduh, parah dong kalo gitu, kalau sampai ketahuan Riri bisa putus lagi kami nanti." Jawabku.


"Tenang bos, nggak akan ketahuan kok." Kata Bams santai.


Akhirnya kami bertiga sampai di depan klub malam itu, benar kata Bams banyak pria mengantri masuk kesana, sepertinya benar bahwa pertunjukan utama di sana mempertontonkan tubuh wanita.


Dadaku berdegup kencang, karena seumur hidup tak pernah masuk ketempat semacam itu, aku menoleh ke arah Pay dan Bams yang ternyata sedang mengatur nafasnya yang tiba-tiba saja menjadi cepat, sepertinya mereka pun sama sepertiku.


Kami masuk ke dalam klub yang gelap itu, hanya lampu disco yang menggantung dan beberapa lampu remang yang memberinya cahaya, kami membuka meja untuk tiga orang dan akhirnya duduk di sana.


"Mau minum apa bos?" Tanya Bams.


"Teh manis hangat." Jawabku.


"Buset, lu kira warkop." Sahut Pay.


Akhirnya aku hanya memesan jus jeruk sedangkan Pay dan Bams memesan bir botol.


"Gaya kamu Bams, pesen bir segala, di Jogja aja kan kamu jadi macan gara-gara minum bir." Kataku.


"Maklum bos waktu di sana kan aku sedang patah hati, jadi waktu itu bir nya aku campur obat nyamuk oles." Kata Bams sambil tertawa.


Pertunjukan malam itu di mulai, tampak beberapa wanita berambut panjang dan berpakaian seksi naik ke atas meja dengan tiang di tengahnya.


"Wah mantep." Kata Pay yang melihat itu sambil meminum bir.


"Apaan Pay yang mantep?" Tanyaku.


"Itu Dit, nempel-nempel di tiang besi gitu, persis cicak." Kata Pay.


Tampak Bams sudah mabuk dan menyandarkan kepalanya di atas meja, aku melihat ke arah botol birnya yang baru berkurang sedikit tapi sudah membuatnya mabuk.


Tampak pula tak jauh dari meja kami beberapa pria yang sedari tadi terus melihat ke arah tempat kami duduk, aku tak tahu apa maksud mereka, yang pasti bukan hal yang baik, mungkin saja mereka mau membuat keributan dengan kami.


Pay yang sedang terpengaruh alkohol pun membalas memelototi mereka, membuat para pria itu menatap kami semakin tajam.


"Hoaaaah saatnya joget." Kata Bams yang tersadar lalu menuju pada para penari itu.

__ADS_1


Kelihatannya hanya aku yang sadar di sini, Pay masih saja bertatapan dengan para pria itu, sedangkan Bams ikut berjoget dengan para penari di atas meja.


Kulihat Bams yang terbakar suasana membuka baju yang di kenakannya dan memutarnya di atas kepala, ia memeluk penari seksi di sebelahnya dan Bams mendapatkan ciuman di pipi dari penari itu.


"Gayamu Bams, kalau sampai Reni tau, habis kamu." Kataku bergumam.


"Apa lu...Apa lu...berantem?" Kata Pay pada pria itu dari meja kami.


"Pay sudahlah, jangan membuat keributan di sini." Kataku.


"Nggak bisa Dit, mereka yang duluan melototin kita." Kata Pay mabuk.


Pay mengacungkan jari tengahnya hingga membuat para pria itu terbangun dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri meja kami, aku merasa hal buruk akan segera terjadi.


Mereka semua berjumlah lima orang dan lagi semua berbadan kekar, tampaknya akan terjadi perkelahian yang tak imbang, mengingat kedua temanku tengah mabuk, kuraih botol bir milik Pay yang telah kosong, aku bersiap jika sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi, mereka semakin mendekat ke arah kami.


Kini kelima pria itu tengah berdiri tepat di hadapan kami, sedangkan aku melihat Bams masih saja asik menari, sepertinya dua lawan lima, kataku dalam hati.


