
Pagi itu di makam sahabatku kami semua mengirimkan doa untuknya, hingga tiba saatnya sebelum kami pulang Rai masih bersimpuh di depan makam itu.
Bang Udin maaf Rai baru sempat kesini.
Bang Udin yang tenang ya disana, maaf jika dulu di Bandung Rai punya salah dan buat Bang Udin kecewa...
Waktu itu bukannya Rai bermaksud untuk menyakiti hatimu, tapi memang sampai saat ini Rai belum bisa membuka hati Rai untuk siapapun, karena Rai memang nggak mau berhubungan dengan laki-laki manapun sebelum Rai bisa membahagiakan Ibu.
Hingga saat itu Rai dapat kabar bahwa abang sudah nggak ada..Rai menyesal.
Seandainya waktu itu Rai bilang bahwa Rai juga suka sama abang, mungkin saat ini Rai nggak akan sesakit ini.
Abang yang tenang ya disana..Rai sayang abang.
Tampak terlihat air mata adikku terjatuh dipemakaman itu, aku memeluk dan mengusap pundaknya untuk menenangkannya, tak lama tangis Rai pecah di pelukanku, aku selama ini memang tidak mengetahui jika ternyata adikku Rai juga memendam perasaan yang sama dengan sahabatku Udin.
Kamipun beranjak menuju rumah dan setibanya disana Pay dan Bams sudah menunggu kedatangan kami.
"Wadidaw cantik." Ujar Pay ketika melihat Rai turun dari mobil.
"Wah adik bos Adit sungguh luar biasa." Sahut Bams sambil merangkul Pay.
Kemudian mereka berdua berebut untuk berkenalan dengan adikku, tapi uluran tangan mereka aku yang menerimanya.
"Namanya Rai sekarang kelas 3 SMA, udah kenal kan." Kataku sambil menjabat tangan mereka.
Setelah itu mereka berdua berebut lagi untuk membawakan barang bawaan Rai dan menaruhnya dikamar.
"Apa lagi sih dua orang ini, ya udah salah satu aja yang bawa barangnya ke kamar atas, Pay lu yang bawa." Ucapku membuat Bams tampak kecewa.
Aku dan Pay mengantar Rai sampai ke kamar, lalu menyuruhnya beristirahat karena pasti dia lelah dalam perjalanan tadi.
"De ini kamar kamu, sekarang istirahat dulu ya kamu pasti lelah."
"Wah besar banget A kamarnya, kalau begitu aku istirahat dulu ya." Ucap Rai.
"Kalau butuh apa-apa panggil abang aja neng." Ucap Pay.
Setelah itu aku dan Pay turun ke lantai bawah, di lantai itu tampak Riri sedang bermain bersama Tiwi sedang Bams menghampiri kami yang baru turun dari lantai atas.
__ADS_1
"Lho Rai nya mana bos?" Tanya Bams.
"Ngapain lu nanya-nanya." Timpal Pay.
"Sorry jamur, gw nggak ngomong sama lu, talk to my hand." Balas Bams sambil mengangkat sebelah tangannya ke wajah Pay.
"Rai lagi istirahat Bams, memangnya ada apa?" Jawabku.
"Ah nggak ada apa-apa kok, mau kenal lebih deket aja." Ucap Bams kepadaku.
"Jangan deket-deket ntar rambut klimis lu bikin silau mata neng Rai." Ucap Pay.
"Udah deh, emangnya kalian nggak bisa akur sedikit apa." Kataku menengahi mereka.
Kemudian Riri yang sedari tadi bermain dengan Tiwi lalu menghampiri kami bertiga.
"Hai para cowok besok jangan lupa ya pagi-pagi kita kumpul disini untuk mempersiapkan semua keperluan lomba."
"Ok tuan putri, eh ngomong-ngomong kamu sudah bilang sama ibu panti belum Bams?" Tanyaku.
"Sudah beres bos, besok pagi ibu dan anak-anak panti nunggu kita di sana." Jawab Bams.
Keesokan paginya semua orang sudah berkumpul dirumah kecuali Bams yang memang menunggu kami di panti asuhan.
"Sudah semua kan? kalau begitu ayo kita berangkat ke panti asuhan." Ucapku.
Lalu aku, Tiwi dan Rai pergi menggunakan mobil Riri, sedang Wahyu dan Pay menumpang pada mobil Reni.
