Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Kalibiru


__ADS_3

"Lu sama Rai? maksudnya apa sih Pay, gw nggak ngerti." Ucapku.


"Ah nggak kok, gw cuma asal ngomong aja, ya udah lupakan, gw cape mau tidur." Kata Pay sambil menarik selimutnya.


Aku terdiam, masih tak mengerti maksud perkataannya, apa mungkin maksudnya adalah bila mereka suatu saat berpacaran, pikirku.


"Kalau gw sih gimana adik gw aja, dia atau pacarnya nanti nggak usah minta izin sama gw, asalkan adik gw bahagia dan pacarnya tak membuatnya kecewa itu udah cukup buat gw, siapapun orangnya."


Mendengar perkataanku itu Pay yang semula menutupi tubuhnya dengan selimut terbangun dan berjalan ke luar kamar.


"Yeaaaaaaaaaaaaaah." Terdengar teriakannya dari luar dan entah kemana dia pergi setelah itu.


Pagi itu setelah sarapan di hotel kami berkumpul karena hari ini kami semua akan berangkat ke tempat wisata Kalibiru.


Hari ini terasa begitu tenang karena tak ada bentrokan dua rival yang selama ini terjadi, karena memang sebelumnya mereka telah melakukan gencatan senjata.



"Wah indah banget ya tempatnya, sejuk." Ucap Riri ketika sampai di sana.


"Iya Kak indah, tapi jalan masuknya nanjak gini, Rai nggak kuat, Kakak sama Ibu sih enak di gandeng A Adit." Ucap Rai yang kelelahan.


Tiba-tiba ada dua orang yang mengulurkan tangannya untuk Rai, ya siapa lagi kalau bukan Pay dan Bams.


Tapi anehnya Rai hanya menerima uluran tangan Pay, itu membuat Bams tampak kecewa, tapi tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, mungkin memang karena gencatan senjata itu.


Kami menanjak menuju tempat wisata Kalibiru itu, suasana perbukitan indah nan sejuk menyambut kami, banyak spot foto menarik dengan latar belakang pepohonan yang membentang hijau, tak kalah menarik dengan danau biru yang berada di tengahnya.


Aku dan Riri naik ke salah satu pohon yang memang sengaja di buat untuk mengambil foto, dengan pijakan lantai kayu di bawahnya.


Tampak di spot foto lain yang tak jauh dari kami Pay, Rai bersama Tiwi berfoto bersama, dengan Bams yang memperhatikan mereka dari bawah.


Bams melangkah pergi dengan kepalanya yang tertunduk menjauh dari mereka, melihat itu aku meminta Riri untuk menemani Ibu bersama Reni, kemudian aku mengejar Bams.


"Bams, sudahlah, ayo gabung sama kami." Ucapku sambil menepuk bahunya dari belakang.


"B..Bos." Dia menoleh dengan mata berkaca-kaca.


Akhirnya Bams ikut bergabung bersamaku, Riri, Ibu dan juga Reni. Kami pun mengelilingi tempat wisata yang indah itu.


"Eh lihat deh di sana, itu Bi Eha sama Pak Iwan mesra banget, udah kayak anak muda aja hahaha." Ucap Reni.


"Ya memang aku sengaja ajak mereka sebagai hadiah Ren, dari awal nikah kan mereka belum sempat untuk bulan madu." Jawab Riri.


"Sepupuku ini emang yang terbaik ya." Puji Reni.


"Nak Bams kenapa? Kok nggak bersemangat seperti itu." Kata Ibu ketika melihat Bams yang tertunduk lesu.


"Nggak apa-apa Bu." Jawabnya singkat tak seperti Bams yang biasanya.


"Sudah Bams nggak usah di pikirin, masa waktu liburan buat senang-senang kamu sendiri sedih sih." Aku mencoba menghiburnya.

__ADS_1


"Iya Bos, saya senang kok." Katanya dengan senyum getir.


Siang hari pun tiba, dan ini adalah waktunya bagi kami pergi dari sana dan mencari tempat untuk makan siang.


"Eh teman-teman aku tadi lihat di gugel ada tempat makan asik lho, tempatnya itu viewnya langsung ke perbukitan, mau coba nggak." Ucap Reni.


"Wah dimana tuh Kak? Pasti tempatnya romantis." Ucap Rai seraya saling berpandangan dengan Pay.