Pay berdiri dari tempat duduknya, bersiap memulai perkelahian, baru saja Pay akan melayangkan tinjunya tiba-tiba.


"Hai ganteng, gabung sama kita yuk." Kata salah satu dari mereka tampak genit.


Tiba-tiba saja Bams berteriak pada kami dan melarikan diri dari klub malam itu.


"Bos lari bos....!!!" Katanya sambil berlari dan meninggalkan bajunya.


Sontak saja aku dan Pay ikut berlari dan meninggalkan kelima pria itu di sana, hingga akhirnya kami tiba di tempat kami memarkirkan mobil.


"Ada apa Bams?" Kataku terengah.


"Bos sepertinya kita salah masuk, penari itu..." Katanya dengan terengah juga.


"Kenapa penarinya?" Kataku penasaran.


"Penari itu ada batangnya, mereka semua lelaki." Kata Bams membuat kami terkejut.


Kami terdiam di tempat itu hingga ada sebuah mobil yang mengejutkan kami dengan klaksonnya, aku mengenali mobil itu, ya itu adalah mobil Kak Sinta, tak lama Riri, Rai dan Kak Sinta keluar dari dalam mobil.


"Lho, kok kalian ada di sini?" Tanyaku.

__ADS_1


"Adik bodoh, kamu pikir kami percaya begitu saja kata-kata kalian, kami itu daritadi mengikuti mobil kalian." Kata Kak Sinta.


"Bagus ya Bang Pay, mabuk-mabukan di klub malam, Rai nggak suka." Kata Rai memarahi Pay.


"Ini lagi si Bams, kenapa kamu nggak pakai baju seperti itu, di pipimu juga ada bekas ciuman, aku bilang Reni baru tau rasa kamu." Kata Riri.


"A..Ampun bos, jangan bos." Kata Bams memohon.


"Wah Bang Pay juga pasti genit-genitan deh sama cewek di dalam sana, kamu juga A aku bilang Ibu ya kamu mabuk-mabukan." Kata Rai marah.


"Abang nggak sama cewek Neng." Kata Pay.


"A Adit juga nggak mabuk kok." Ucapku.


"Tenang ladies, jangan pada cemburu dulu, memangnya kalian nggak tau itu klub apa?" Tanya Kak Sinta.


"Memang klub apa Kak?" Tanya Riri.


"Itu kan klub khusus pria penyuka sesama hahaha." Kak Sinta menertawai kami.


Riri dan Rai yang sedari tadi memarahi kami pun kemudian ikut menertawai kami bertiga karena nyatanya kami salah masuk ke klub itu, dan tentu saja ini salah Bams yang tak mencari tahu terlebih dahulu klub malam apa yang kami datangi.


Sesampainya di rumah kami semua berkumpul di teras dan melanjutkan perbincangan kami.


"Ini semua ide kamu ya sayang?" Tanya Riri.


"Bukan, ini idenya Bambang dan Pay." Jawabku.


"Kok bawa-bawa gw sih Dit, ini murni idenya si Bambang sendiri." Sahut Pay.


"Alah, udah ketangkep basah aja nggak mau ngaku." Kata Rai.


"Bener kok Neng, Abang nggak tau apa-apa." Kata Pay lagi.


"Adit kok gitu sih, sebentar lagi kan kita nikah, malah ngerencanain pesta sama cewek-cewek, untung aja salah masuk klub, kalo nggak pasti Adit udah genit-genitan sama cewek lain deh." Ucap Riri sambil cemberut.


"Sayang, emangnya kamu belum percaya sama aku? Seandainya pun tadi para wanita betulan yang ada di sana aku nggak akan tergoda kok, aku pergi karena merasa tak enak pada dua sahabatku ini." Kataku sambil mengelus rambut Riri.


"Iya Riri percaya, jangan di ulangi ya sayang." Kata Riri memelukku.

__ADS_1


"Haciiim." Terdengar suara Bams yang sepertinya masuk angin karena tak memakai baju.


__ADS_2