Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Pencuri latah


__ADS_3

Keesokan paginya karena sudah janjian denganku Riri datang sabtu pagi itu.


"Ayo Dit katanya mau ke toko musik." Kata Riri pagi itu.


"Iya memang mau ke toko musik tapi nggak jam tujuh pagi juga sayang, kayaknya penjaga toko musiknya juga masih tidur."


"Hehehe iya maaf, abisnya kamu kan nggak bilang kita berangkat jam berapa."


"Nanti ya jam 10 kita berangkat, karena kamu sudah disini sekarang kita sarapan bareng aja."


Kamipun sarapan bersama pagi itu lalu beranjak ke toko musik yang biasa aku datangi ketika mengamen dulu.


"Eh Adit mamen kemana aja dirimu nggak pernah keliatan." Sambut sang pemilik toko itu.


"Om ada gitar yang sama seperti punyaku dulu nggak?"


"Oh type lama seperti itu sudah nggak keluar mamen, nih kukasih kau type terbaru dengan merk yang sama." Katanya sambil memberikan sebuah gitar untuk kucoba.


"Wah bagus nih om suaranya jernih berapa harganya." Kataku setelah mencobanya.


"Yang type itu harganya Rp 1.500.000 mamen."


"Wah lumayan juga ya om tapi bolehlah bungkus, aku suka soalnya."


"Kamu ada uangnya sayang? Biar aku aja yang bayar." Kata Riri.


"Nggak usah Ri, ada kok, gini-gini kan aku rajin nabung tau, kan buat nanti ngelamar kamu."


Riri tersenyum mendengar perkataanku.


"Ini mamen gitar nya sudah siap bonus tas dan tali strap nya juga."


"Iya om ini uangnya."


"Mamen selera kau boleh juga, beautiful." Kata penjaga toko itu sambil berbisik kepadaku.


"Selera apa om? Selera milih gitar maksudnya."


"Bukan kawan, selera memilih calon istri maksud aku bah."


"Hahahaha si om bisa aja, ya sudah om makasih ya aku pulang dulu."


Setelah mendapat gitar yang kami cari kamipun kembali pulang kerumah.


"Dit, memang nya beli gitar buat apa sih." Tanya Riri.


"Buat di makan, ya buat dimainin lah."


"Mulai deh songongnya, kamu kangen ya main gitar."


"Iya nih Ri, eh besok kita ngamen yuk itung-itung mengenang masa lalu."


"Serius kamu Dit? Ayo Riri mau banget..Eh ngomong-ngomong malam minggu ini kita mau jalan kemana?"


"Gak kemana-mana paling mau bayar utang aja."


"Bayar utang? Adit punya utang sama siapa emangnya?"

__ADS_1


"Sama kamu, kamu inget nggak pertama kita ketemu dulu kamu kan kasih aku uang seratus ribu dan aku bilang aku akan bayar pake lagu."


"Oh iya Riri inget yang kamu bilang kalau biasanya orang kasih 2000 untuk satu lagu maka kamu punya hutang 49 lagu lagi buat aku, iya kan?"


Malam itupun kami hanya menghabiskan waktu dirumah saja ditemani gitar dan alunan lagu cinta yang khusus kupersembahkan untuknya.


"Udah ya lunas."


"Iya Dit, kayaknya Riri mabuk nih."


"Mabuk apa kamu."


"Mabuk cinta karena dengar suara kamu."


Akhirnya Riri pun pamit untuk pulang karena hari sudah sangat larut.


Tengah malam itu saat tertidur pulas aku terbangun karena dikagetkan oleh suara benda terjatuh dan suara seorang pria.


"Ayam..Ayam..Ayam."


Sontak aku terbangun mendengar suara itu dan menyalakan lampu kamar, kulihat gitarku terjatuh dari posisinya dan disebelahnya berdiri seorang pria berpakaian serba hitam dengan menggunakan topeng, hanya terlihat rambutnya yang keriting seperti bentuk jamur.


Kami terdiam satu sama lain dan saling berpandangan, mungkin karena baru terbangun dari tidur aku masih samar dengan situasi ini hingga akhirnya aku tersadar.


"Kamu pencuri ya?"


"Bukan mas mau nganter paket." Katanya sambil berlari keluar kamarku.


Karena melihat dia berlari akupun mengejar dan meneriakinya.


"Maling...Maling." Aku berteriak sambil terus mengejarnya.


Ketika dia hendak memanjat pagar akupun berhasil menyusulnya dan menarik kakinya hingga membuat dia terjatuh lalu kemudian membuka topeng yang dikenakannya.


"Mbok Yem bangun mbok ada maling cepat telpon polisi."


Mbok Yem pun terbangun karena mendengar teriakan ku lalu menghubungi polisi.


Tapi tanpa kuduga pencuri itu malah bersujud di kakiku dan memohon untuk dilepaskan.