"Namanya Bukit Indah resto." Jawab Reni.


"Wah namanya saja pasti mewakili tempatnya, ayo kita kesana." Ucap Riri.


Kami menuju ke tempat yang di sebutkan Reni, benar saja, sesampainya di sana kami di suguhkan oleh sebuah restoran yang menyuguhkan pemandangan alam yang sangat indah, membuat kami tertegun memandanginya.


"Wah, ini sih makin lahap makannya." Ucapku.


"Karena ada aku ya sayang?" Tanya Riri.


"Ya nggak dong, karena pemandangannya indah." Jawabku.


"Eh Bu, lihat deh di sana, bukitnya indah ya." Ucap Riri mengalihkan perhatian setelah mendengar jawabanku.


Setelah makan siang tujuan kami selanjutnya adalah pasar Beringharjo, kami ke sana karena hendak berbelanja Batik yang konon di pasar tersebut kita bisa mendapatkan Batik dengan harga yang cukup terjangkau.


"Eh Bang Pay yang ini kayaknya bagus deh buat kamu." Ucap Rai sambil menunjukan baju batik untuk Pay.


"Jelek." Kata Bams yang kebetulan lewat di depan mereka.


"Bang Bams cembulu hihi." Ucap Tiwi dengan kepolosannya.


Sepertinya suasana di antara ketiganya sudah mulai memanas, aku sendiri pun tak tahu kenapa Rai dan Pay bisa menjadi sedekat ini, entah sejak kapan.


Kami berburu Batik di pasar itu, hingga tak terasa sore hari pun telah menjelang dan itu menandakan kami harus segera pulang.


"Wow, pacar aku kayaknya mau jualan Batik di Jakarta." Kataku ketika melihat barang belanjaan Riri.


"Enggak lah sayang, ini kan bukan punya aku aja, ada punya kamu, Ibu, Rai, Papah, Mbok Yem, Ibu dan anak-anak Panti." Jawab Riri.


"Makasih bos Riri karena selalu perduli sama Ibu dan adik-adik aku, ngomong-ngomong buat aku ada nggak bos?" Tanya Bams dengan wajah datar.


"Lho memangnya kamu nggak belanja Bams?" Tanya Riri.


"Nggak nafsu bos, aku cuma beli kolor batik aja satu." Kata Bams masih dengan nada datar.


"Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar ya aku beli buat kamu juga."


"Nggak usah bos, dari dulu memang beginilah cinta, deritanya tiada akhir." Katanya melantur.


Sesampainya di hotel kami makan malam bersama dan setelahnya Riri mengajakku untuk jalan-jalan di Malioboro.


Pulang ke kotamu

__ADS_1


Ada setangkup haru dalam rindu


Masih seperti dulu


Tiap sudut menyapaku bersahabat


Penuh selaksa makna


Terhanyut aku akan nostalgi


Saat kita sering luangkan waktu


Nikmati bersama


Suasana Jogja


(Yogyakarta by KLA Project)


Tampak sekumpulan musisi jalanan menyanyikan salah satu lagu dari KLA Project dan menghentikan langkah kami untuk menyaksikannya.


"Romantis." Ucap Riri.


"ROkok MAkaN graTIS maksud kamu." Kataku menggodanya.


"Apaan sih kamu? itu lho nyanyian mereka bikin suasana makin romantis."


"Oh iya Ri hasil kita ngamen di Rest Area kan masih ada, aku kasih ke mereka ya."


Kami pun memberikan hasil mengamen kami kepada para musisi jalanan itu, ketika hendak meninggalkan mereka kami mendengar sebuah suara nyanyian sumbang yang sepertinya kami kenal.


Sopo sing kuat nandhang kahanan


Sopo seng ora kroso kelangan


Ditinggal pas sayang sayange


Pas lagi jeru jerune, koe milih dalan liyane


Sopo sing kuat ditinggal lungo


Sopo sing atine ora loro


Kenangan sing wis tak lakoni


Tak simpen ning njero ati


Dewe wes ra dadi siji


(Dalan liyane by Hendra Kumbara)


Kami pun berbalik melihat si penyanyi tersebut.

__ADS_1


"Baaaaaaaaams." Ucap kami secara bersamaan.


__ADS_2