Tak lama kemudian sampailah kami di panti asuhan tempat tinggal Bams, ternyata jaraknya tidak begitu jauh karena tepat berada di belakang komplek perumahaan itu.
Ketika baru tiba tampak Bams berdiri disana bersama Seorang ibu dan sekumpulan anak-anak kecil.
"Hai Bams, sorry ya lama soalnya nunggu si Reni nih agak telat datangnya." Ujarku.
"Nggak apa-apa bos, oh iya kenalkan ini Bu Daryati, beliau adalah ibu sekaligus pemilik panti asuhan ini, dan ini adalah adik-adik aku jumlahnya ada 20 orang." Kata Bams mengenalkan kami pada penghuni panti asuhan itu.
Kami semua lalu berkenalan dengan para penghuni panti, para wanita pun langsung menghampiri anak-anak kecil itu.
"Kakak, kak Rai yang mana? Kata Kak Bams kak Rai adalah pacarnya." Kata salah satu anak.
__ADS_1
Mendengar kata-kata itu kami semua lalu mengarahkan pandangan ke wajah Rai, tampak wajah Rai cemberut dan menatap kearah Bams.
"Oh iya kakak-kakak ini anak buahnya Kak Bams kan? Soalnya kata kakak sekarang dia sudah bekerja sebagai bos." Kata anak itu lagi.
Kami semua yang tadi memandang Rai pun seketika mengubah arah pandangan kami kepada Bams, tampak Bams menunduk dan menggaruk bagian belakang kepalanya, lagi-lagi Bams beraksi dengan bualannya.
"Maaf ya nak, Bambang memang seperti itu, tapi aslinya dia adalah anak yang baik." Kata ibu panti kepada kami.
"Nggak apa-apa bu, kami semua sudah mengerti kok." Jawabku.
"Dan terima kasih ya untuk kalian semua karena sudah perduli pada anak-anak ini, kalian memang pemuda-pemudi yang baik." lanjut ibu panti.
Tak lama Riri, Pay dan Reni pamit untuk membeli barang sebagai hadiah perlombaan sedangkan Aku ditemani Bams, Rai dan Wahyu menghias dan menyiapkan tempat perlombaan di halaman panti yang cukup luas itu, sedang Tiwi bermain dengan para anak-anak panti asuhan tersebut.
Saat itu Rai dan Bams bertugas untuk memasang bendera-bendera kecil sebagai dekorasi lomba, bukannya membantu Rai yang sedang sibuk memasang bendera dia malah terus memandangi wajah Rai yang tepat berada di sebelahnya.
"Ehem..Ehem." Kataku mencoba menyadarkan Bams dari lamunannya.
"Eh, maaf bos." Ujar Bams yang terkejut karena mendengar suaraku.
Aku dan Wahyu bertugas untuk menyiapkan peralatan lomba, karena lomba yang akan kami adakan memang lumayan banyak, seperti lomba makan kerupuk, balap karung ,membawa kelereng dengan sendok dan beberapa lomba lainnya.
Sore harinya semua persiapan lomba telah selesai kami siapkan, lalu beberepa menit kemudian Riri pun menelponku.
"Sayang sudah selesai belum disana?" Ucap Riri.
"Sudah Ri, ada apa?"
"Aku sudah selesai juga nih belanjanya dan sekarang mau menuju kerumah kamu."
"Lho kok kerumah sih Ri bukan kesini? Kan enak kalau disini banyak yang bantu untuk bungkus hadiahnya."
"Kalau bungkus disana nanti ketahuan dong sama anak-anak isi hadiahnya apa, kan jadi nggak surprise."
"Bener juga kamu, tumben pacarku pinter." kataku menggodanya.
"Iiiih jahat banget sih, Riri ini kan bukan cantik aja tapi pinter plus rajin menabung juga." Jawabnya.
"Ok 5 menit lagi aku kesana, kalau begitu aku mau pamit dulu sama ibu panti dan anak-anak ya."
__ADS_1
Setelah menutup telpon kamipun pamit kepada para penghuni panti, setelah di dalam mobil aku merasa ada seseorang yang memperhatikan kami dari balik pohon besar yang ada di sebrang panti itu, aku pikir mungkin itu hanya perasaanku saja lalu melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah.