Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Promosi


__ADS_3

Sore itu aku ikut kerumah Sinta untuk mengemasi barang-barangnya, atas izin Riri tentunya.


"Sin sudah semua, ada lagi yang perlu dikemas?"


"Sudah Dit, makasih ya kamu mau bantu aku, kamu emang sahabat yang baik."


"Oh iya Sin nanti di sana kamu ada kerjaan lain atau gimana?"


"Aku Rencananya mau buka usaha Dit disana, cafe kecil-kecilan."


"Wah keren, sukses ya Sin."


"Nanti kamu sama Riri kalau ada waktu main ke cafeku ya."


"Memangnya kampung halamanmu dimana sih Sin?"


"Bandung."


"Bandung Sin, serius kamu?"


"Serius lah Adit masa aku bohong."


Memang selama aku kenal dengannya aku sama sekali belum pernah menanyakan dimana kampung halamannya, ternyata di kota yang sama dengan kota kelahiranku.


"Hahahaha kalau gitu mah aku mampir kalau pulang ke Bandung nanti, aku kira kampung halamanmu dimana, oh iya rencananya kamu buka cafe di daerah mana."


"Kalau itu aku belum tau Dit, kan baru rencana."


"Lalu rumahmu ini gimana Sin, dijual?"


"Lho kok dijual sih Adit, emang kamu nggak tau kalo ini inventaris kantor, rumah ini kan punya calon mertua kamu." Katanya sambil tertawa.


"Oh gitu, aku nggak tau abisnya kamu nggak pernah cerita."


"Kayaknya barang-barang ku sudah selesai dikemas dan dimasukan kedalam mobil semua, aku pamit ya Dit." Kata Sinta dengan muka sedih.


Akupun mengulurkan tanganku sebagai salam perpisahan padanya, tapi Sinta kemudian malah memelukku.


"Adit seandainya nanti kamu tidak berjodoh dengan Riri, aku masih nunggu kamu lho."


"Jadi kamu doain aku nggak jodoh sama Riri nih?"


"Hehe bercanda kok Dit, nanti undang aku ya kalau kalian nikah."


Sinta pun melepaskan pelukan nya dan kemudian menuju ke mobil, tapi sebelum masuk kedalam mobil dia menghentikan langkahnya.


"Oh iya Dit hampir lupa, kemarin ketika aku mengundurkan diri aku merekomendasikan kamu pada pak Direktur sebagai penggantiku lho, dan sepertinya dia setuju, kamu kerja yang bener ya jangan bikin malu aku."

__ADS_1


Tak lama Sinta pun pergi dari rumah itu dan meninggalkan aku sendiri, satu sahabat lagi pergi meninggalkan aku.


"Terimakasih Sin untuk semua pelajaran berharga yang kamu berikan padaku selama ini, kamu wanita hebat, mudah-mudahan suatu saat kita bisa bertemu lagi."


Lalu akupun pergi dari rumah itu dan pulang ke kontrakanku.


Sesampainya di kontrakan aku mengabari Riri dan kemudian Riri pun menelponku.


"Sudah selesai Dit bantu kak Sinta nya?"


"Sudah Ri, ini sudah dikontrakan lagi istirahat."


"Maaf ya aku nggak bisa bantu tadi, jadwal kuliah lagi padet soalnya, eh aku kesitu sekarang ya."


Tak lama Riri tiba di kontrakanku karena memang jarak kampusnya tak jauh dari sini.


"Mandi dulu gih bau keringat." Ucap Riri ketika baru datang.


"Apaan sih anak ini baru dateng langsung nyuruh orang mandi."


"Hehehehe oh iya Dit besok papa pulang dari Perancis, katanya dia mau ketemu kamu, ada hal penting yang mau dibicarakan katanya."


"Masalah penting apa? Wah jangan-jangan aku disuruh cepet nikahin kamu."


"Iiiih Adit mauuuuu." Kata Riri Manja.


Tak terasa malam haripun tiba dan Riri masih berada di kontrakanku.


"Dit makan pecel lele di depan yuk, aku laper."


"Wah kayaknya tuan Puteri ketagihan sama pecel lele nih."


"Abisnya kalau sama kamu makan apa aja jadi enak sih."


Kamipun makan malam bersama dan setelah itu Riri pamit untuk pulang.


Keesokan harinya setelah selesai bekerja aku menuju rumah Riri karena om Suryo mau membicarakan sesuatu yang penting denganku sambil kami makan malam bersama.


Sesampainya dirumah Riri beliau menyambutku dan mengajak ku berbincang sebelum makan malam.


"Nak, Sinta sudah bicara sama kamu?"


"Tentang apa om?"


"Tentang dia yang mempromosikan kamu sebagai penggantinya."


"Sudah om, memang Sinta bilang apa?"

__ADS_1


"Dia bilang kinerja kamu selama satu tahun lebih ini sangat bagus dan katanya kamu sudah siap untuk memimpin di bagian HRD."


"Wah nggak juga om, Adit masih terus belajar sama Sinta selama ini."


"Kamu mau jika om pilih sebagai penggantinya? Karena jika Sinta yang merekomendasikan kamu langsung tentu semua yang dikatakannya itu benar, karena Sinta adalah salah satu orang kepercayaan om."


"Jika om berkenan maka Adit akan berusaha semaksimal mungkin tidak akan mengecewakan om."


"Bagus kalau begitu, mulai besok kamu akan mulai bekerja sebagai kepala HRD, dan juga besok kamu mulai pindah ke rumah yang sebelumnya ditempati oleh Sinta."


Setelah perbincangan selesai kamipun kemudian makan malam bersama.


"Cieee pak kepala HRD." Kata Riri menggodaku.


"Riri jangan menggoda Adit seperti itu ayo lanjutkan makannya." Kata papa Riri memarahinya.


"Iya pah maaf abisnya Riri seneng banget akhirnya pacar Riri naik jabatan."


Setelah selesai makan malam akupun pamit pulang untuk mengemasi barang-barangku karena besok pagi aku sudah mulai pindah ke rumah baru, tapi sebelum itu aku mengabari Ibu dan Rai tentang kabar gembira ini.


"Yang benar Dit? Ya Tuhan akhirnya semua doa Ibu selama ini dikabulkan." Ucap Ibu terdengar gembira.


"Iya bu, mulai besok Adit juga sudah mulai pindah rumah."


"Calon mertua kamu memang baik Dit, Ibu tidak sabar untuk bertemu dengannya."


"Beliau pulang ke Indonesia hanya untuk mengabari Adit berita ini lho bu, karena besok dia berangkat lagi mengurusi bisnisnya."


"Kalau begitu sampaikan rasa terimakasih Ibu pada Riri dan Papanya."


"Oh iya bu, Ibu dan Rai nggak pindah aja ke Jakarta? Rumah yang akan Adit tempati itu lumayan besar lho Bu, rasanya sepi jika Adit tinggal sendirian disana."


"Tanggung nak, satu tahun lagi kan Rai lulus SMA, ibuu mau Rai selesaikan dulu sekolahnya disini."


"Ya sudah kalau begitu bu, selepas Rai lulus SMA kalian pindah ya kesini, aku mau Rai melanjutkan kuliah disini bu, Rai harus berpendidikan tinggi, jangan seperti kakaknya ini."


"Iya nak, lagipula kan 1 tahun lagi juga Riri lulus kuliah, rencana kalian kan tunangan setelah Riri lulus, pasti ibu kesana untuk mendampingimu."


"Riri pasti seneng banget kalau kalian pindah kesini."


"Ibu juga sudah kangen sama calon menantu ibu itu, jangan lupa lho sampaikan rasa terimakasih ibu sama dia."


"Iya Ibu sayang."


Telpon pun berakhir, selesai mengemas semua barang akupun duduk di teras kontrakan untuk mencari udara segar dan menoleh ke kontrakan sebelah yang dahulu di huni oleh sahabatku Udin.


"Andai lu masih disini Din, lu pasti seneng denger kabar ini, dan lu pasti gw minta untuk ikut tinggal sama gw dirumah itu, tenang disana ya sahabat."

__ADS_1


Malam itupun berakhir dengan rasa rindu pada sahabat yang telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.


__ADS_2