"Mas maaf mas saya terpaksa." Kata pencuri itu.


"Dasar pencuri kalau sudah ketangkep ada aja alasannya."


"Sungguh mas saya melakukan ini untuk beli obat adik saya." Katanya terus memohon.


"Jangan bohong kamu pencuri, kamu harus tetap mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu."


Lalu pencuri itu membuka dompetnya dan menunjukan foto seorang gadis kecil.


"Ini adik saya mas, saya terpaksa menjadi pencuri karena tak punya pekerjaan."


Akupun terdiam sejenak memandangi foto gadis kecil itu karena membuatku teringat pada adikku Rai, karena dulu sewaktu aku SMP dan saat Rai masih kecil akupun pernah hampir mencuri saat Rai sakit dan membutuhkan uang untuk membeli obat.


Saat aku tertangkap oleh pemilik rumah dan menceritakan kondisi keluargaku dia malah membebaskanku dan memberikanku uang lalu menyuruhku untuk kembali lagi pada esok paginya.


Ternyata pemilik rumah tersebut adalah seorang seniman, dia yang mengajariku bermain gitar dan bernyanyi, gitar yang sebelumnya kupakai pun adalah pemberian darinya, setiap pulang sekolah aku selalu kerumahnya hingga akhirnya aku mahir bermain gitar.

__ADS_1


Hidup boleh susah tapi jangan sesekali kamu mencuri, itu kata-kata dari beliau yang hingga kini melekat di hatiku, dari situlah aku menggunakan keahlianku untuk mencari uang dengan mengamen.


3 bulan setelah itu seperti biasa aku menuju rumahnya tapi ternyata bapak dan keluarganya telah pindah rumah, tanpa sempat aku mengucapkan terimakasih, karena jika bukan karenanya aku pasti sudah menjadi seorang pencuri sampai sekarang.


"Adikmu sakit apa?" Kataku sambil membantunya berdiri dari kakikku.


"Ginjal mas harus sebulan sekali cuci darah."


Akupun lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Kamu sudah makan?"


"Bel..Belum mas." Katanya terbata.


"Ya sudah kamu makan dulu kebetulan masih ada lauk, mbok tolong ambilkan piring ya."


Lalu pencuri itupun makan dengan lahapnya dan memperkenalkan diri.


"Makasih mas, nama saya Paijo tapi mas bisa panggil saya Pay."


"Gw Adit nggak usah panggil mas panggil nama aja lagian nggak usah terlalu formal gw juga berasal dari jalanan kok."


"Iya Dit, maaf sebelumnya gw terpaksa mencuri karena adik gw yang sakit keras."


"Emangnya lu nggak pernah coba melamar pekerjaan."


"Dulu gw pernah kerja sebagai sopir di salah satu perusahaan tapi karena bangkrut gw pun kena PHK setelahnya gw melamar kesana-kemari tapi nggak pernah dapat, semua pekerjaan serabutan pun pernah gw jalani tapi uangnya nggak pernah cukup untuk berobat."


"Jadi karena itu lu jadi pencuri?"


Pay hanya mengangguk menjawab pertanyaan dariku.


"Hidup boleh susah tapi itu bukan alasan buat lu mencuri." Ucapku mengutip kata-kata penyelamatku.


Pay terdiam dan merenung mendengar kata-kataku, hingga akhirnya terdengar suara bel rumah berbunyi.


Setelah kubuka ternyata itu adalah polisi yang sebelumnya ditelpon oleh mbok Yem.


"Malam pak tadi kami menerima kabar bahwa di rumah ini ada pencuri." Kata salah seorang polisi itu.


Akupun menoleh kearah Pay, tampak raut muka ketakutan di wajahnya.


"Maaf pak sepertinya ini hanya kesalahpahaman saja,kukira tadi pencuri yang masuk ke rumahku ternyata itu adalah temanku yang masuk dengan cara memanjat pagar karena aku tidak mendengar suara bel."


Setelah mendengar penjelasanku yang disertai permohonan maaf mobil patroli itupun kemudian meninggalkan rumah.


"Wah Dit gw sangat berhutang budi sama lu kalau begitu gw pamit pulang ya kasihan adik gw sendirian di kontrakan." Kata Pay yang hendak pulang.


Belum juga dia keluar gerbang pintu rumahku aku lalu memanggilnya kembali.


"Pay tunggu."


"Eh ayam..Ayam..Ayam, kaget gw, sorry Dit gw punya penyakit latah."


"Hahahaha ternyata lu latahan ya, ini Pay untuk tambahan berobat adik lu, nggak besar tapi mudah-mudahan bisa ngebantu." Kataku sambil memberikan amplop berisi uang kepadanya.


"Makasih Dit, lu baik banget, seperti nama gw Pay gw pasti akan membayar semua kebaikan lu."

__ADS_1


Lalu Pay pun beranjak pergi dari rumahku.


__ADS_2